Berkat Tari, Jepang Beri Moertiyah Award

Berkat Tari, Jepang Beri Moertiyah Award

448
GKR Wandansari Koes Moertiyah
GKR Wandansari Koes Moertiyah

Dari upaya melestarikan tarian klasik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, GKR Wandansari Koes Moertiyah (Gusti Moeng) menerima penghargaan dari Yayasan Yakotopia, Kota Fukuoka, Jepang.
Penghargaan diberikan 13 September 2012 lalu. Untuk orang Indonesia, Moertiyah merupakan orang yang kelima yang mendapatkan penghargaan bergengsi itu. Orang Indonesia pertama yang dapat adalah Taufik Abdullah(akademisi) pada tahun 1991.
Orang kedua, Kuncoroningrat (antropolog) tahun 1995. Selanjutnya, orang ketiga, Raden Mas Sudarsono (seniman dan ahli sejarah-sastra) pada tahun 1998. Kemudian orang keempat adalah Pramoedya Ananta Toer (penulis) pada tahun 2000. Baru tahun ini, GKR Wandasari Koes Moertiyah (seni tari) menerima award itu.
”Senang bisa dapat penghargaan dari Jepang. Ini menandakan, jika negara lain sangat terkagum-kagum dengan budaya keraton yang sampai sekarang masih tetap ada,” katanya, Rabu (26/9).
Baginya, sebagai orang keraton, sudah sepantasnya melestarikan dan mempertahankan budaya keraton. Dia bertekad untuk terus mempromosikan budaya keraton agar dikenal dan dipelajari masyarakat umum.
”Saat saya di sana (Jepang), saya menampilkan tarian keraton. Banyak yang tertarik dan ada juga yang ingin mempelajarinya. Tidak hanya menampilkan tari saja, tapi juga mengenalkan dan mempromosikan budaya keraton,” ujar Pegangeng Sasana Wilapa Keraton Surakarta itu.
Sementara itu, Penganggeng Museum dan Pariwisata III Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KRMH Satriyo Hadinagoro, mengatakan, penghargaan yang diterima Gusti Moeng itu, sekaligus untuk mengenalkan keraton dan Kota Solo.
”Kami cukup bangga atas prestasi yang didapat Gusti Moeng. Dia berhak menerimanya. Ini menandakan jika negara lain juga tertarik dengan budaya Indonesia khususnya Solo,” ucapnya. Baginya, Gusti Moeng merupakan sosok yang tegas. Karena, tidak ingin tradisi para leluhurnya punah.
Menurutnya, yayasan dari Jepang itu butuh satu tahun untuk mencari orang yang berhak menerima penghargaan. Yayasan itu mencari tahu sejumlah tokoh dari berbagai bidang, sebelum memilih Gusti Moeng. ”Bersamaan dengan Gusti Moeng ada tiga orang dari negara yaitu India (filosofi), Filipina (film), dan Thailand (seni dan budaya),” imbuh dia.

Baca Juga :  Wisata Sejarah Keraton Kasunanan Buka Saat Lebaran

Ari Welianto

BAGIKAN