KARANGANYAR—Rusaknya sejumlah batu peninggalan zaman Megalithikum yang terdapat di situs Watu Kandang, di Dusun Ngasinan Lor, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih mendapat perhatian dari Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng. BP3 pun turun ke lapangan untuk mengecek kondisi situs tersebut, Selasa (2/10).
Staf Pemanfaatan BP3 Jateng, Denny Wahyu Hidayat, menjelaskan terdapat tiga buah batu di situs tersebut yang kondisinya rusak. Kerusakan tersebut terjadi bukanlah kesengajaan oleh warga sekitar. “Warga tidak tahu saja kalau batu-batu tersebut merupakan bagian dari situs purbakala,” kata Denny di lokasi situs Watu Kandang.
Deny memastikan bahwa sejumlah batuan yang terdapat di situs Watu Kandang memang berasal dari zaman Megalithikum. Pasalnya di situs itu didominasi batu-batu besar yang merupakan salah satu ciri dari peninggalan kebudayaan Megalithikum. “Kebudayaan zaman tersebut memang masih sangat sederhana,” ujarnya.
Sementara itu, Staf Perlindungan BP3 Jateng, Harun Al Rasyid, menambahkan adanya kerusakan batu memang ada yang merusak dan tidak rusak alami. Namun ia memastikan tidak ada satu batu pun yang hilang di situs Watu Kandang.
Terkait keberadaan tanah milik warga yang berada di kawasan situs dan minta dibeli oleh BP3 Jateng, Harun enggan berkomentar. “Yang penting saat ini sosialisasi kepada masyarakat sekitar terkait keberadaan situs Watu Kandang ini,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Matesih, Titik Umarni, menuturkan ke depannya harus ada kerja sama dan sosialisasi dari BP3 Jateng terkait situs Watu Kandang. Hal ini agar masyarakat memahami pentingnya keberadaan situs bersejarah tersebut. “Saat ini diperlukan tindakan sosialisasi agar ada komunikasi yang baik antara semua pihak,” ujarnya.
Penjaga situs Watu Kandang, Giyatno, mengungkapkan hanya sebagian kecil tanah di kawasan situs yang telah dibebaskan (dibeli) oleh pemerintah. Untuk kelanjutannya ia tidak bisa memastikan. “Itu masih tergantung dari BP3 Jateng,” ujarnya. Luas situs Watu Kandang sendiri, menurut Giyatno, seluas 2 hektare dan terletak di pinggir jalan Matesih-Tawangmangu.

Muhammad Ikhsan