Joglosemar/Sidiq Setyawan

Sejatinya keberadaan aktivis di kampus bisa diartikan sebagai mahasiswa-mahasiswa yang menjadi pengurus atau penggerak dalam organisasi, baik dalam organisasi ekstra maupun organisasi intra-perguruan tinggi yang dapat berkontribusi terhadap kampus. Sudah saatnya juga aktivis mendapat nilai lebih maupun penghargaan dari kampus, simak kisah aktivis berikut ini.
Danar Kristiana Dewi, Alumni Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta(UMS), yang sewaktu kuliah aktif dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pabelan. Menurutnya, aktivis itu adalah pejuang, sebagai generasi penerus bangsa yang diberikan kesempatan untuk melakukan perubahan. Oleh karena itu, saat menjadi mahasiswalah kesempatan itu ada. “Maka harus digunakan dengan maksimal, semangat, energi dan juga pemikiran,” ujarnya
Alasan mengapa ia memilih aktif di Persma, ialah karena kecintaannya pada dunia jurnalistik sejak lama. “Perubahan itu akan terjadi jika salah satunya dipengaruhi dan dipacu oleh media. Maka, semangat melakukan perubahan dan juga perjuangan membela teman-teman mahasiswa membuat saya berkecimpung di dunia Persma,” Paparnya
Menurutnya, universitas sudah sangat bijak memberi apresiasi dan penghargaan kepada para aktivis kampus saat wisuda, sehingga para orangtua aktivis akan mengetahui aktivitas putra putrinya selama di kampus. Namun yang paling penting selain apresiasi tersebut adalah support penuh dari kampus kepada para aktivis, baik dana, support kegiatan, dan juga sarana maupun prasarana yang dibutuhkan para aktivis di kampus.
Danar juga berpesan kepada mahasiswa kalau menjadi mahasiswa tapi cuma jadi mahasiswa saja itu menurutnya percuma, karena itu adalah waktu emas pembentukan karakter, mental dan pola pikir yang lebih open terhadap apapun. Dinikmati saja kedua-duanya dan jangan dijadikan beban.
Porsinya memang harus seimbang sehingga kuliah dan kegiatan lain bisa tetap berjalan beriringan. “Kalau saya suka bikin mind mapping buat semua mata kuliah jadi gak ketinggalan dan belajarnya juga gampang. Kalau mengatur jadwal saya memiliki buku agenda tersendiri yang khusus mencatat jadwal kegiatan kuliah, kegiatan kampus, hingga refreshing,” urai dia.
Danang Prasetya, mahasiswa alumni UMS Prodi Matematika yang juga diwisuda langsung oleh Rektor berkat menjadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMS 2010 mengungkapkan aktivis merupakan mahasiswa-mahasiswa pilihan. “Mereka tidak hanya memperoleh pendidikan di dalam kelas melainkan dari kompleksitas permasalahan-permasalahan yang dialami masyarakat,” ungkapnya.
Kontribusi
Aktivis mempunyai kualitas yang lebih dibanding dengan mahasiswa umum, karena model pendidikannya yang berhadapan dengan masalah. Selain itu aktivis dituntut untuk tidak apatis, acuh tak acuh terhadap permasalahan yang ada di masyarakat.
Ia juga berpesan agar pendidikan saat ini memperbarui sistem yang ada dengan menjadikan mahasiswa tidak apatis, sehingga aktivitas di luar akademik tidak mengarah hal-hal yang amoral. Dengan begitu, kampus tidak hanya bertanggung jawab dalam pendidikan akademik melainkan juga kegiatan non-akademik.
Sementara itu, Prof Dr Bambang Setiaji selaku Rektor UMS mengatakan, aktivis sangat perlu diapresiasi dan dihargai eksistensi dan keberadaannya. Terlebih para aktivis sudah dengan tulus dan ikhlas ikut berperan serta dalam membangun dan meramaikan Universitas dalam tataran kegiatan yang positif. “Sekarang soft skills pun tidak kalah penting dengan IP, sehingga para aktivis sangat patut kami berikan penghargaan, “ tuturnya kepada Tim Akademia.
Lebih lanjut Ia mengatakan, perusahaan dan instansi sekarang lebih banyak yang memperhitungkan soft skills. Yang diharapkan antara lain adalah kemampuan kepemimpinan dan kemampuan organisasi. Dari alasan itulah Bambang Setiaji memberikan penghargaan dan apresiasi penuh terhadap para aktivis dengan mewisuda langsung para mahasiswa yang berperan sebagai aktivis dan berkontribusi terhadap kampus maupun terhadap masyarakat.
“Jadi tidak hanya wisudawan dengan nilai terbaik saja yang diwisuda langsung, tetapi juga aktivis kampus yang telah mendedikasikan diri dengan baik di organisasi kampus, “ ungkapnya.
Selama ini pada momen wisuda hanya 11 wisudawan peraih IP terbaik dari masing-masing fakultas yang diwisuda langsung oleh Rektor UMS. Namun pada prosesi Wisuda, 22 september 2012 lalu, Bambang Setiaji memberikan suatu kejutan dengan mewisuda para aktivis.
Dirinya menambahkan, hal ini akan menjadi berkelanjutan. Dalam artian apresiasi langsung dari pemimpin universitas kepada aktivis kampus akan diberikan tiap periode wisuda. Untuk memperoleh data tersebut, salah satu caranya adalah dengan menginput rekapan data para mahasiswa yang aktif dalam keorganisasian kampus. Sehingga pihak rektorat bisa mengontrol dan mendata siapa saja yang nantinya patut mendapatkan apresiasi tersebut.

Tim UMS