Melengking, nada tinggi, berteriak, layaknya orang yang sedang menjerit, terdengar dalam alunan sholawat yang begitu khas. Suara-suara ini merupakan teknik vokal dalam Sholawat Seni Budaya Suara Jawa, Sekelompok paguyuban seni musik tradisi yang lebih sering disebut Sholawatan Jawa. Kelompok ini terdapat di Dusun Kaliontong, Kalisalak, Kebasen, Banyumas. Kelompok yang disesepuhi oleh Komarudin ini, tersebar di daerah setempat sejak zaman penyebaran agama Islam di Jawa yang dipelopori oleh Wali Sanga.
Seperti sholawat-sholawat yang berkembang pada umumnya, instrumen musik yang digunakan juga didominasi dari perangkat membran, yaitu kendang dan ketipung, tiga buah terbang yang berukuran besar, dan dua buah kenthongan. Semua perangkat instrumen ini berfungsi secara ritmis menjadi satu kesatuan untuk mengiringi nyanyian puji-pujian keagamaan Islam yang disajikan secara vokal bersama oleh puluhan personel.

Teks lirik lagu yang dinyanyikan dalam sholawat ini bersumber dari kitab Albarjanji. “Namun, secara pelafalan maupun isi yang disampaikan melalui nyanyian ini telah berubah tidak sama persis dengan kitab aslinya,” ujar Komarudin.
Kitab yang tadinya berbahasa Arab asli telah berakulturasi dengan kebudayaan setempat, sehingga pengucapan dan pelafalannya pun mengalami banyak perubahan menyesuaikan dengan bahasa daerah setempat. Secara melodis lagu yang dinyanyikan menggunakan sistem pelarasan seperti yang digunakan dalam musik karawitan, yaitu laras slendro. Selain itu, beberapa lagu juga ditambahi dengan pantun dan syair-syair nyanyian yang berbahasa Jawa, dibuat dan diwariskan berdasarkan pengalaman pendahulu-pendahulu kelompok sholawat ini secara turun temurun.
Dalam penyajiannya, sholawat ini dipentaskan pada waktu malam hari dari jam delapan malam hingga jam dua pagi. Pementasan atau penyajian dari awal hingga akhir itu disebut dengan lakon, dan lagu disebut dengan balet. Dalam setiap lakon terdiri dari sembilan balet yang telah menjadi “pakem” dalam sholawat ini, baik urutan baletnya maupun balet yang dinyanyikan. Secara berurutan, balet ini terdiri dari Ngalaika, Bisahri, Yasin, Isolatun, Nabi Isa, sholawat dan Illahuka, Srakal, serta An Nur.
Menurut Komarudin, sholawat ini setiap tahunnya selalu dipentaskan dalam ritual Maulud-an, malam penjamasan pusaka Tosanaji peninggalan sinuwun “Hamengkurat” I yang terdapat di Dusun Kalisalak Lor, Desa Kebasen. Selain itu, sholawat ini juga dipentaskan dalam hajatan warga seperti pernikahan, sunatan, maupun tasyakuran seperti malam 17-an Agustus, dan selamatan warga.
Pementasan Rutin
Sayangnya, menurut Komarudin, tak ada satupun pemuda yang menjadi pemain dalam sholawatan ini. Kesenian ini telah berada dalam posisi ambang kepunahan, respons dan antusias masyarakat akan keberadaan kesenian ini sangat kurang.
Menurut Ketua Adat Desa Kalisalak, Ilham Triyono, sampai saat ini, seni sholawat dengan teknik vokalnya yang membutuhkan tekanan suara dan tenaga yang cukup “keras” ini, hanya dimainkan oleh para kaum laki-laki yang telah berumur 50 tahun ke atas. “Usaha pewarisan terhadap generasi penerus merupakan kesulitan yang sulit dihadapi,” ujarnya.
Sangat jarang pemuda Kalisalak yang tinggal dan menetap di daerahnya sendiri. “Kebanyakan telah bekerja dan bersekolah di luar daerah,” ujar Asep, satpam sebuah swalayan di Purwokerto asal Kalisalak. Ibarat aliran air dalam paralon, paralon ini telah tersumbat ataupun putus di tengah-tengahnya. Sehingga, aliran ini tidak sampai ke tempat tujuan, tambah Asep.
Sementara itu, menurut Darno Kartawi, Pengamat Kesenian Banyumas, kendala dan hambatan perkembangan kesenian ini tidak hanya dalam satu aspek, namun lebih kompleks dari berbagai aspek. Mengingat perkembangan zaman juga berpengaruh terhadap sistem perilaku dan pola pikir para pemuda sebagai generasi penerus. Akibatnya, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam syair sholawat ini juga tidak tersampaikan kepada masyarakat, kesenian yang tadinya mengandung nilai dakwah ini akan kehilangan nilai-nilainya.
Sebagai masyarakat yang terus berkembang mengikuti arus, fenomena ini tidak dapat dihindari. Dampaknya, musik-musik tradisi seperti ini mulai tidak diperhatikan dan dikenal bahkan oleh masyarakat pemiliknya sendiri. Hal ini dapat diamati dari keseluruhan personel sholawat yang telah berusia 50 tahun ke atas serta tidak adanya proses regenerasi yang berkelanjutan.
“Saat ini, hanya ada dua kelompok sholawatan sejenis yang terdapat di Kalisalak”, ungkap Ilham. Kelompok sholawat itu terdapat di Dusun Kaliontong dan Dusun Bantul. Ada beberapa usaha yang dilakukan pelaku sholawat agar kesenian ini tetap hidup. Usaha dilakukan dengan mengadakan pementasan rutin setiap seminggu sekali pada hari selasa malam. Pementasan ini dilaksanakan secara berkeliling di rumah-rumah warga.  Tim ISI Surakarta