Dalam rangka menambah mata pelajaran yang tidak didapatkan saat duduk di kelas, 106 siswa kelas XII SMKN 2 Solo jurusan teknik audio dan video mengunjungi studio rekaman yang lahir pertama kali di Indonesia, yakni Lokananta yang terletak tak jauh dari sekolah mereka, Jumat (19/10) kemarin.
Ketua bidang Kompetensi teknik audio dan video SMKN 2 Solo, Ignatiyus Mulyo Widodo mengatakan bahwa tak lain kegiatan ini untuk mencari tambahan mata pelajaran yang benar-benar diajarkan di sekolah. “Sebelum siswa dikenalkan teori di kelas, kami mengajak siswa keluar sekolah terlebih dahulu supaya siswa benar-benar mampu mengimbangi antara teori di kelas dan praktik langsung saat di lapangan,” ujarnya kepada Joglosemar.
Kegiatan ini, lanjut Ignatiyus untuk mengenalkan kepada siswa tentang bagaimana perkembangan pencetakan mulai dari piringan hitam hingga saat ini menggunakan kaset dan berbentuk VCD. “Kenapa kami mengajak ke sini, karena Lokananta juga memiliki museum penyimpanaan kaset piringan hitam dan alat perekam lainnya, yang ada di tahun 1950-an,” imbuhnya.
Sementara itu, salah seorang siswa kelas XII SMKN 2 Solo, jurusan teknik audio dan visual, Dendet Wahyu Pribadi (16) mengatakan bisa mengenal perkembangan alat perekaman dari zaman tahun 50-an hingga sekarang ini masih bisa dilihat. “Saya bisa menambah pengetahuan saya tentang dunia audio dan visual, serta lebih mengetahui tentang alat apa yang digunakan saat mulai proses perekaman hingga menjadi bentuk dalam kaset atau VCD,” ujarnya.
Terpisah Pimpinan Lokananta, Pendi Heryadi mempersilakan semua sekolah baik, TK hingga jenjang SMA untuk mengunjungi studio rekaman ini. Pasalnya Lokananta merupakan milik masyarakat Solo dan aset berharga warga Solo. “Kami membuka pintu lebar baik bagi institusi pendidikan atau pun masyarakat umum untuk berkunjung ke tempat ini, karena di sinilah maestro keroncong seperti Almarhumah Gesang dan Waldjinah menyimpan suara emasnya. Hal ini menandakan bahwa Lokananta menjadi salah satu budaya kota Solo,” ujarnya. Raditya Erwiyanto