BOYOLALI—Setelah mengalami kerusakan dan gagal dioperasikan sejak pertama dibangun, memasuki musim penghujan ini embung Musuk siap dioperasikan.
Kepala PDAM Boyolali, Cahyo Sumarso menyatakan perbaikan kerusakan geomembran yang robek sudah tuntas dilakukan oleh pihak kontraktor. Bahkan pihak kontraktor juga membersihkan endapan di dasar embung. Pasalnya akibat robeknya geomembran, genangan air yang sudah tertampung di embung menjadi lumpur. “Perbaikan sudah selesai termasuk pembersihan endapan lumpur di dasarnya, saat ini embung siap dioperasikan tinggal menunggu hujan,” ungkap dia, Rabu (7/11).
Pihaknya berharap embung dapat dioperasikan secara sempurna sehingga dapat dimanfaatkan untuk melayani pelanggan PDAM, terutama yang berada di kawasan Musuk dan sekitarnya.
Menurut Cahyo, embung tersebut mampu menampung air hujan hingga 90.000 meter kubik dari kapasitas lebih 100.000 meter kubik. Rencananya, air tampungan embung Musuk ini dapat melayani 3.000 sambungan rumah baru, atau untuk 20.000 jiwa.
Pihak PDAM mengaku membatasi daya tampung embung karena untuk antisipasi terjadinya kerusakan tanggul. Antisipasi tersebut dilakukan karena sempat muncul kekhawatiran dari warga sekitar embung terhadap kondisi tanggul. Meskipun menurut dia, pembangunan tanggul embung tersebut sudah diperkuat dengan cor beton. “Ya untuk antisipasi saja,” kata dia.
Sementara itu guna mendukung pemanfaatan embung untuk PDAM, pihaknya juga berencana membuat sumur dalam yang akan ditempatkan di Dukuh Bali, Desa Ringinlarik, Musuk. Pembuatan sumur dalam senilai Rp 1 miliar tersebut diharapkan mampu memberikan debit air minimal 15 liter/detik.
Jika saat musim kemarau tiba, pelanggan PDAM akan dilayani dengan suplai air dari tampungan air embung. Sebaliknya saat musim penghujan, pelanggan PDAM akan dilayani dengan mengambil air dari sumur dalam tersebut.
Pembangunan embung Musuk ini merupakan bantuan dari pemerintah pusat dan diserahkan kepada PDAM Boyolali. Dalam hal ini, pihaknya hanya berkewajiban menyediakan lahannya saja untuk dibangun embung, yakni dengan cara menyewa tanah desa setempat selama 25 tahun.

Ario Bhawono