SRAGEN—Reka ulang kasus pembunuhan terhadap buruh bangunan, Kardi alias Andut (36), warga Dukuh Karang Tanjung RT 6, Pelemgadung, Karangmalang, digelar Rabu (31/10). Dari 51 adegan yang diperagakan, terungkap pembunuhan itu dipicu ketersinggungan, dan semua pelaku serta korban dalam pengaruh minuman keras (Miras).

Rekonstruksi digelar dengan menghadirkan enam tersangka yakni Septian Sendi Prabowo alias Sendok (25) warga Mojo Kulon RT 3 RW VII, Sragen Kulon, Andika Ratna Kencana Putra alias Babi (20) warga Talangrejo RT 3 RW XXI, Sragen Kulon, Ali Mustofa alias Tofa (18) warga Talangrejo RT 1 RW XXI, Sragen Kulon, Fitra Nur Effendi alias Kenyuk (25) warga Mojo Kulon RT 3 RW VII, Irwantoro alias Sukir (20) warga Krapyak RT 29 RW IX, Sragen Wetan, dan Sentot Supriyanto (21) warga Krapyak RT 32 RW X, Sragen Tengah.

Rekonstruksi juga melibatkan 100-an personel Polres serta menghadirkan aparat dari Kejaksaan Negeri (Kejari) serta Pengadilan Negeri (PN) setempat. Ratusan warga memadati sekitar lokasi rekonstruksi yang dibagi dalam empat titik.

Dalam rekonstruksi, enam tersangka memperagakan 51 adegan mulai dari pesta Miras hingga penganiayaan korban. Di lokasi pertama, enam tersangka beserta korban melakukan pesta Miras sekitar pukul 02.00 WIB. Mereka memperagakan pesta Miras hingga kedatangan korban yang kemudian menyulut perselisihan. Usai adu mulut, beberapa tersangka memukul dan menginjak kepala korban hingga tak berdaya.

Dipastikan Tewas
Tak berhenti sampai di situ, dua tersangka dengan menggunakan satu sepeda motor membawa tubuh korban ke tepi sungai Bengawan Solo atau di depan Kampus Yapennas, Purwoasri, Kroyo, Karangmalang.

Sampai di tepi sungai, tubuh korban diletakkan begitu saja lantas ditinggal pergi. Namun dua pelaku terakhir yang mengetahui korban masih bernyawa dan berusaha bangkit, kembali berbalik arah mendekati korban.

Mereka mengambil uang milik korban Rp 500.000 dan melihat korban masih hidup, akhirnya menginjak dan menimpanya menggunakan batu yang diambil di sekitar lokasi. Korban ditinggal setelah dipastikan tewas.

Kapolres Sragen, AKBP Susetio Cahyadi, menuturkan kegiatan rekonstruksi dilakukan untuk melengkapi berkas penyidikan kasus tersebut. Pada proses itu hadir pula jaksa penuntut umum untuk mencocokkan antara keterangan di Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) dan fakta yang dipraktikkan di lapangan. Karena perbuatan pelaku terbilang sadis, pihaknya berharap hukumannya bisa maksimal seperti ancaman hukumannya yakni 12 dan 15 tahun penjara.  Wardoyo