ilustrasi

SLEMAN – Sebanyak 11 mahasiswa, satu di antaranya mahasiswi, ditangkap saat berpesta ganja dan sabu. Mereka ditangkap di tempat terpisah dalam sepekan terakhir. Selain 11 mahasiswa tersebut, petugas Direktorat Reserse Narkoba Polda DIY juga mengamankan empat pria lain.

Direktur Reserse Narkoba Polda DIY, Kombes Pol Widjanarko, mengatakan dari 15 tersangka itu, selain mahasiswa, empat di antaranya adalah karyawan swasta. Semua tersangka merupakan pemakai Narkoba, bukan pengedar, kurir, atau bandar Narkoba. Ia menyatakan penangkapan dilakukan di empat tempat dalam sepekan terakhir berdasarkan informasi dari warga dan hasil penyelidikan polisi.

“Penangkapan yang pertama dilakukan di Kecamatan Kasihan, Bantul, yaitu tujuh mahasiswa dan satu wiraswasta. Mereka adalah Fadli, Khairul, Azis, Nur, Fuad, Junaidin, Yudirangga, dan Gafron yang tengah berpesta ganja  di sebuah kos-kosan, “ jelasnya

Penangkapan kedua, juga pesta ganja oleh tiga mahasiswa dan satu mahasiswi, yakni Yulius, Yogi, Totok, dan  Nadya. Sisanya, wiraswasta yang sedang mengonsumsi sabu bernama Hermanto ditangkap di Kalasan, Sleman dan serta Sasongko, dan Arya Adi, ditangkap di Gondokusuman, Yogyakarta. Para mahasiswa itu kuliah di berbagai perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mereka yang mengonsumsi ganja asal Aceh itu memesan melalui telepon seluler. Mereka tidak bertatap muka dengan pengedar. Itu salah satu modus peredaran Narkoba yang sulit dideteksi. Polisi menyita beberapa barang bukti sisa pesta mereka, yaitu 200 gram ganja kering dan sabu-sabu 0,25 gram yang dikirim ke laboratorium forensik di Semarang.

Pihaknya masih melakukan pendalaman siapa saja bandar maupun kurir yang memasok ganja maupun sabu kepada para pemakai ini. “Kami amankan sisanya, ganja seberat 200 gram. Sementara, sabu kami kirim ke Laboratorium Forensik di Semarang,” tambahnya.

Para pemakai narkoba ini dijerat dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Pasal 111 dan 112 dengan ancaman hukuman empat tahun hingga 12 tahun penjara. Dalam sejarah pengadilan pengguna narkoba di Daerah Istimewa Yogyakarta, belum pernah ada hakim yang memutuskan rehabilitasi pengguna Narkoba.

Sementara itu, Nadya, mengaku menghisap ganja hanya ingin mencoba. Dia ditawari beberapa teman untuk mencoba ganja asal Aceh itu. “Hanya mencoba-coba ganja saja. Saya hanya ditawari teman. Semuanya kena (ditangkap),” tuturnya.

Perempuan berkulit putih itu mengaku khilaf. Dia tidak menyangka niat coba-coba menghisap ganja justru berakhir di bui. Dia sendiri mengaku baru dua kali menghisap ganja. Baru 10 menit diberondong pertanyaan oleh wartawan, Nadya mengaku pusing dan meminta untuk kembali ke ruang penyidik. Okezone