dok

Seorang ibu mengeluh anaknya berjalan pincang saat mulai belajar jalan. Saat dibawa ke dokter, diketahui bahwa sendi panggul mengalami kelainan. Kelaian yang terjadi bisa terjadi karena kepala tulang paha yang seharusnya masuk ke dalam sendi panggul keluar sendi (dislokasi). Ketika mendapatkan penjelasan bahwa kelainan tersebut sebenarnya sudah terjadi sejak lahir,Yani merasa menyesal karena tidak mengetahui sejak awal. Dirinya merasa menyesal setelah mendapatkan penjelasan bahwa kelainan tersebut sebenarnya sudah terjadi sejak lahir, hanya saja tidak diketahui sejak awal.

Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi & Traumatologi, Rumah Sakit Orthopaedi, Prof, Dr Soeharso Surakarta, Anung Budi Satriadi dr.SpOT (K) menjelaskan, dalam dunia medis kelainan ini disebut Development Deplasia of The Hip (DDH). Kelainan bawaan dislokasi sendi panggul mengakibatkan sendi panggul tumbuh abnormal. Dengan pemeriksaan sederhana sejak lahir, kelainan ini dapat diketahui dan mendapatkan penanganan sejak dini. “Kelainan ini biasanya ada sejak lahir,” tuturnya.

Dikatakannya, sendi panggul merupakan pertemuan antara tulang paha (femur) dengan bagian dari tulang pelvis (acetabulurn). Pada kondisi normal, kepala tulang paha (kaput femoris) berada di dalam acetabulum. “Jika tidak dideteksi sejak awal, kelainan ini bisa disembuhkan tanpa operasi,” katanya.

Dijelaskannya, sendi panggul menyerupai mangkuk dan bola. Bagian mangkuk disebut juga dengan acetabulum dan bagian bola dikenal dengan kepala tulang femur. Dalam kondisi normal kepala tulang paha berada di dalam mangkuknya, tulang acetabulum. Dislokasi artinya seluruh kepala tulang paha keluar dari mangkuknya. Sedangkan pada subluksasi bagian yang keluar hanya separuhnya. “Kasusnya ada dua, ada yang sampai keluar ada yang hanya sebagian saja,” terang dia.

Dikatakannya, terdapat beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab kelainan ini. Penyebab kelainan diduga ada dua hal, pertama faktor hormon yang dapat mengakibatkan sendi panggul mudah mengalami dislokasi, dan faktor kondisi acetabulum yang mendatar, padahal kondisi normalnya menyerupai mangkuk.

Menurut Anung, ada beberapa kondisi tertentu yang menyebabkan bayi memiliki risiko terkena kelainan ini, di antaranya, bayi yang lahir dengan posisi bokong terlebih dahulu. Bayi lahir dengan posisi bokong terlebih dahulu biasanya dialami oleh bayi  dengan jenis kelamin perempuan. Dari sebuah penelitian diketahui bawah angka kemungkinan terjadinya DDH pada anak perempuan lahir bokong diperkirakan hingga 1 dari 15 anak. “Sebab pada bayi wanita tulangnya itu lebih lentur sehingga, bolanya gampang lepas,” tuturnya.

Selain itu, anak pertama juga lebih berisiko mengalaminya kelainan tulang dibandingkan kehamilan selanjutnya. Sebab, pada saat pertama hamil, biasanya rahim ibu masih sempit, sehingga posisi dipaksa meringkuk di tempat yang sempit itu. “Kondisi ini disebut packing sindrom,” katanya.

Anung juga mengatakan, bayi juga berisiko DDH jika dalam riwayat keluarganya juga ada yang mengalami DDH. “faktor keturunan ini juga bisa,” katanya.

Dikatakan Anung, secara kasat mata, kelainan ini bisa dideteksi oleh tenaga kesehatan atau orang tua bayi. Orangtua bisa melakukan deteksi dengan melihat posisi kaki bayi dalam kondisi terbuka ekstrem. Jika terlihat tidak simetris antara kanan dan kiri maka patut diwaspadai. “Kelainan juga bisa dilihat saat bayi kakinya dingangkangkan. Jika satu kakinya bisa ngangkang maksimal dan satunya tidak, maka perlu diwaspadai tentang kemungkinan terjadinya kelainan,” jelasnya.

Dia menjelaskan, untuk mendeteksi kelainan tersebut, pemeriksaan tes Barlow dan tes Ortolani juga bisa dilakukan pada bayi yang baru lahir. Tes barlow dilakukan manipulasi untuk mendorong tulang paha keluar dari mangkuk acetabulum. Jika dapat keluar, maka sendi tersebut mudah mengalami dislokasi. Sedangkan tes ortolani dilakukan untuk mengembalikan sendi yang sudah mengalami dislokasi.

Sedangkan untuk tes ortolani,diusahakan untuk memasukkan kepala tulang paha ke dalam mangkuk acetabulum, pada penderita yang sudah mengalami dislokasi. Pada anak umur diatas satu tahun, kedua pemeriksaan di atas tidak dapat dilakukan, karena sudah terjadi posisi yang salah dan mengalami perlengketan. Dalam kondisi ini diperlukan pemeriksaan lain, berupa USG, CT scan, atau MRI untuk memastikan ada tidaknya kelainan pada sendi panggul.

Anung menjelaskan, pada usia bayi di bawah 6 bulan kelainan ini masih bisa diperbaiki tanpa operasi. Pada usia antara 6 bulan hingga 18 bisa diperbaiki dengan pembiusan tanpa pembedahan, sedangkan di atas usia 18 bulan harus dilakukan operasi. “Apalagi kalau usia di atas 3 tahun maka tidak ada jalan lain harus dioperasi,” jelasnya. Tri Sulistiyani