ilustrasi

Perawatan gigi sebaiknya dilakukan sejak masa anak-anak. Namun untuk merawat gigi anak-anak tidaklah mudah. Anak-anak belum paham tentang pentingnya menjaga gigi, sehingga orangtua harus menanamkan pengertian tersebut kepada anak-anak. Tidak terkecuali perawatan gigi pada anak berkebutuhan khusus, seperti pada anak penyandang autis.

Saat ini jumlah penyandang autis di Indonesia belum bisa dipastikan. Pada tahun 2004 lalu, diperkirakan ada 475.000 penyandang autis di Indonesia, namun sekarang muncul istilah <I>Autism Spectrum Disorder<I> (ASD) atau gangguan autis berspektrum luas.  Dokter Gigi Klinik Cahaya Mitra, Drg. Jenny Megawati, SpKGA mengungkapkan, ASD ini membutuhkan penanganan komprehensif yang melibatkan berbagai ahli di sejumlah bidang. Penanganan ASD ini antara lain membutuhkan, pakar kedokteran, pakar kedokteran gigi, psikolog, serta dari kalangan pendidik. “Penanganannya ASD ini tidak bisa dilakukan sendirian, harus melibatkan sejumlah ahli,” tuturnya.

Dia menyebutkan, ASD ini merupakan sindroma gangguan perkembangan anak. Gangguan ini bisa sangat kompleks mulai dari ringan sampai berat. Adapun gejala yang mungkin timbul yakni, gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi verbal dan non verbal, gangguan perilaku, gangguan sensoris, sulit belajar membaca, menulis, atau mendengar. “Terkadang ada yang disertai dengan retardasi mental bahkan  kejang,” jelasnya.

Jika dijabarkan, gejala timbulnya autism ini terlihat dari gangguan interaksi sosial. Gejala tersebut ditandai dengan terjadinya kelemahan dalam penggunaan perilaku non verbal, seperti kontak mata, ekspresi wajah, sikap tubuh, gerak tangan dalam interaksi sosial. Selain itu, juga terlihat terjadinya kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya sesuai dengan tingkat perkembangannya. “Biasanya penyandang autis ini tidak bisa menatap mata lawan bicaranya,” jelasnya.

Lebih lanjut Jenny menjelaskan, gejala  kemampuan bahasa dan komunikasi pada penyandang autis ini terjadi pada perkembangan bahasa lisan, terlambat atau sama sekali tidak berkembang. Dan anak tidak akan mencari jalan untuk berkomunikasi secara non verbal. Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak digunakan untuk berkomunikasi. Penyandang autis ini juga sering menggunakan bahasa yang aneh, stereotype dan berulang ulang. “Dia juga kurang mampu bermain imajinatif ( make believe play) atau permainan imitasi sosial lainnya sesuai dengan taraf perkembangannya,” urainya.

Gangguan Gigi Pada Anak Penyandang Autis

Sebagaimana anak lainnya, anak penyandang autis juga sering kali mengalami gangguan pada gigiya. Gangguan gigi  sering membuat mereka rentan terkena karies gigi. Pasalnya, penyandang autis ini cenderung suka makanan yang lunak dan manis. “Padahal manis di gigi jika bercampur bakteri ini akan menimbulkan asam dan akhirnya akan menyebabkan karies gigi,” terang dia.

Selain itu, penyebab karies gigi pada penyandang autis ini juga karena mereka kurang mampu mengunyah makanan sehingga banyak makanan yang akhirnya kurang lembut dan tersangkut di gigi. Hal itu diperburuk lagi dengan kondisi penyandang autis yang sulit konsentrasi dan interaksi, jadi sulit untuk menerima instruksi sikat gigi. “Mereka memiliki keterbatasan untuk menerima instruksi sikat gigi, tidak seperti anak pada umumnya,” tuturnya.

Sementara kesulitan juga dialami para tenaga kesehatan gigi saat menangani anak berkebutuhan khusus ini.  Kendala yang dihadapi antara lain, kendala di kamar praktek. Pada umumnya, penyandang autis ini sulit beradaptasi pada lingkungan baru. Klinik perawatan gigi dianggap sebagai tempat baru sehingga mereka akan sulit untuk beradaptasi. “Mereka akan ketakutan atau menunjukkan reaksi yang lainnya saat berada di ruang perawatan gigi,” jelasnya.

Jenny menambahkan, penyandang autis ini juga akan sulit menerima tindakan yang baru seperti tindakan pemeriksaan giginya. Mereka menilai tindakan tenaga kesehatan gigi atau dokter itu sebagai tindakan yang kurang menyenangkan pada dirinya. Tidak jarang akan terjadi penolakan. “Padahal jika dipaksakan, bisa saja mereka akan menyakiti diri sendiri,” tuturnya. Dikatakan Jenny untuk merawat gigi penyandang autis ini diperlukan beberapa pendekatan khusus. Pendekatan perlu dilakukan antara lain pendekatan perilaku. Pendekatan perilaku ini tergantung pada berat ringannya gangguan autism. “Kita harus lakukan pendekatan tertentu dengan teknik tertentu pula,” paparnya.

Teknik Pendekatan yang dilakukan, menurut Jenny meliputi pendekatan kejiwaan yakni dengan perkenalan tatap mata, kontak mata, kontak fisik sentuhan. “Ini dilakukan dengan pelan, misalnya mulai mulai dengan jabat tangan,” katanya.  Selain pendekatan kejiwaan, juga perlu dilakukan pendekatan pendekatan desensitisasi. Pendekatan Desensitisasi harus dilakukan bertahap, sehingga memerlukan waktu panjang. Pendekatan ini jika berhasil sebaiknya diikuti dengan teknik STD (Show, Tell, Do).                         Selain itu, juga perlu dilakukan pendekatan khusus yakni dengan memberikan pengertian pada orang tua bahwa perawatan perlu kunjungan berulang  dan kerjasama orang tua. Biasanya pada penyandang autis, kunjungan pertama hanya perkenalan “Perkenalan pada dokter gigi, perawat gigi, ruang praktek dan sekitarnya. Tidak bisa langsung dilakukan tindakan,” ujarnya.

Pada anak penyandang autis diperlukan tindak perawatan yang dilakukan bertahap. Tahapan yang perlu dilalui antara lain, pemeriksaan, profilaksis oral, penggunaan bor kecepatan tinggi baru tindakan terakhir adalah anestesi atau pembiusan. “Yang harus dihindari adalah tindakan yang mengagetkan anak seperti suara bor nyaring, tindakan yang menyakitkan tanpa aplikasi anestesi topikal,” katanya. Selain itu, hindari bahan tambal berbahan logam atau amalgam. Tri Sulistiyani