PENERAPAN SVLK--Pekerja menyelesaikan pembuatan produk mebel di Pasar Mebel Ngemplak, Solo, Rabu (27/2). Diterapkannya Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) mulai Maret besok untuk produk kayu nonfurniture dan pada awal tahun 2014 untuk produk furniture, sejumlah eksportir kayu merasa terbebani. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

PENERAPAN SVLK–Pekerja menyelesaikan pembuatan produk mebel di Pasar Mebel Ngemplak, Solo, Rabu (27/2). Diterapkannya Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) mulai Maret besok untuk produk kayu nonfurniture dan pada awal tahun 2014 untuk produk furniture, sejumlah eksportir kayu merasa terbebani. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

Diterapkannya Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) mulai Maret besok untuk produk kayu nonfurniture dan pada awal tahun 2014 untuk produk furniture, para eksportir kayu olahan mengaku hal ini memang menjadi beban tersendiri. Hal itu dikarenakan, untuk memperoleh SVLK ini dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sehingga dimungkinkan, para eksportir kayu olahan yang sebelumnya bermain di pasar ekspor mulai beralih untuk bermain di pasar lokal.

Demikian disampaikan Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo), Kota Solo, David R Wijaya. Ia mengatakan, persyaratan untuk membuat SVLK ini ternyata tidak langsung diterima dengan tangan terbuka bagi sejumlah eksportir kayu olahan. “Biaya yang digunakan untuk membuat SVLK itu sekitar Rp 40-an juta. Jadi anggota Asmindo yang berjumlah 200-an pengusaha, hanya 10 pengusaha saja yang memiliki SVLK,” ujar David.

Karena masih minimnya pengusaha mebel yang memiliki SVLK, maka tidak menutup kemungkinan mereka beralih dari pasar ekspor ke lokal. Mengingat untuk saat ini penjualan produk furniture di pasar lokal tidak harus dengan SVLK. “Bisa juga beralihnya pengusaha ke pasar lokal ini lantaran tidak memiliki tiket masuk ekspor yaitu berupa SVLK,” imbuh David.

Lanjut David, hingga saat ini memang untuk pasar lokal di Indonesia belum ada wacana diterapkannya SVLK. Sehingga hal ini yang membuat para pengusaha kayu olahan memilih pasar lokal. Padahal kalau dilihat potensi marketnya, ekspor memiliki potensi yang tidak kalah menariknya dengan pasar lokal.

Menurut David, sebenarnya dengan adanya persyaratan SVLK untuk eksportir kayu olahan yang masuk ke Uni Eropa ini akan mampu meningkatkan daya saing produk Indonesia. Pasalnya, produk kayu olahan dari negara lain yang belum memiliki SVLK juga tidak bisa masuk ke Uni Eropa.

“Kalau eksportir kayu olahan dari Indonesia ini sudah mengantongi SVLK semua, kita akan selangkah lebih maju. Dan jika nantinya banyak eksportir dari negara lain yang belum memiliki, maka mampu meningkatkan daya saing produk kayu olahan Indonesia,” kata David. Dwi Hastuti