Ilustrasi

SRAGEN—Sebuah fakta mencengangkan kembali mencuat dari kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terjadi di wilayah Bumi Sukowati. Data yang direkam Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS) menunjukkan, dalam setahun terakhir angka pelaku KDRT dari kalangan PNS melonjak hampir tiga kali lipat atau 300 persen.

Ironisnya, tingginya angka KDRT oleh PNS itu dipicu faktor perselingkuhan. Bahkan, tidak sedikit pula kasus KDRT PNS yang akhirnya naik persidangan dan berakhir dengan perceraian. Berdasarkan rekapitulasi data kekerasan berbasis gender yang ditangani APPS selama 2005 hingga 2012, tercatat ada 19 kasus KDRT dengan pelaku berprofesi sebagai PNS. Jika dirata-rata, setiap tahun ada satu orang PNS yang terlibat KDRT dan dilaporkan ke APPS. Sementara, selama setahun terakhir hingga awal tahun 2013 ini jumlah kasus KDRT dengan pelaku PNS sudah mencapai empat kasus atau bertambah tiga kasus.

Koordinator APPS, Sugiyarsi mengatakan data itu baru sebatas data kasus yang korbannya berani melapor ke APPS. Diperkirakan angka riil kasus yang terjadi di lapangan jauh lebih tinggi dari data yang tercatat di APPS. “Kalau dilihat angkanya, kasus KDRT dengan pelaku PNS memang melonjak cukup signifikan. Mayoritas pemicunya adalah ketidakharmonisan keluarga yang akhirnya berujung pada selingkuh. Tidak hanya PNS pria saja yang menjadi korban, kadang ada pula istrinya yang menjadi pelaku KDRT,” ujarnya, Minggu (3/2).

Lebih lanjut, ia menguraikan selama tahun 2005-2012, tercatat ada 382 kasus KDRT dengan 233 di antaranya dilakukan oleh pelaku berprofesi sipil. Sementara, dari 19 kasus KDRT dengan pelaku PNS, sebagian ada yang berakhir dengan perceraian. Untuk kurun setahun terakhir, selain kasus KDRT yang mencapai 43 kasus, kasus yang menonjol lainnya adalah pencabulan yang mencapai 15 kasus dan perkosaan 12 kasus. Tragisnya, dari 27 kasus kekerasan seksual ini, 22 korbannya menimpa anak-anak.

“Oleh karena itu kami berharap fakta ini menjadi perhatian bagi semua pihak dan stake holder terkait agar lebih concern terhadap masalah kekerasan terhadap gender. Kami juga senantiasa mendampingi para korban sampai mereka bisa pulih dan hidup bersosialisasi secara layak kembali,” urainya.

Wardoyo