Seharusnya datang ke seminar bukan hanya untuk mendapatkan sebuah sertifikat, terlebih lagi hanya untuk mendapatkan snack atau makan.

ilustrasi

ilustrasi

Kian hari, keberadaan seminar semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Bahkan bagi sebagian mahasiswa, menghadiri sebuah acara seminar menjadi agenda tersendiri. Event seminar di kampus-kampus, terutama di Yogyakarta  kian menjamur. Selain di wilayah kampus, juga terkadang diselenggarakan di tempat-tempat luar kampus yang berkapasitas besar seperti di Gedung Mandala Bakti Wanitatama.

Seminar merupakan acara yang paling sering diselenggarakan, baik oleh jurusan, fakultas, kampus, komunitas, maupun lembaga di luar kampus. Pun, ragam seminarnya juga banyak. Lepas dari jenis seminar, mahasiswa selalu berbondong-bondong untuk mengikutinya. Bahkan beberapa mahasiswa mengaku pernah mengikuti seminar berkali-kali. Entah dengan jenis seminar yang sama ataupun tidak. Lantas mengapa mereka rutin mengikuti seminar, bahkan berkali-kali?

Salah satunya adalah Alfi Nur Aini, seorang mahasiswa universitas Islam di Yogyakarta. Alfi mengaku dia sudah mengikuti seminar sebanyak lebih dari lima kali. Baginya yang terpenting dari sebuah seminar adalah sertifikat. Sebab menurutnya dengan memiliki sertifikat dari seminar akan lebih mudah untuk mengajukan beasiswa kepada pihak kampus. Lanjutnya, jika seminar yang diadakan tidak ada sertifikatnya dia akan tetap mengikutinya tetapi lebih selektif tergantung judul seminar yang diselenggarakan.

Berbeda dengan Alfi, A Zulkarnain, mahasiswa pascasarjana Universitas Nasional Jakarta mengungkapkan jika dia mengikuti seminar bukan hanya untuk mendapatkan sertifikat. Baginya seminar memiliki banyak manfaat. Selain untuk menambah pengetahuan tentang materi yang diseminarkan, melalui seminar juga bisa dinilai kualitas seorang narasumber atau pembicara juga sebagai ajang silaturahmi untuk menambah teman ataupun networking.

Sertifikat dalam seminar itu penting namun bukan segalanya,tambahnya. Sertifikat menjadi sangat penting ketika seseorang yang memiliki profesi seperti guru, dosen dan yang lainnya mensyaratkan bahwa untuk bisa naik jabatan harus memiliki sertifikat. Menurut Zulkarnain, ada beberapa alasan seseorang mengikuti seminar misalnya siapa pembicaranya, berapa biaya masuk dan apa temanya.

“Kalau tema dan pembicara menarik, maka sertifikat bisa menjadi semacam bonus, kalau ada Alhamdulillah.  kalau tidak ada minimal kita sudah dapat ilmunya, “ ujarnya.

Di sela-sela waktunya ia menandaskan bahwa sertifikat hanya melengkapi kualitas tersebut. Meskipun juga bisa dimaklumi beberapa pihak yang selalu mempertanyakan sertifikat, karena telah menjadi bagian dari sistem. Bahwa sertifikat perlu dilampirkan untuk kenaikan golongan pada beberapa profesi di negeri  ini.

Hal itu diamini oleh Rika Lusri Virga, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menurutnya, mahasiswa yang aktif memang menjadi dambaan para dosen. Aktif itu seharusnya bisa memberikan ilmu tambahan bagi teman-teman belajarnya maupun dosen mengenai suatu hal yang berkaitan mengenai materi .

“Seminar tidak saja membuat kita menambah wawasan mengenai suatu hal melalui berbagai perspektif. Melalui seminar, kita bisa melatih sikap dan mental kita dalam melakukan interaksi dengan banyak orang. Karena aktif tidak hanya ditentukan oleh seberapa hebatnya seseorang mengetahui sebuah ilmu pengetahuan tetapi juga hebat dalam berinteraksi kata lainnya menjalin networking,” jelasnya.

Menurutnya, mahasiswa yang mengejar sertifikat dalam seminar itu sangat disesalkan. Hal itu bisa terjadi lantaran kurangnya kesadaran terhadap betapa berharganya sebuah ilmu pengetahuan. Seharusnya datang ke seminar bukan hanya untuk mendapatkan sebuah sertifikat, terlebih lagi hanya untuk mendapatkan snack atau makan. “Seminar itu salah satu cara menambah wawasan yang seharusnya menjadi modal seorang mahasiswa untuk lebih aktif sehingga ilmu dan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah bisa berkembang dan berguna bagi banyak orang,” tandasnya. Tim UIN Suka