Murid Keluhkan Piket Kelas, Guru Tetap Semangat

Di saat banyak sekolah yang memiliki murid berjubel, sekolah yang satu ini justru minim murid. Bahkan, ada satu kelas yang hanya berisi dua murid.

BERDUA-Ruang Kelas V terdiri dari dua murid. Kedua murid tengah mengerjakan soal Ujian Tengah Semester Bahasa Jawa, Kamis (21/3). Joglosemar | Eko Sudarsono

BERDUA-Ruang Kelas V terdiri dari dua murid. Kedua murid tengah mengerjakan soal Ujian Tengah Semester Bahasa Jawa, Kamis (21/3). Joglosemar | Eko Sudarsono

WONOGIRI - Anisah dan Diska, tampak serius mengerjakan soal Ujian Tengah Semester (UTS) di ruang kelas V SDN III Keloran, Selogiri, Wonogiri, Kamis (21/3). Sementara seorang guru tampak cermat mengawasi kedua murid itu.

Meski hanya mengerjakan berdua, ternyata bukan karena teman mereka yang lain tak masuk. Bukan pula karena mereka mengikuti ujian susulan. Anisah dan Diska memang hanya berdua di kelas tersebut. Ya, kelas V adalah salah satu kelas yang paling sedikit muridnya di sekolah tersebut.

Seusai mengerjakan ujian, Joglosemar bertanya perasaan mereka yang hanya berdua di satu kelas. “Tidak begitu nyaman. Tidak nyamannya kalau piket. Satu ruang kelas dan lantai dibersihkan sendiri,” kata Diska. “Tapi kalau menerima pelajaran lebih enak, karena sepi,” sahut Anisah.

SDN III Keloran, berjarak 3 kilometer dari kota kecamatan. Namun jumlah murid di sana hanya 49 anak. Bangunan sekolah ini, beberapa tahun lalu mendapat bantuan rehab dari salah satu program di televisi swasta. Pasalnya dulu pernah ambruk dan rusak berat karena usia. Kini kondisi gedung lebih baik, meski lantai sudah rusak dan bangunan gedung di beberapa bagian masih bangunan lama.

Jumlah murid yang kurang dari 60 anak, maka sesuai peraturan Kemendiknas tidak bisa mendapat bantuan apa pun, kecuali dana BOS. Sedangkan jika digabung ke sekolah lain, dikhawatirkan akan banyak murid yang enggan bersekolah. Hal ini karena sekolah terdekat, SDN I dan II Keloran, mengharuskan murid menyeberang sungai.

“Untungnya sekarang orangtua sudah banyak yang punya motor, jadi tidak perlu jalan kaki setengah jam lagi. Tapi kalau digabung, ya harus jalan kaki karena ke sekolah terdekat jalannya belum bisa dilalui motor. Kalau lewat sini lama,” terang Widyhastuti, walikelas V.

Dari pengamatan, karena terbatasnya ruang, ruang kelas V sebagian dipakai untuk ruang UKS. Lalu ruang kelas II di bagian belakang dijadikan musala, dan di kelas IV dijadikan pula sebagai perpustakaan.

Ruang-ruang tersebut disekat menggunakan papan yang bisa diangkat. Ruang perpustakaan yang ada, kini menjadi ruang kelas III. Dan ruang kelas III dijadikan ruang kantor guru.

Mengenai keunikan sekolah di desa, dituturkan Dewi, walikelas I. “Belum lama salah satu anak kelas I bersembunyi di bawah meja saat kawannya yang lain membaca buku LKS. Saya tanya, dia malah tambah takut dan terus sembunyi di bawah meja. Setelah saya lihat ke dalam tas, isi tas kosong. Buku (LKS) katanya dibakar neneknya,” tutur Dewi.

Nenek murid itu mengira LKS tersebut tidak terpakai. Maka, ia pun menggunakannya untuk cethik geni. Mungkin penampilan buku yang kusam dan terlipat-lipat membuat nenek tadi tidak tahu kalau itu buku masih dipakai.

“Kebanyakan murid di sini ditinggal merantau bapak dan ibunya, jadi mereka tinggal di rumah dengan nenek. Bisa dibilang kurang ada perhatian dari orangtua terhadap pendidikan anak mereka,” lanjutnya.

Di balik suka dan duka sekolah minim murid, para guru tetap mengaku bersemangat saat mengajar. Mereka hanya sedikit kaget saat kali pertama di tempatkan di sana karena muridnya sangat sedikit, berbeda dengan sekolah mereka sebelumnya.

Kepala SDN III Keloran, Ani Dwi Budianto mengakui, prestasi akademik murid di sekolah ini memang hanya rata-rata. “Namun untuk prestasi nonakademik sejumlah piala diraih sekolah ini. Cukup membanggakan. Sering mendapat juara I, II, dan III di berbagai lomba nonakademik,” jelasnya.

Di sekolah ini ada 12 pegawai. Hanya empat yang PNS, termasuk kepala sekolah. (*) Eko Sudarsono