OLYMPUS DIGITAL CAMERAKita tentu menginginkan keluarga kita memakan makanan yang sehat, aman serta bergizi. Untuk mendapatkan makanan bergizi kita bisa dapatkan dengan menyajikan makanan seimbang gizi. Namun, banyak yang disepelekan dan kurang diperhatikan yakni wadah atau tempat makanan disajikan. Padahal tempat atau wadah makanan tidak kalah penting artinya dalam keamanan makanan.

Manajer Gizi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta, Sri Maryani, S.Gz menjelaskan, jaman dahulu dan sampai sekarang masyarakat membungkus nasi dengan daun. Tetapi, cara itu di  jaman sekarang dianggap mempersulit diri, karena pedagang harus membeli daun membersihkan. Selain itu mereka juga harus menyobek daun dengan ukuran sesuai keinginan. Sehingga untuk praktisnya para pedagang saat ini lebih memilih menggunakan kertas atau plastik. “Banyak yang tidak paham bahwa penggunaan kertas dan plastik untuk pembungkus makanan tersebut belum tentu aman,” ungkap Sri Maryani.

Begitupula saat kita hendak membeli makanan di warung, sudah sangat jarang kita melihat orang menenteng rantang. Membawa rantang untuk wadah makanan sekarang ini dianggap sebagai kebiasaan yang ketinggalan zaman atau sudah kuno. “Kini rantang, daun dan pembungkus makanan lainnya telah diganti dengan plastik atau material lain yang serba simpel dan murah, jelasnya.

Memang, kelebihan plastik yang ringan, simpel, trendi, dan fleksibel begitu menarik perhatian konsumen. Barangkali itulah salah satu alasan kenapa rantang dan barang pecah belah ditinggalkan. Padahal kalau kita mau cermati kemasan makanan yang praktis harus diwaspadai bila kita tidak ingin menyesal di kemudian hari.

Bahan yang paling banyak digunakan untuk pembungkus makanan adalah kertas. Makanan yang dibungkus dengan kertas biasanya adalah makanan yang digoreng dan makanan yang memerlukan penyimpanan lama seperti teh celup dan lainnya. Beberapa jenis kertas yang sering digunakan adalah kertas koran, kertas nasi yang dilapisi plastik serta kertas yang  mengalami pemutihan. Kertas yang biasa dipakai untuk mengemas gorengan biasanya digunakan kertas koran.

Padahal kertas koran tersebut tidak aman, karena kertas koran mengandung tinta yang bersifat larut.  Tinta tersebut banyak mengandung timbal (Pb) yang sangat bahaya bagi kesehatan. “Bila timbal terakumulasi dalam tubuh bisa menyebabkan gangguan saraf dan bahkan dapat menyebabkan kanker,” katanya.

Sedangkan Kertas yang telah diputihkan sering digunakan sebagai pembungkus teh celup. Kertas ini berbahaya karena sudah ditambahkan bahan pemutih (chlorine). Bila terkena suhu tinggi akan menghasilkan dioksin  atau senyawa racun. Dioksin ini bersifat larut dalam lemak, maka terakumulasi dalam pangan yang relatif tinggi kadar lemaknya. Kandungan dioksin tersebar sekitar 97,5 persen ke dalam produk pangan secara berurutan konsentrasinya yaitu daging, produk susu, susu, unggas, daging babi, daging ikan dan telur.

Selain kertas, bahan lain yang juga sering digunakan untuk membungkus makanan adalah plastik. Bahan pengemas ini memang mudah di dapat dan sangat fleksibel penggunaannya.  Secara umum plastik ter susun dari polimer yaitu rantai panjang dan satuan-satuan yang lebih kecil yang disebut monomer. Polimer ini dapat masuk dalam tubuh manusia karena bersifat tidak larut. “Sehingga bila terjadi akumulasi dalam tubuh akan menyebabkan kanker,” ungkapnya.

Pembungkus jenis ketiga yang marak digunakan adalah dari  Styrofoam. Pembungkus ini sebenarnya termasuk golongan plastik. Styrofoam dibuat dari polimer polystyrene yang “dibusakan” (foamed). Bahan kemasan ini bersifat ringan dan sebagai insulator panas yang baik. Dengan demikian styrofoam digunakan untuk mengemas makanan atau minuman yang panas atau dingin. Styrene yang menjadi bahan dasar styrofoam bersifat larut lemak. “Sifat larut lemak ini, menyebabkan styrofoam tidak cocok untuk wadah makanan atau minuman yang mengandung lemak,” jelasnya.

Dia menambahkan, Styrene mudah berpindah dari wadah ke makanan yang mengandung lemak, misalnya masakan daging atau ikan, masakan sayuran, makanan gorengan, yogurt, susu dan lain sebagainya. Jika makanan dikemas dalam keadaan panas, maka jumlah styrene yang berpindah dari wadah ke makanan menjadi lebih banyak. Banyak produk mi instan yang dikemas dalam wadah gelas atau mangkuk yang dibuat dari styrofoam. Sebelum dikonsumsi mi  dalam wadah tersebut dituang dengan air panas. Hal ini berisiko berpindahnya styrene ke makanan tersebut. Perlu diketahui bahwa mi instan mengandung minyak yang cukup tinggi sehingga kemungkinan dapat meningkatkan jumlah styrene yang berpindah ke makanan. Selanjutnya styrene berpindah ke tubuh orang yang mengonsumsinya. “Bahan-bahan kimia yang telah masuk ke dalam tubuh ini tidak larut dalam air sehingga tidak dapat dibuang keluar, baik melalui urine maupun kotoran,” jelasnya. Tri Sulistiyani