ilustrasi

ilustrasi

SRAGEN - Kebutuhan darah di Kabupaten Sragen tahun 2013 diproyeksikan melonjak hingga 2.400 kantong atau 25 persen dari tahun sebelumnya. Tingginya kebutuhan darah utamanya untuk pasien tidak mampu serta pemberlakuan program cuci darah gratis oleh Pemkab Sragen menjadi faktor pemicu lonjakan tersebut.

Wakil Ketua II Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PPDI) Kabupaten Sragen, Suparto saat memantau donor darah Pemuda Majelis Tafsir Alquran (MTA) Sragen di aula MTA Jirapan, Masaran, Jumat (9/5) mengatakan untuk tahun 2013 ini target kebutuhan darah di Sragen mencapai 13.000 kantong, naik dari 10.600 kantong tahun 2012. Tingginya permintaan darah oleh pasien reguler serta adanya program cuci darah gratis bagi warga miskin adalah faktor yang membuat target perolehan darah meningkat drastis.

“Karena darah itu tidak bisa diproduksi oleh pabrik, makanya satu-satunya jalan memang harus gencar sosialisasi ke masyarakat dan menggandeng semua unsur agar ikut mendonorkan darahnya. Bahwa donor itu ternyata selain sebagai amal, juga bisa membuat tubuh serta psikologis lebih sehat,” terangnya.

Sementara, Koordinator Donor Darah MTA Kabupaten Sragen, Ichwan Yulianto mengungkapkan donor darah memang sudah menjadi agenda rutin MTA setiap bulan. Bahkan, menurutnya MTA tercatat sebagai komunitas penyumbang darah terbesar di Sragen dengan kisaran 2.000 kantong setiap tahun. Selain donor rutin bulanan di setiap kecamatan, salah satu upaya untuk menaikkan target adalah dengan mengaktifkan donor darah dari kalangan pemuda MTA.

“Ini juga sebagai salah satu sumbangsih sekaligus menggugah kepedulian warga MTA untuk membantu sesama utamanya masyarakat Sragen. Setiap bulan kita targetkan 250 kantong masuk. Ya, mencoba memberikan apa yang kita punyai,” urainya.

Sementara, ketua panitia donor darah pemuda MTA, Sabar menambahkan kegiatan donor darah kemarin melibatkan sekitar 350 pendonor baik dari pemuda MTA se-Sragen maupun aparat Polres, Polsek, Pemdes, hingga Muspika. Donor darah pemuda ini merupakan yang pertama digelar dengan tema “Menyelamatkan satu nyawa berarti menyelamatkan kehidupan manusia semuanya”. * Wardoyo