depresi2Depresi pasca stroke jika dibiarkan akan berakibat fatal. Penderita pasca stroke yang mengalami depresi akan semakin kurang latihan otot dan kondisi ini justru akan memperparah keadaannya. Penanganan depresi pasca stroke, sebaiknya sudah dilakukan sebelum depresi tersebut muncul, tidak harus menunggu tiga bulan. Penanganan depresi bisa mulai dilakukan saat memasuki fase pemulihan dan rehabilitasi.

Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Rumah Sakit Kasih Ibu Solo, Dr Sondang Rexano, SpKFR mengungkapkan hal-hal yang bisa dilakukan pada depresi pasca stroke ini antara lain dengan skrining terhadap kondisi mental penderita dengan menggunakan instrumen penilaian MMT (Mini Mental State), sebaiknya dilakukan dalam bulan pertama pasca serangan stroke. “Biasanya dilakukan oleh dokter spesialis saraf atau spesialis rehabilitasi medik,” ujarnya.

Selain itu penanganan depresi pasca stroke bisa dilakukan dengan memperkuat komunikasi dengan dokter, penderita dan yang paling utama adalah keluarga. Dengan adanya diskusi-diskusi tentang keluhan yang dialami penderita, akan lebih meringankan proses rehabilitasi pasca stroke. “Penderita pasca stroke ini sangat membutuhkan kesabaran dan pengertian dari anggota keluarga yang lain,” paparnya.

Penilaian masalah terkait kebutuhan psikologis dan sosial penderita, terkait dengan statusnya dalam keluarga, posisinya dalam mencari nafkah dan tentunya status sosial penderita di lingkungan masyarakat. Ini merupakan hal yang sangat penting dan justru merupakan inti dari deteksi depresi pasca stroke dan penanganannya kelak.

Selain itu, juga diperlukan penanganan medis berupa obat anti depresi yang bisa diresepkan oleh dokter untuk membantu mengatasi gangguan psikisnya. Selain itu pada kasus tertentu diperlukan juga suatu penanganan psikologis yang bisa melibatkan Psikolog atau bisa juga dokter spesialis Psikiatri (Psikiater).

Dijelaskannya, sebenarnya penderita stroke tidak perlu malu atau gengsi untuk  memanfaatkan psikoterapi yang disediakan oleh konselor profesional. Ini menawarkan dukungan, pendidikan dan harapan. Berbagai macam teknik tersedia dan dapat membantu mengubah pemikiran negatif penderita depresi, meningkatkan keterampilan komunikasi, meningkatkan kepercayaan diri dan mengubah perilaku abnormal pada penderita pasca stroke. Penderita dan keluarga memerlukan komunikasi yang teratur dengan tim medis dan rehabilitasi  untuk mendidik penderita dan juga keluarga  tentang stroke dan konsekuensi-konsekuensinya.  “Pastikan untuk memperoleh penanganan profesional dari ahli yang terpercaya dalam penanganan pasca stroke, bukan penanganan alternatif dan abal-abal yang tidak jelas,” paparnya. Tri Sulistiyani