Keraton Solo

Keraton Solo

SOLO-Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 akan diramaikan dengan calon-calon dari keluarga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Untuk Solo sendiri, tercatat dua nama yang masuk sebagai bakal calon legislatif (Bacaleg) dari Partai Demokrat (PD).

Sekretaris DPC Kota Surakarta Supriyanto mengatakan, ada sekitar tujuh keluarga keraton yang ambil bagian dalam pencalegan 2014, mulai dari tingkat DPR RI  hingga DPRD kota. “Untuk Solo ada di dua Dapil (Daerah Pemilihan). Di Dapil I Laweyan ada  BRM Suryo Syailendra Supomo. Sementara di Dapil IV BRA Putri Purwaningrum,” jelas Supriyanto.

Sementara itu, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari atau Gusti Moeng dan KP Eddy Wirabhumi masuk dalam Bacaleg DPR RI. Masing-masing berada di Dapil Jateng V dan IV.

Supriyanto juga menegaskan, Bacaleg dari keluarga keraton itu bukan karbitan. Melainkan sudah menjadi kader PD sebelumnya. Hanya mereka baru mendapat kesempatan pada Pileg tahun depan. “Harus diakui, keluarga keraton masih punya potensi pemilih yang besar. Apalagi abdi dalem keraton tersebar di sejumlah wilayah dan jumlahnya mencapai puluhan ribu,” ungkap dia, Sabtu (8/6).

Meski demikian, pihaknya tak hanya mengandalkan sosok para bangsawan tersebut untuk meraih dukungan. Menurutnya,  PD juga punya Bacaleg yang siap bertarung mendapat simpati masyarakat. “Salah satu alasan keluarga keraton bergabung dengan kami itu untuk memperkuat eksistensi keraton. Ini juga untuk menguatkan struktur organisasi.”

Ketua DPC PD KP Eddy Wirabhumi membenarkan, masuknya sejumlah keluarga keraton dalam pencalegan 2014. “Tidak hanya dari PD. Ada pula yang maju lewat PDIP dan Partai NasDem,” jelasnya.

Menurutnya, ikut andil dalam bidang politik merupakan upaya untuk membawa perubahan dan pembangunan di Indonesia. Namun, dia tak mematok target khusus untuk para Bacaleg berdarah biru itu. “Kalau target, terus terang kami tidak ada target khusus. Kami sadar dinamika politik saat ini berbeda dengan kondisi pada lima tahun lalu. Tetapi ini bukan satu – satunya cara bagi kami untuk mempertahankan eksistensi keraton. Banyak cara lain yang bisa dilakukan.”

Dini Tri Winaryani