KONFLIK - Dua anak bermain di dekat rumah yang roboh di  Kentingan Baru, Solo, Minggu (23/6). Warga masih berkaga-jaga setelah beberapa rumah didaerah tersebut dirobohkan oleh orang tidak dikenal. Joglosemar/Abdullah Azzam

KONFLIK - Dua anak bermain di dekat rumah yang roboh di Kentingan Baru, Solo, Minggu (23/6). Warga masih berkaga-jaga setelah beberapa rumah didaerah tersebut dirobohkan oleh orang tidak dikenal. Joglosemar/Abdullah Azzam

JEBRES- Warga Kentingan Baru, Jebres resah bukan kepalang. Hal itu lantaran adanya ancaman penggusuran yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak dikenal melalui sebuah pesan singkat, Minggu (23/6).

Dari pantauan Joglosemar di lokasi, puluhan warga yang dibantu aparat Kepolisian tampak berjaga-jaga, mengingat sehari sebelumnya, Sabtu (22/6) terjadi perusakan puluhan rumah yang berdiri di lahan sengketa tersebut.

Selain berjaga-jaga, warga juga memasang sejumlah spanduk baik di depan rumah yang roboh maupun di depan gang masuk.

Tulisan di poster berisi kecaman dari warga terhadap para pelaku yang diduga preman. Saat memasuki gang-gang kampung, rumah yang roboh masih dibiarkan ambruk. Di bagian depan rumah warga berkibar bendera merah putih.

Warga terlihat duduk berkerumun di gang-gang kampung. “Warga hanya berjaga-jaga kalau ada aksi serangan lagi. Sebab ada kabar lewat SMS (Short Massage Service) kalau preman mau datang lagi,” kata Hutomo, salah seorang warga, Minggu (23/6) sore.

Beberapa aparat kepolisian juga terlihat melakukan penjagaan. Poster yang dipasang warga itu bertuliskan “Kekejaman Preman” dan dipasang di salah satu reruntuhan rumah.

Poster berukuran kecil itu dipasang di reruntuhan rumah seorang warga yang ambruk. Hutomo mengatakan, seluruh warga paham bila tanah tempat rumah berdiri bukan hak milik mereka. Warga sadar hanya menumpang di atas tanah tersebut lantaran tak punya tempat tinggal.

“Ini memang bukan rumah kami. Tapi bukan begini caranya mengusir. Lihat rumah kami hancur semua,” kata Hutomo.

Akibat aksi perusakan itu, sekitar 60 rumah warga berupa bangunan semi permanen ambruk. Sementara rumah lainnya yang masih berdiri terdapat tanda silang menggunakan cat semprot warna merah.

Hutomo mengatakan, hal yang paling disesalkan adalah aksi perusakan yang membabi buta itu. Padahal, warga sebenarnya bersedia diajak berdialog bila memang diharuskan angkat kaki. Warga sebelumnya tak pernah mendapat ancaman atau peringatan.

“Warga susah payah membangun rumah. Mereka sampai berutang, tapi malah hancur begini,” ujarnya.

Daliman, warga lainnya mengatakan, kerugian yang diderita warga antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta. Warga yang rumahnya rusak tetap tinggal di kampung karena tak punya tempat tinggal lain. Mereka bertahan dan bermalam tidur beralaskan tikar seadanya.

“Ya tidur sembarangan, lha mau tinggal di mana lagi? Kita tak punya tempat tinggal,” katanya. * Ronald Seger Prabowo