MASJID TIBAN- Seorang warga memasuki Masjid Tiban di Dusun Wonokerso, Desa Sendangrejo, Baturetno, satu-satunya bangunan bernilai sejarah yang telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya di Wonogiri. Foto diambil beberapa waktu lalu. dok

MASJID TIBAN- Seorang warga memasuki Masjid Tiban di Dusun Wonokerso, Desa Sendangrejo, Baturetno, satu-satunya bangunan bernilai sejarah yang telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya di Wonogiri. Foto diambil beberapa waktu lalu. dok

WONOGIRI-Sebanyak 81 bangunan berbagai macam dan jenis di Kabupaten Wonogiri diusulkan menjadi Benda Cagar Budaya (BCB) tidak bergerak ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Usulan itu dilakukan guna menarik minat wisatawan datang berkunjung ke Wonogiri.

Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Teguh melalui Kabid Kebudayaan Mulyanto didampingi Staf Kesejarahan dan Nilai Tradisional Gunar Setyawan mengatakan inventarisasi BCB dilakukan selama tahun 2013 ini. Hal itu pun merupakan imbauan dari BPCB.

“Dengan menjadi cagar budaya, maka bisa untuk menarik minat wisatawan yang senang dengan hal-hal berbau sejarah. Di Wonogiri cukup lengkap, mulai dari sejarah manusia purba hingga sejarah secara umum terkait peninggalan Belanda,” kata Mulyanto, Senin (1/7).

Dari hasil pendataan, ada 81 bangunan yang terdata. Mulai dari gedung sekolah, kantor, sendang, masjid, goa, dan petilasan. Jika dipaksakan untuk didata seluruhnya, jumlahnya bisa mencapai ratusan. Untuk yang belum terdata akan didata secara bertahap.

“Dari yang terdata saat ini mudah-mudahan akan bertambah jumlah yang disetujui menjadi cagar budaya. Ada kriteria tertentu agar bisa diusulkan. Dari sisi umur, setidaknya bangunan harus berumur minimal 50 tahun. Juga dilihat bagaimana manfaatnya bagi masyarakat. Dan tentu harus ada nilai historisnya,” lanjut dia.

Hingga saat ini, baru Masjid Tiban di Dusun Wonokerso atau yang dikenal dengan Dusun Tekil Kulon di Desa Sendangrejo, Baturetno yang sudah ditetapkan menjadi Benda Cagar Budaya. Goa Song Gilap yang baru saja dilakukan penggalian fosil, juga masuk yang akan diusulkan.

“Selain Goa Song Gilap di Gebangharjo, Pracimantoro, ada goa lain yang diusulkan. Sebanyak 12 goa yang ada di Kecamatan Pracimantoro, Eromoko, Giriwoyo, dan Giritontro. Kalau pun tidak bisa menjadi objek wisata umum bisa untuk wisata khusus,” kata dia.

Sekretaris Disbuparpora, Sentot Sujarwoko mengatakan pihak Pemkab dalam hal ini hanya pasif dan menunggu hasil dari BPCB. “Tapi ada satu hal yang bertentangan juga. Jika ditetapkan sebagai benda cagar budaya maka harus ada renovasi atau perbaikan. Sementara untuk melakukan itu bertentangan dengan perundangan yang dibuat pusat. Tapi setidaknya makin banyak benda cagar budaya berpotensi menjadi lokasi tujuan wisata,” jelas dia. Eko Sudarsono