Untuk Tarik PKL dari Taman Ekodoyowilogo–under

Penataan berlangsung hingga tiga bulan ke depan dengan anggaran sebesar Rp 489,9 juta dari APBD 2013.

DITATA ULANG-Sejumlah pekerja mulai membongkar taman sebagai bagian dari penataan Alun-Alun Kabupaten Wonogiri, Jumat (12/7). Joglosemar | Eko Sudarsono

DITATA ULANG-Sejumlah pekerja mulai membongkar taman sebagai bagian dari penataan Alun-Alun Kabupaten Wonogiri, Jumat (12/7). Joglosemar | Eko Sudarsono

WONOGIRI-Proyek penataan ulang Alun-Alun Kabupaten Wonogiri dimulai sejak sepekan ini. Rencananya, penataan berlangsung hingga tiga bulan ke depan dengan anggaran sebesar Rp 489,9 juta dari APBD 2013.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Sri Kuncoro melalui Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan, Toto Prasojo mengatakan, penataan dilakukan untuk menarik para pedagang kaki lima (PKL) agar berpindah tempat berjualan saat malam dari bundaran Taman Ekodoyowilogo. Selain memicu macet, tempat yang juga menjadi ajang berkumpulnya massa itu rawan terjadi kecelakaan.

Dijelaskan pula,  dana penataan sebesar Rp 489,9 juta itu, merupakan bagian dari anggaran sebesar Rp 1,5 miliar pada pos anggaran peningkatan keindahan kota APBD 2013. “Penataan agar lebih cantik dan fungsional,” jelasnya, Jumat (12/7).

Ia memaparkan, di sisi barat alun-alun, trotoar masih ada yang diberi taman. Taman itu akan dibongkar dan seluruhnya menjadi trotoar. “Taman di atasnya masih tetap ada. Jika masih ada taman di bawah trotoar hanya 1,25 meter, nantinya akan menjadi 2,7 meter,” imbuhnya.

Tak hanya itu, di trotoar sisi ini akan dipasang 10 steker listrik dan kran air siap pakai. Lokasi ini akan dijadikan tempat para PKL yang banyak berjualan di taman Ekodoyowilogo setiap petang hingga malam. “Kerumunan massa di sana rawan kecelakaan, jadi akan lebih aman dan nyaman jika pindah ke sisi barat alun-alun. Yang penting setelah jualan selesai, harus dibersihkan sehingga tidak ada kotoran atau sampah apapun. Bisa dipakai untuk PKL tapi malam,” lanjut dia.

Sementara itu di sisi timur dekat dengan KUA dan gedung DPRD, pohon palem yang ada akan dipindah ke dalam lapangan. Bekas lokasi pohon palem seluruhnya akan menjadi trotoar dan dilarang untuk PKL. Tidak ada listrik atau kran air di sisi ini. “Kalau pun ada PKL yang berjualan, silakan beroordinasi dengan Satpol PP, bisa atau tidak. Untuk sisi utara yang ada panggungnya, kami tidak berani apa-apakan,” terangnya.

Sedangkan di sisi selatan yang dekat dengan rumah dinas bupati, di pojok timur rencananya akan ditanami satu pohon. Saat pohon tumbuh besar, di bawahnya akan dibuat tempat duduk dan trotoar, lalu di sisi selatan ditutup tatanan batu untuk pijat refleksi kaki. Sementara di pojok barat akan dibuat taman berundak dengan tulisan tiga huruf, GKB alias Giri Krida Bakti yang merupakan nama alun-alun.

“Untuk tulisan Lapangan Giri Krida Bakti yang bentuk beton saat ini kami usahakan tetap ada karena termasuk sejarah. Untuk bagian dalam lapangan, sebagian sisi barat akan dipasangi grass block (paving berlubang-red) dan sebagian tertutup untuk tempat berdirinya tenda dan kursi jika ada upacara atau kegiatan resmi lainnya,” tambahnya.

Trotoar Rusak

Bagian lapangan lainnya masih tetap dibiarkan berumput. Namun ada bagian yang dikeruk untuk memasang pipa-pipa PVC sebagai bagian dari sistem drainase. “Jika sudah jadi, lapangan yang masuk usulan cagar budaya ini bisa lebih cantik. Secara umum, trotoar di Wonogiri Kota banyak yang harus ditata dan diperbaiki. Tapi tahun ini baru bisa empat dari 14 titik. Total trotoar di Wonogiri Kota ada 8,9 kilometer,” terang dia.

Dari 14 itu, hanya empat yang termasuk dalam keadaan baik. Untuk trotoar di semua kecamatan masih akan dilakukan pendataan. Namun yang paling mendesak untuk diperbaiki adalah di Kecamatan Selogiri. Eko Sudarsono