GALABO SOLO

GALABO SOLO

BANJARSARI-  Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Surakarta meminta kepada semua pedagang yang berjualan di Gladag Langen Bogan (Galabo) agar memasang  tarif dalam daftar menu makanan.

Hal itu agar dalam pelayanannya tidak terjadi penggelembungan harga yang bisa merugikan pembeli. Jika imbauan ini tidak diindahkan, Disperindag akan ke lapangan untuk menertibkan para pedagang.

Kepala Disperindag, Rohana mengaku  banyak menemukan pedagang yang tidak menempelkan harga di daftar menu yang disediakan. Padahal, transparansi harga menu makanan dirasa sebagai bentuk pelayanan kepada pembeli agar mengetahui harga makanan yang dibelinya. Menurut  Rohana, kondisi ini banyak ditemukan pada pedagang yang berjualan di siang hari.

“Kebanyakan pedagang siang yang tidak memasangkan tarif,” katanya kepada Joglosemar, Jumat (5/7).

Meski begitu, Rohana pun akan mengevaluasi para pedagang Galabo malam dan memastikan ada tarif yang terpampang dalam daftar menu makanan yang disajikan. Rohana menambahkan, tidak adanya harga dalam daftar menu dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti harga yang tidak sesuai dengan yang seharusnya.

“Kalau bahasa jawanya ‘regane ngepruk’,” katanya.

Disperindag pun berencana akan menertibkan pedagang yang masih tidak mencantumkan harga.  Karena menurutnya, pembeli yang sudah mengetahui harga makanan akan lebih nyaman dibandingkan yang belum mengetahuinya.

Hal itu sesuai dengan yang diungkapkan  salah seorang warga yang rutin membeli di kawasan Galabo, Budi (30). Menurut budi, keberadaan harga dalam daftar menu tersebut memang memang penting. Meski terlihat sepele, tetapi pembeli dapat menghitung sendiri berapa kira-kira uang yang akan dikeluarkannya untuk membayar makanan yang disantapnya.

“Ya lebih tenang kalau sudah ada harganya, kalau belum ada harganya kita kan jadi menebak-nebak berapa nanti habisnya,” ungkapnya.  Ari Purnomo