Aksi pemblokiran jalan dilakukan dengan memasang tiang bambu di tiga titik jalan kampung yang menuju arah lokasi proyek

Demo blokir jalan Proyek Galian C Ilegal

Demo blokir jalan Proyek Galian C Ilegal

SRAGEN—Warga Dukuh Camplangan, Karang Talun, Kecamatan Tanon menggelar aksi demo menuntut penutupan aktivitas penambangan galian C ilegal di wilayah setempat, Senin (15/7). Selain itu mereka juga menutup paksa jalan kampung menuju areal bukit yang selama ini dijadikan lalu lintas truk pengangkut material proyek galian C tanpa izin tersebut.

Demo digelar menyusul keberadaan proyek galian C yang diam-diam kembali beroperasi. Ironisnya, selain tanpa izin operasional maupun persetujuan warga, proyek itu juga diduga justru di-bekingi dan dijalankan sendiri oleh dua kepala desa (Kades) di wilayah setempat.

Ketua RT 19, Dukuh Camplangan, Suwardi mengatakan aksi itu dilakukan sebagai puncak kekesalan warga atas aktivitas galian C yang diketahui nekat dijalankan sejak empat bulan silam. Sikap Kades yang tidak mengindahkan imbauan penutupan dan tanpa meminta persetujuan warga juga dianggap telah melecehkan warga.

“Dulu sudah diprotes warga dan kemudian ditutup. Tapi tahu-tahu sudah empat bulan ini, oleh Pak Lurah Negro (Kades Ketro) dijalankan lagi dan lewat jalan kampung tanpa kulo nuwun ke warga,” ujarnya diamini warga lain.

Aksi pemblokiran dilakukan dengan memasang tiang bambu di tiga titik jalan kampung yang menuju arah lokasi proyek. Selama beraksi, warga juga membentangkan poster bertuliskan “Stop Proyek Bermasalah”, “Jalan Ditutup”, “Petani Menolak Proyek Pengerukan Lurah Negro” dan “Camat dan Satpol PP Tidak Tegas”. “Yang jelas kami minta proyek lebih baik ditutup. Sudah tidak nguwongke (memanusiakan) warga, kalau panas debunya bikin polusi, kalau hujan air dari jalan meluber ke rumah,” timpal Suwarjo (40), warga lain.

Sempat terjadi ketegangan ketika sejumlah preman dan pengemudi truk berusaha menerobos kerumunan warga yang tengah memasang tiang penutup jalan. Beruntung aksi bentrok tak terjadi karena masing-masing berusaha mengendalikan massanya.

Dikonfirmasi, Kades Ketro, Ahmad Saiman Negro mengklaim jika jalan yang dilewati truk-truk proyeknya sebenarnya bukan jalan Karang Talun tapi jalan Desa Ketro dan yang menggelar aksi itu juga warga Karang Talun. Ia juga mengatakan jika proyek memang sudah ditutup untuk kedua pengelola terdahulu. Akan tetapi karena lahannya milik Kades Karang Talun, Ngatimin yang kemudian mengajaknya bekerja sama, maka ia pun menyanggupinya.

“Kalau soal izin, memang belum ada karena di Sragen ini kan belum punya Perda galian C. Tapi kami sudah mengumpulkan masyarakat Karang Talun, Pak Camat, dan penguasa setempat. Soal tuntutan ditutup, saya serahkan kepada aparat. Kalau aparat melangkah sesuai prosedur, saya rasa semua akan selesai,” ujarnya. Wardoyo