Gerakan ini memanfaatkan ruang budaya untuk dijadikan media pengingat alias menolak lupa bagi pemuda tentang banyak peristiwa

wiji thukul

Kegelisahan novelis Okky Madasari terhadap kepekaan anak muda di negeri ini membuatnya membangun sebuah gerakan yang dinamai Barisan Pengingat. Gerakan ini diciptakan untuk mengingatkan generasi muda akan banyaknya kasus pelanggaran hak asasi manusia serta ketidakadilan di masyarakat.

“Saya masih muda. Saya melihat teman-teman di sekitar saya. Kami tumbuh sebagai generasi yang tidak tahu apa-apa. Kami tumbuh menjadi generasi yang dilumpuhkan. Generasi yang dibuat tidak peduli apa-apa,” kata Okky, saat ditemui di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, kemarin.

Hidup pada masa keterbukaan, Okky menilai akses yang serba mudah disertai dengan kecanggihan teknologi membuat kepekaan anak muda terhadap kondisi sekitar hilang, terutama peristiwa yang sudah lewat tapi belum sepenuhnya tuntas. “Saat ini, kita menemukan musuh baru, yaitu informasi melimpah dan teknologi, “ jelasnya dilansir Tempo.

Wiji Thukul, penyair yang hilang sejak 1998, dijadikan ikon gerakan Barisan Pengingat untuk tahun 2014.  Lewat gerakan yang diusungnya ini, Okky memanfaatkan ruang budaya untuk dijadikan media pengingat alias menolak lupa bagi pemuda tentang banyak peristiwa, antara lain lewat dinding berisi puisi. Wiji Thukul, penyair yang hilang sejak 1998, dijadikan ikon gerakan Barisan Pengingat untuk tahun 2014.

Ini merupakan salah satu bentuk pemanfaatan tembok-tembok di ruang publik yang dipenuhi gambar mural berupa kutipan puisi sastrawan, seperti Rendra dan Widji Tukul. Dinding berpuisi ini dibuat oleh Komunitas Serrum, yang ikut terlibat dalam gerakan Barisan Pengingat. “Dinding ini merupakan bentuk perlawanan atas dikuasainya ruang publik oleh kekuatan politik dan bisnis,” kata Okky yang pernah menerima Khatulistiwa Award 2012 lalu.

Aktris Dinda Kanya Dewi menjadi bagian dalam gerakan itu. Ia merasa tersentil setelah menyadari bahwa dirinya termasuk generasi muda “pelupa” yang tidak menyadari adanya ketidakadilan sosial yang terjadi di sekitarnya. “Saya merasa diingatkan bahwa masih ada isu-isu sosial di sekitar kita, tapi kok saya seakan tidak tahu atau tidak peduli ya? Itu jadi sindiran tersendiri bagi saya,” kata Dinda.

Pemain sinetron yang kerap memerankan tokoh antagonis ini mengaku tertohok saat membaca bait dari penggalan puisi karya Wiji Thukul.  “Ada puisi yang paling saya ingat karya Wiji Thukul, ‘Apa guna baca buku kalau mulut kau bungkam melulu’. Saya merasa tertohok setelah membaca puisi itu,” ungkap Dinda

Bagi Dinda, menjadi bagian dari gerakan Barisan Pengingat berarti menyumbangkan kontribusi untuk mewujudkan generasi muda yang kritis dan membuka mata atas apa yang terjadi di negeri ini. “Saya ingin mengingatkan teman-teman lain yang lupa pada sejarah kelam negara kita, yang hanya jadi rumor atau cerita belaka yang membuat kita tidak peduli,” tutup dia. Cisilia Perwita S