Pemilu 2014 yang Sehat, Sebuah Utopia?

Pemilu 2014 yang Sehat, Sebuah Utopia?

672

Oleh: Dipa Nugraha

Dosen UMS

Parenti menunjukkan bahwa pewartaan yang berimbang di dalam penampilan sebuah berita cenderung tidak pernah terjadi

image descriptionMenarik memang ketika membaca kisah ‘tertangkapnya’ Walang dan Sa’aran oleh petugas Suku Dinas Sosial Jakartadi perempatan Pancoran beberapa waktu yang lalu. Berdasarkan penuturan media massa, kedua pengemis dari Subang ini menjalankan aktivitasnya hanya pada malam hari dan berhasil mendapatkan lebih dari Rp 25 juta dalam waktu 15 hari. Bahkan cerita justru semakin menarik ketika dinarasikan oleh media massa bahwa Walang mengemis untuk mencicil Ongkos Naik Haji (ONH)  dan membeli mobil.

Kisah Walang dan Sa’aran menjadi menarik karena berita yang muncul mengenai petualangan mereka di Jakarta menjadi pengemis disajikan begitu rupa sehingga pembaca akan menafsirkan bahwa Walang dan Sa’aran “memang” menghasilkan Rp 25 juta dengan cara mengemis selama 15 hari di Jakarta. Kisah ini menjadi semakin spektakuler ketika beberapa sosiolog memberikan komentar akademik mengenai fenomena Walang dan Sa’aran.

Cerita mereka ini menjadi semakin menarik karena sejatinya — yang tidak terlalu intens diulas oleh banyak media massa kemudian– bahwa uang yang dibawa Walang dan Sa’aran tersebut  bukanlah melulu hasil dari aktivitas mengemis selama 15 hari di Jakarta. Berdasar penuturan Walang, uang Rp 25 juta tersebut sebanyak Rp 21 juta merupakan uang hasil jual beli sapi dan olah sawah sewa yang selama ini merupakan aktivitasnya di kampung. Walang selalu membawa uangnya sebab ia tidak terbiasa dengan kerumitan penyimpanan uang di bank dan jikalau ditinggal di rumahnya ia khawatir anak tirinya akan mengambil uang tersebut.

Jadi uang Rp 25 juta Walang dan Sa’aran bukanlah melulu dari hasil mengemis selama 15 hari. Akan tetapi apa yang telah disampaikan di beberapa media massa seakan-akan telah membentuk persepsi publik bahwa mengemis di Jakarta sungguh menggiurkan hasilnya. Buktinya: Walang dan Sa’aran!

Problem Narasi di Media

Ada semacam dilema penampilan sebuah teks oleh media massa. Dilema yang dihadapi adalah keterbatasan ruang penyampaian dan kebutuhan untuk selalu menampilkan berita-berita lain sehingga kesan “terkini” selalu terjaga. Tambahan pula, begitu banyak berita “terkini” selalu sedang menunggu giliran untuk segera disajikan.

Ada semacam implikasi pragmatis dari keadaan ini. Kisah Walang dan Sa’aran “pada mulanya” ditampilkan “tidak cukup lengkap” oleh surat kabar dan televisi sebab dilema ruang dan waktu terjadi. Para jurnalis “kadang” tidak cukup waktu untuk melakukan investigasi mendalam karena dikejar deadline atau karena proses investigasi memang tidak secepat kebutuhan tampilnya berita. Saat “berita yang belum utuh” ini mendapat respons tinggi di masyarakat, baru timbullah kebutuhan untuk mengulas berita tersebut secara utuh yang sifatnya opsional.

Baca Juga :  Sekolah Inklusi Gender

Mengapa opsional? Sebab, semisal dari hasil investigasi lanjutan ditemui bahwa sensasi gempar yang telah terjadi di masyarakat bakal redup oleh pemberitaan lengkap dan menyeluruh – bahwa sebagian besar uang Rp 25 juta Walang dan Sa’aran ternyata bukan melulu dari hasil mengemis – ada dua opsi yang mungkin dipilih. Pertama, memberitakan secara utuh berdasarkan investigasi lanjutan sehingga masyarakat kemudian reda kegemparannya. Kedua, menampilkan berita-berita lain yang sudah menunggu diterbitkan sebab lebih menguntungkan bagi citra “terkini.”

Sudah menjadi kemahfuman bahwa publik menyukai berita sensasional. Di sisi lain, penyaji berita tidak bisa dikatakan melakukan kesalahan sebab yang mereka sampaikan, sampai kadar tertentu, memang mengandung fakta-fakta. Di sisi lain tidak ada kewajiban bagi mereka untuk menyampaikan semua fakta yang mereka temukan. (Sebagian) fakta sudah disampaikan zonder peduli apakah publik tergiring kepada penafsiran yang tepat atau tidak dan berita-berita (sensasional) lain sudah menunggu giliran untuk segera ditampilkan.

Narasi Media Massa

Sebuah renungan patut muncul dari apa yang tersampaikan di atas. Perlu bagi kita untuk khawatir dengan berita yang kita peroleh dari media massa menjelang Pemilu. Kita, para penikmat media massa – meminjam istilah Wolfgang Iser – adalah konsumen narasi media massa. Kita berhadapan dengan teks yang disajikan oleh media massa sehingga membentuk semacam narasi yang selalu terikat kepada data-fakta yang disediakan oleh media massa; apakah lengkap, belum lengkap, hanya sebagian, atau tersortir demi kepentingan sebuah narasi.

Secara bawah sadar, cara kita merespons teks media massa dengan cara kaku sebab kita meyakini bahwa media massa akan “selalu independen, akurat, runtut, dan lengkap.” Hal ini sejatinya  disorot oleh Michael Parenti di dalam esai-nya Monopoly Media Manipulation (2001). Parenti menunjukkan bahwa pewartaan yang berimbang di dalam penampilan sebuah berita cenderung tidak pernah terjadi sebab “tidak menguntungkan” penguasa media massa; para kapitalis atau pemerintah. Terjadilah apa yang disebut dengan follow-up avoidance, framing dan false balancing. Follow-up avoidance merupakan bentuk penampilan suatu kejadian sengaja tidak lengkap sehingga berpotensi menimbulkan distorsi penafsiran (misal Kasus Walang dan Sa’aran) sedangkan framing merujuk kepada bagaimana sebuah kejadian ditampilkan sehingga menggiring penafsiran tertentu sesuai keinginan penggubah teks.

Baca Juga :  Mengukir Diri, Mengabdi Pada Negeri: Refleksi Akreditasi “A” bagi UMS

Penggubahan Narasi

Pemilu 2014 sudah di ambang pintu. Merujuk kepada gencarnya pemberitaan di dalam mengarahkan dan membentuk “persepsi” publik lewat media massa, perlu muncul kekhawatiran dalam diri kita sebagai konsumen media massa menuju pemilu 2014. Apa yang dibahas Parenti (2001) di dalam esai-nya patut kita jadikan pegangan. Kita melihat bahwa akhir-akhir ini beberapa kandidat pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) pemilik media massa secara masif menampilkan diri maupun partai mereka lewat media massa yang mereka miliki.

Mengenai fenomena ini, KPID DKI Jakarta lewat risetnya yang bekerja sama dengan enam perguruan tinggi sebenarnya telah memberikan lampu kuning kepada kita bahwa “ada kecenderungan pemberitaan dan iklan (di media massa) pun sudah disusupi kampanye (politik)” sebagaimana penuturan Hamdani Masil, Minggu (29/12).

Terkait dengan esai Parenti, yang berbahaya bagi sehatnya demokrasi kita bukan iklan politik. Sebab iklan politik adalah sah dan awam pun akan gampang memaknainya sebagai ajakan politis. Hal yang berbahaya bagi demokrasi kita-– dan kurang disadari sebagian besar dari kita -– adalah potensi penyajian berita yang diubah sedemikian rupa sehingga tercipta persepsi yang baik bagi suatu partai atau kandidat pasangan Capres- Cawapres tertentu dan persepsi yang “kurang elegan” bagi partai dan pasangan lainnya lewat “penyortiran” berita- “pemolesan” berita: sebuah bentuk false balancing.

Bagaimana jika kelak pilihan partai dan pasangan presiden-wakil presiden kita di Pemilu 2014 merupakan bentuk akumulasi atas penggiringan oleh narasi media massa dari “hal-hal baik” saja yang dimiliki oleh kandidat-kandidat pemilik media massa? Kekalisan kita akan “hal-hal yang tidak begitu baik” yang sengaja sering ditampakkan ada pada partai serta kandidat-kandidat lain yang tidak memiliki media massa?

Celakanya, kita berpotensi tidak adil menilai semua kandidat peserta Pemilu sebab fakta-fakta “yang ada” mengenai kelebihan suatu partai atau pasangan kandidat Capres-Cawapres hanya tersedia sebagaimana supplier fakta sajikan kepada kita: tidak berimbang. Fair-kah hal demikian bagi sehatnya demokrasi kita jika tidak ada peregulasian? Dus, layakkah kita melabeli sehatnya pemilu 2014 sebagai sebuah utopia?

BAGIKAN