TUNJUKKAN LUKA- Mandor Afdeling Kepoh, Sambirejo, Widodo saat menunjukkan luka bekas tombak yang dialaminya saat aksi anarkis warga Sambirejo menebang paksa ribuan pohon karet milik PTPN IX, Kamis (6/3). Wardoyo

TUNJUKKAN LUKA-  Mandor Afdeling Kepoh, Sambirejo, Widodo saat menunjukkan luka bekas tombak yang dialaminya saat aksi anarkis warga Sambirejo menebang paksa ribuan pohon karet milik PTPN IX, Kamis (6/3). Wardoyo

SRAGEN—Sedikitnya 500 karyawan dan satgas dari seluruh wilayah PTPN IX di Jateng menggelar aksi unjuk rasa di halaman pabrik PTPN IX Kebun Batujamus, Kerjoarum, Kedawung, Sragen, Kamis (6/3). Selain mengecam segala bentuk aksi sabotase aset PTPN, mereka juga mengancam melakukan sweeping terhadap pelaku perusakan ribuan pohon karet PTPN IX Afdeling Kepoh, Sambirejo serta pelaku penganiayaan salah satu mandor PTPN IX pada Senin (3/3) lalu.

Tidak hanya itu, ratusan karyawan dan satgas yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Perkebunan PTPN IX Divisi Tanaman Tahunan (FSPBUN IX TT) itu juga mengancam akan mengerahkan 5.000 massa untuk melakukan penangkapan pelaku jika dalam 14 hari ke depan aparat kepolisian tak segera menindak tegas para pelaku.

Ratusan karyawan dan satgas itu datang dari berbagai wilayah mulai dari Jepara, Cilacap, hingga beberapa PTPN IX di Jateng. Ketua Umum FSBUN PTPN IX, Budiyono mengatakan aksi demo digelar sebagai rasa empati atas aksi penjarahan aset pohon karet milik PTPN IX secara besar-besaran oleh warga Sambirejo beberapa hari lalu.

Menurutnya, kepolisian harus secepatnya bertindak untuk memberikan keamanan dan kepastian hukum. Sebab selain mengancam aset negara, jika terus dibiarkan maka akan semakin mengancam kelangsungan PTPN, mengancam nasib 22.000 karyawan, serta ribuan masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari operasional PTPN IX.

“Kasus di Sambirejo ini sudah lama tapi tidak pernah ada penindakan. Dulu dibangun gubuk-gubuk di kebun, tapi dihancurkan oleh Polres. Makanya kami menuntut kepolisian bertindak tegas. Kalau tidak ada penegakan hukum, tanaman akan rusak semua dan penganiayaan didiamkan, mau jadi apa,” ujar Budiyono di sela-sela orasi.

Aspirasi karyawan dan satgas itu juga dituangkan dalam pernyataan sikap mereka yang dibacakan saat aksi berlangsung. Di antaranya menuntut penegakan supremasi hukum, menuntut perlindungan kepada PTPN dan aset negara, serta tidak melepas sejengkal pun aset PTPN.

Ia justru khawatir jika aksi perusakan dibiarkan dan tuntutan pelepasan aset dikabulkan, hal itu akan menjadi pemantik bagi gerakan terorganisir dari kelompok masyarakat yang berusaha menguasai lahan PTPN di daerah lain. Sebab modus-modus serupa juga sudah banyak terjadi di luar Jawa. Karenanya, jika dalam 14 hari tidak ada kepastian, maka pihaknya akan mengerahkan 5.000 massa dan seluruh anggota satgas PTPN untuk menangkap sendiri para pelakunya.

“Lahan PTPN itu sudah ada Hak Guna Usaha (HGU) dan itu aset negara. Kalau menganggap itu warisan nenek moyang, ya semua warisan nenek moyang Nabi Adam. Lalu kalau merasa itu hak mereka, kenapa tidak berani menuntut jalur hukum. Artinya mereka hanya memaksakan hak untuk menguasai lahan saja,” tegasnya.

Dalam aksi kemarin, ratusan pekerja itu juga sempat menyebut dan meneriakkan agar polisi secepatnya menangkap Sunarji yang diyakini berada di balik aksi warga. Bahkan, beberapa di antaranya sempat nyeletuk agar yang bersangkutan dihukum atas tindakannya merusak kebun serta menganiaya salah satu mandor PTPN.

Administratur PTPN IX Batujamus, Kerjoarum, Agus Hargiyanto mengapresiasi aksi serikat pekerja dan meminta agar kepolisian segera bertindak tegas menegakkan supremasi hukum. Pasalnya, aksi perusakan di Sambirejo sudah berlangsung sejak tahun 2000 dan merugikan PTPN miliaran rupiah.

Aksi kemarin dikawal ketat ratusan aparat Polres di bawah komando Wakapolres Sragen, Kompol Edy Suranta Sitepu dan Kabag Ops Kompol Sony Suharna. Di hadapan pendemo, Kompol Edy mengatakan kepolisian sudah berkomitmen untuk memproses kasus tersebut dan saat ini penyelidikan masih terus dilakukan. Ia juga menggaransi, penanganan kasus perusakan maupun penganiayaan akan tetap berjalan seperti yang diinstruksikan oleh Kapolda Jateng. Wardoyo