JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Daerah Belitung-Pontianak Rawan Badai Petir

Daerah Belitung-Pontianak Rawan Badai Petir

508
BAGIKAN
 ilustrasi
ilustrasi

JAKARTA– Pesawat AirAsia QZ8501 jurusan Surabaya-Singapura hilang kontak di sekitar Tanjung Pandan (Belitung) dan Pontianak (Kalimantan). Pilot sempat melapor untuk pindah ketinggian, ternyata di daerah tersebut memang rawan terjadi tumpukan awan.

BMKG memang menyatakan di daerah tersebut terjadi awan cumulonimbus yang sering memunculkan petir dan badai di udara. Pilot senior Garuda Indonesia yang kini menjadi salah satu pilot air race, Jeffrey Adrian, membenarkan daerah sekitar Bangka-Belitung memang rawan hal tersebut.

“Cuaca, sering terjadinya tumpukan awan di sekitar Babel dan sesaat sebelum tiba di Singapore di atas Kepulauan Riau,” kata Adrian melalui twitter, Minggu (28/12/2014).

Namun demikian dengan izin ATC, pesawat bisa deviasi ke kiri atau kanan sesuai permintaan pilot atau arahan dari ATC dalam mengindari awan tebal atau cuaca buruk yang akan tampak di radar cuaca pesawat maupun ATC. Pilot juga bisa melakukan deviasi vertikal dengan meminta perubahan ketinggian.

“Perubahan ketinggian juga bisa diperintahkan ATC dikarenakan kepadatan lalu lintas rute tersebut, digunakan ATC untuk menghindari kemungkinan konflik,” katanya.

Seperti diberitakan QZ8501 akan melakukan perubahan ketinggian dari 32 ribu kaki ke 38 ribu. Menurut Adrian, harus dipastikan apakah instruksi dari ATC dalam hal ini ATC Jakarta atau atas permintaan dari pilot karena menghindari cuaca.

“Kalau pilot request artinya di ketinggian 32 ribu kaki. Hal ini Jakarta Control,atau atas permintaan dari pilot. Kalau pilot request,artinya di ketinggian 32 rb bukan ketinggian yang nyaman saat itu,” tulis Adrian.

“Kenapa FL380 bukan 340,360 diperkirakan bahwa apa yang ada di hadapannya cukup lebar dan tebal sehingga diperlukan perubahan yang significant,” paparnya.

Pilot pesawat AirAsia QZ8501 memang sempat meminta izin untuk menyimpang jalur dan naik ke ketinggian 38 ribu kaki. Namun, yang diizinkan ATC baru menyimpang dari jalur.

“(Pilot) Lapor pada petugas ATC meminta pesawat menyimpang dari rute penerbangan dan naik pada kepada ketinggian 38 ribu feet atau 380 FL (Flight Level). Sudah disetujui menyimpang, namun naik 38 ribu feet belum disetujui karena ada traffic, juga belum ada izin dari ATC sekitarnya,” jelas Plt Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Joko Muryatmojo, dalam jumpa pers di Bandara Soekarno-Hatta petang ini.

Adrian menganalisis cukup mendalam soal hilangnya pesawat AirAsia ini. Dalam kondisi darurat, menurut Adrian, pilot punya banyak kesempatan untuk mendarat di bandara terdekat.

“QZ8501 memiliki bandara-bandara yang bisa didarati apabila mengalami hal-hal tersebut sebagai contoh Semarang, Solo, Jakarta, Bandung, Palembang, Pontianak, Medan, KL,” paparnya.

detiknews