JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Tragedi Charlie Hebdo, Pelajaran tentang Kebebasan Berekspresi

OPINI: Tragedi Charlie Hebdo, Pelajaran tentang Kebebasan Berekspresi

668
BAGIKAN

Beberapa elemen umat Islam Surakarta menggelar aksi longmarch dari Masjid Baitussalam Tipes menuju bundaran Gladag memprotes majalah Charlie Habdo yang kembali menampilkan karikatur Nabi Muhammad SAW, Jumat (16/01/2015) siang | Foto: Maksum N F
Beberapa elemen umat Islam Surakarta menggelar aksi longmarch dari Masjid Baitussalam Tipes menuju bundaran Gladag memprotes majalah Charlie Habdo yang kembali menampilkan karikatur Nabi Muhammad SAW, Jumat (16/01/2015) siang | Foto: Maksum N F

Dipa Nugraha S

Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta

Mahasiswa PhD Monash University Australia

 

Charlie Hebdo memang menyebarkan kebencian dan mengajarkan rasisme, begitu kesimpulan dari tulisan Olivier Cyran di Desember tahun 2013. Di dalam tulisan yang berjudul Charlie Hebdo, Pas Raciste? Si Vous Le Dites …Cyran, pernah kerja di Charlie Hebdo dari 1992 hingga 2001, memberikan contoh bagaimana takutnya Charlie Hebdo ketika berurusan dengan Yahudi seperti pada kasus Maurice Sinet di tahun 2008. Sebaliknya, berulang kali Charbonniere hanya tertawa saja menanggapi protes adanya protes penyebaran Islamofobia di Perancis lewat majalah Charlie Hebdo.

Perancis dikenal lewat kehidupan bernegaranya yang menjunjung kebebasan. Kalimat dari filsuf besar Perancis, Voltaire, “Saya akan bela mati-matian kebebasan kamu untuk menyatakan pendapatmu meski berbeda dengan apa yang saya yakini” sering dirujuk untuk menggambarkannya. Namun, Alexandra Charoux, seniman yang kini tinggal di London, membantah hal ini.

Perancis tidaklah seratus persen bisa dikatakan demikian. Sebagai contoh, di beberapa daerah di Perancis, perempuan Muslim bisa dipaksa keluar dari sekolah jika tetap memakai jilbab –bukan hanya niqab sebagaimana selama ini yang sering diberitakan– dan baru diperbolehkan lagi bersekolah ketika sudi melepas jilbabnya. Charoux juga beri contoh lain semisal adanya larangan demonstrasi pro-Palestina di Perancis.

Contoh lainnya dari ambiguitas kebebasan berekspresi di Perancis terjadi pada sebuah band rap Perancis, Sniper. Sniper dibawa ke pengadilan di tahun 2003 dengan tuduhan anti-Semit. Berturut kemudian, ada juga Richard Makela diseret ke pengadilan pada tahun 2006 dengan tuduhan penghinaan kepada negara Perancis, Napoleon dan Jenderal de Gaulle. Dan yang terbaru, Dieudonne, komedian Perancis, ditangkap oleh pihak berwajib karena lewat posting Facebook menulis status yang dianggap mengolok tagar “je suis Charlie” dan disebut sebagai dukungan atas terorisme.

Kasus pembantaian terhadap kartunis Charlie Hebdo juga menyeret beberapa penulis untuk berkomentar terkait dengan visualisasi Nabi Muhammad yang dilakukan majalah Charlie Hebdo. Problem Charlie Hebdo bukanlah “sekadar” membuat visualisasi Nabi Muhammad namun “terlalu sering” menampilkan kartun Nabi Muhammad dengan nada penghinaan yang terlalu sebagaimana dinyatakan oleh Dalia Mogahed, Reza Aslan, Jacob Canfield, dan Sandip Roy. Menggunakan istilah Deltombe yang dikutip Cyran, praktik berkeseringan mensatirekan minoritas Islam dan Nabi Muhammad adalah bentuk rasisme dan Islamofobia lewat penyalahgunaan kebebasan berekspresi yang absolut.

Ada juga tambahan perspektif mengenai tragedi ini. Myriam Francois-Cerrah, seorang juru debat anti-Islamofobia Eropa, mengatakan bahwa Charlie Hebdo lewat kartun-kartunnya juga telah membuat Muslim di Perancis mempunyai stereotip yang sangat buruk. Stereotip buruk inilah yang membuat kehidupan Muslim di Perancis menjadi susah. Stereotip buruk bertambah parah ketika kebanyakan warga Muslim adalah keturunan Afrika Utara yang selama ini diperlakukan sebagai warga negara kelas dua seperti diutarakan oleh Adam Shatz. Majalah ini juga seakan lupa bahwa tradisi satire lazimnya, seperti dikatakan oleh Will Self, adalah sindiran kepada yang berkuasa dan tidak lazim atau elok digunakan untuk berterusan menyerang yang “lemah.”

Tragedi Charlie Hebdo juga menautkan polemik tradisi visualisasi Nabi Muhammad dengan blasphemy (penistaan agama). Tapi bagaimana sebenarnya pandangan Islam di dalam visualisasi Nabi Muhammad?

Di dalam tradisi Islam lewat imam empat mahzab kecuali Imam Malik, penggambaran manusia dan hewan (taswir) adalah dilarang. Bagi Imam Malik, penggambaran manusia dan hewan selama tidak dalam bentuk yang utuh adalah diperbolehkan. Pandangan Imam Malik dapat dilihat pada bagaimana Nouman Ali Khan menggunakan visualisasi manusia atau hewan tanpa wajah, tanpa hidung, setengah badan, atau tanpa punya leher di dalam dakwah lewat media sosial. Pada saat kamera foto dan perekam video ditemukan –sesuatu yang tidak ada di zaman imam empat mazhab- ulama modern terbagi menjadi dua pendapat utama. Pendapat pertama menghukumi sama dengan hukum taswir. Pendapat kedua, seperti dipegang oleh Muhammad Bakhit al-Muti’i dan Yusuf Qaradhawi, membolehkan dengan alasan bahwa foto dan video hanyalah menangkap bayangan dari makhluk ciptaan Tuhan.

Dalam persebaran Islam ke negara-negara lain, pendapat Imam empat Mazhab mengenai taswir tidaklah langsung berterima. Ada rentang proses penyampaian semua pendapat dari Imam empat mazhab (termasuk tentang taswir) dengan mulai masuknya Islam di suatu wilayah. Hal ini belum termasuk keberterimaan pada semua pendapat dari setiap Imam. Oleh sebab itulah, beberapa karya seni di dalam sejarah kadang ditemukan variasi praktik taswir.

Inilah yang membuat tulisan Christian Grueber dari University of Michigan yang berjudul The Koran does not forbid images of the prophet tentang taswir khususnya penggambaran Nabi Muhammad di dalam tradisi Islam menjadi kurang pas. Grueber “bermain-main” dengan pemahamannya akan tradisi Islam terkait taswir dengan meluputkan pandangan empat Imam dalam perkara taswir. Ia justru lantas menunjuk bahwa pandangan tentang larangan menggambar Nabi Muhammad adalah (dapat dirujuk) pada (fatwa dari teroris) Taliban. Seakan-akan ada semacam konklusi misleading yang hendak dibangun oleh Grueber bahwa Muslim yang memegangi fatwa taswir dari Imam empat Mazhab sebagai pengikut (teroris) Taliban.

Ini menjadi sesuatu yang tidak pas dan malah bisa mengkotakkan Muslim yang memegang pendapat empat Imam sebagai sama dengan Taliban yang dicap sebagai teroris. Grueber tampaknya harus mengkaji penjelasan Dalia Mogahed. Sebagaimana Dalia Mogahed sampaikan bahwa penghindaran depiksi secara visual dan karikatur pelecehan adalah bagian dari penghormatan kepada Nabi Muhammad dan kekhasan Islam sebagai ikonoklastis (mencegah pemberhalaan imaji).

Tragedi di Paris atas Charlie Hebdo menjadi pelajaran bagi kita semua –bukan hanya Perancis– tentang risiko kebebasan berekspresi tanpa batas apalagi jika kemudian disalahgunakan untuk mengagitasi mereka yang minoritas atau liyan. Risiko bara yang disulut justru semakin besar, seperti Charlie Hebdo.

Dalam masyarakat kita ada filosofi yang disebut dengan tepa slira atau tenggang rasa. Ajaran untuk tenggang rasa inilah yang mengajari kita untuk saling menjaga perasaan masing-masing; tidak sembarangan berpendapat apalagi jika menyangkut identitas ke-SARA-an. Dan pada penyataan Presiden Jokowi terkait tragedi itu dapat kita saksikan kewaskitaan ajaran tepa slira­. Dia menyampaikan hujatan kepada aksi pembantaian itu sembari mengingatkan kepada semua untuk tahu batasan di dalam berekspresi baik lewat tulisan maupun lewat gambar. Dan bukankah, sebagaimana nasihat Nouman Ali Khan, Nabi Muhammad sendiri selama hidupnya sering sekali diejek oleh orang lain sampai-sampai diabadikan di dalam Alquran dan tidak diselesaikan dengan sembarangan main hantam?