Arsitektur Masjid Al Ma’Moer Laweyan Mengadopsi Bangunan Arab

Arsitektur Masjid Al Ma’Moer Laweyan Mengadopsi Bangunan Arab

82
190616-WEB-yud-mingguan-gazebo-masjid al mamoer1
Masjid Al Ma’Moer Laweyan Solo. Joglosemar | Mohammad Ayudha

Bangunan Masjid di Kota Solo banyak terwarnai dengan bangunan Jawa. Beberapa di antaranya merupakan bangunan tua yang hingga saat ini masih dipakai aktif untuk kegiatan keislaman.

Di salah satu sudut Kampung Batik Laweyan Solo, terdapat sebuah masjid yang diresmikan tepat sehari sebelum hari kemerdekaan Republik Indonesia, 16 Agustus 1945. Berbeda dengan masjid lainnya. Jika masjid kuno umumnya bentuk bangunan dipengaruhi oleh bentuk bangunan Jawa. Tetapi, masjid ini bentuk bangunan banyak dipengaruhi oleh bentuk masjid di Arab.

Masjid ini juga tercatat sebagai masjid pertama yang didirikan oleh warga, sedangkan masjid tua lainnya kebanyakan dibangun oleh Keraton Solo. “Almarhum kakek saya yang dulu mewakafkan tanah untuk dibangun masjid ini,” ujar Muhamad Najib,  belum lama ini.

Baca Juga :  Proyek Sekolah Satu Atap Ditarget Desember, Tapi Sekarang Baru 22%

Seorang saudagar batik bernama Haji Mas Sururi Bin Sulaiman, kala itu mewakafkan tanahnya untuk dibangun sebuah masjid. Tempat ibadah umat Islam yang berada di Jalan Sidoluhur, Laweyan, Solo tersebut diberi nama masjid Al Ma’Moer. Masjid itu dari luar tampak sebagai sebuah bangunan kuno namun tetap terawat.

Sejak dibangun sampai saat ini tak banyak yang diubah, termasuk tempat wudu yang berupa kolah/bak besar tanpa pancuran. Jemaah yang akan berwudu disediakan beberapa gayung untuk mengambil airnya langsung. Beberapa bagian juga masih sama, hanya beberapa ditambah dengan keramik dan diperbaharui catnya.

Baca Juga :  Wisuda FSRD ISI Surakarta Bertemakan Garden Party

Masjid ini dibangun dengan berpedoman dari beberapa gambar foto yang dibawa Mas Sururi saat berhaji di Mekah. Dari beberapa gambar masjid asli Mekah ini kemudian diadopsi dan diwujudkan menjadi sebuah masjid dengan luas 446 meter persegi.

Sejak dibangun, masjid ini belum pernah digunakan untuk melaksanakan salat Jumat, namun hampir setiap Ramadan, masjid ini digunakan untuk beri’tikaf. Keaslian masjid juga tampak dari beberapa penanda dan tulisan yang masih menggunakan ejaan lama. Masjid ini juga merupakan masjid kedua di Laweyan setelah masjid Laweyan yang didirikan oleh Keraton Solo di kampung batik tersebut.

Tri Sulistiyani

BAGIKAN