JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Female Menggambar Bisa Mengasah Kesabaran

Menggambar Bisa Mengasah Kesabaran

68
BAGIKAN
26062016-WEB-SUTANTO-guru lukis (1)
Sutanto, guru melukis. Joglosemar | Amrih Rahayu

SIAPA sangka, dari kemampuan menggambar ternyata bisa mengasah keterampilan emosi anak. Sutanto, guru melukis di sejumlah sekolah di wilayah Solo dan Sukoharjo, Jawa Tengah  menjelaskan, dengan menggambar anak bisa belajar mulai mengendalikan emosinya.

“Usia  2 atau 3 tahun anak-anak diperkenalkan untuk membangun emosi. Sementara kalau usia 3,5 tahun sampai 4 tahun,  anak sudah mulai produktif. Dari usia itu mengarahnya pada target bentuk dan teknik,” jelas pria yang mengajar menggambar di TK dan SD Al Azhar Solo Baru ini. pada Joglosemar, Rabu (22/6).

Menurutnya, keluarga mempunyai peranan penting untuk mendukung si kecil.  Orangtua bisa mengajak anak-anak lebih detail bentuk benda-benda atau lingkungan sekitar. Untuk refreshing, si kecil bisa diajak jalan-jalan ke taman, melihat buku bergambar, menonton video akan bisa menambah pengalamannya akan beragam bentuk dan warna.

“Orangtua juga harus mau modal, ndak usah banyak-banyak. Kita bisa memanfaatkan kertas bekas. Misalnya kertas bekas kalender di sisi belakang yang putih bersih. Anak-anak diajak menggambar di kertas tersebut memakai spidol yang besar,” jelas dia.

Di situ, lanjut Tanto, mengajarkan anak agar yakin dan pede ketika menggoreskan spidolnya. “Jangan biasakan menghapus, itulah karya anak. Kalau terlalu sering menghapus, nanti anak tidak pede dengan karyanya. Selain itu juga mengotori kertas gambarnya,” terang dia.

Kemudian, anak-anak dituntut kesabarannya untuk membuat dan mewarnai bentuk-bentuk sederhana seperti lingkaran, kotak, persegi dan segitiga. Memang, diakui, awalnya anak-anak akan sulit untuk menyelesaikan pewarnaan dalam satu gambar. Tapi, lama-lama anak akan mulai terbiasa dalam mengaplikasikan warna.

“Pada pemilihan warna pun anak dituntut untuk berani memberi warna. Dari pemberian warna ini juga anak-anak mulai belajar keberanian.”

Selain itu, lanjut dia, orangtua juga tidak ada salahnya untuk mengajak anak untuk mengikuti lomba menggambar. “Kalah tidak apa-apa. Nanti juga anak-anak mulai bisa dan, saya kira kalau bakatnya memang di seni lukis dan diasah dengan baik, anak akan berkembang. kalau ikut sanggar menggambar atau les gambar, nanti bakat anak-anak akan lebih terarah,” ujar dia.

Namun demikian, berhasil atau tidaknya dalam pembangunan emosi itu bergantung pada kontinuitas pembelajaran. Tapi, sekali lagi, dia menekankan bahwa bakat setiap anak berbeda. Jika anak bakatnya di bidang lain, orangtua tidak boleh memaksa anak untuk belajar menggambar.

Amrih Rahayu