Ajarkan Si Kecil Bertoleransi Sejak Dini

Ajarkan Si Kecil Bertoleransi Sejak Dini

63
Siswa-siswi SDN Wonosaren, Jebres, Surakarta saat berpose bersama tokoh upin dan ipin pada ajang Anak Kreatif Anak Hebat 2016 Bersama Pasta Gigi dan Vitamin Citrex Upin & Ipin, Jumat (21/10/2016). Foto : Insan Dipo Ferdias
Siswa-siswi SDN Wonosaren, Jebres, Surakarta saat berpose bersama tokoh upin dan ipin pada ajang Anak Kreatif Anak Hebat 2016 Bersama Pasta Gigi dan Vitamin Citrex Upin & Ipin, Jumat (21/10/2016). Foto : Insan Dipo Ferdias

Nasionalisme memang sudah selayaknya diajarkan sejak mereka masih kanak-kanak. Dalam mengajarkan nasionalisme tentu saja disesuaikan dengan umur dan kepahaman mereka.

Nasionalisme saat ini tak melulu hapal teks UUD 1945 atau pun teks Pancasila, melainkan mereka juga memahami maksud dan artinya, termasuk memahami dan menghormati bahwa negara kita memiliki beraneka macam perbedaan.

Mengajarkan toleransi terhadap perbedaan adalah penting apabila dilakukan sejak masih kanak-kanak. Namun sayangangnya, belum semua anak memahaminya.

Andi (8), anak ini belum memahami perbedaan. Ketika ada tetangganya yang kebetulan memiliki agama berbeda melakukan ibadah di rumah, dia banyak mempertanyakan kenapa dan mengapa mereka melakukannya.

Ibunya, Dina(30), warga Banyuanyar ini terkadang cukup kewalahan menjelaskan kepada anaknya. Pernah tetangga melakukan kebaktian dengan menyanyi di rumah dengan mengundang banyak orang. Tak berhenti menanyakannya kenapa begitu? Seharusnya kan ibadah tidak begitu dan lainnya.

“Dia tahunya beribadah ya salat mengaji, makanya dia banyak tanya. Ya saya jelaskan sejauh yang saya tahu saja,” katanya kepada Joglosemar, Rabu(16/12).

Tak hanya masalah agama, bahkan menghargai perbedaan keinginan juga seringkali belum dipahami anak-anak. Mirza (9) misalnya, pada ada tugas kelompok di sekolah yang meminta untuk membuat prakarya, teman-temannya sepakat untuk membuat robot dari kardus.

18122016-mnf-mingguan-familiary6ujh6-toleransi-2

Namun ada satu temannya yang tidak suka dan tidak setuju. Dia sebagai koordinator justru memarahi temannya yang berbeda itu. Sehingga temannya ngambek dan tidak mau lagi satu kelompok dengan dia.

Rina (27) sebagai gurunya kemudian meminta mereka untuk berdiskusi kembali untuk mencapai kesepakatan dan menghargai pendapat dan perbedaan pandangan temannya yang lain.

“Iya masih banyak anak yang belum mengerti bagaimana cara menghargai perbedaan pendapat,” kata Rina.

Sebenarnya, toleransi dan bersikap sopan itu tidak hanya untuk menghormati orang yang berbeda agama, tetapi juga terhadap orang yang status sosial ekonomi berbeda, orang yang punya pendapat berbeda, ataupun kelompok yang berbeda.

Memperkenalkan toleransi pada anak-anak akan membentuk karakter yang terbuka dan berempati pada sekitarnya. Tidak hanya itu, anak-anak juga akan mengerti bagaimana menghargai dan bertanggung jawab. Ini merupakan modal utama bagi anak untuk bisa mencintai hidup yang dijalaninya.

“Dalam segala hal kehidupan tentu saja perbedaan akan muncul dalam segala kesempatan,” ujar Rizka Amalia, SPsi, Psi, psikolog di TK Al Firdaus Surakarta

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menanamkan toleransi kepada anak-anak antara lain, dengan menjadikan tema toleransi sebagai salah satu topik harian karena membentuk karakter yang bisa bertoleransi butuh waktu dan proses. Awali dengan konsep menghargai dan mengenal perbedaan.

Bisa dengan memberi contoh pada keluarga terlebih dahulu, di mana setiap anggota keluarga memiliki keunikan masing-masing. Memanfaatkan setiap momen untuk berdialog mengenai toleransi juga bisa dilakukan.

Apabila di sekitar kita ada yang memberikan stereotip terhadap seseorang, ajak anak untuk berdiskusi. Tanyakan apa pendapatnya dan biarkan mereka mengeksplorasi pendapatnya. Lalu, lengkapi dengan pemahaman saling menghargai dan terbuka terhadap perbedaan.

Sejak dini, anak-anak juga perlu diperkenalkan dengan keberagaman budaya, suku, agama dan keyakinan. Hal ini bisa dilakukan melalui buku bacaan yang mengangkat tema mengenai multikultural dan toleransi.

Selain buku, alat musik dari sejumlah daerah juga bisa dimanfaatkan untuk mengajarkan anak-anak terbuka pada keunikan setiap daerah.

“Atau, saat liburan, anak diajak untuk mengunjungi daerah-daerah baru dengan kebiasaan atau ritual berbeda,” kata dia.

Tri Sulistiyani

BAGIKAN