Menengok Peninggalan Bersejarah Situs Menggung di Desa Nglurah Tawangmangu

Menengok Peninggalan Bersejarah Situs Menggung di Desa Nglurah Tawangmangu

474
Joglosemar | Heru Ismantoro SITUS MENGGUNG—Suasana petilasan Raja Airlangga di Situs Menggung, Nglurah, Tawangmangu, Karanganyar.
Joglosemar | Heru Ismantoro
SITUS MENGGUNG—Suasana petilasan Raja Airlangga di Situs Menggung, Nglurah, Tawangmangu, Karanganyar.

Lereng Gunung Lawu tak hanya kaya akan beraneka jenis tumbuhan hutan hujan tropis dataran tinggi.

Di Lawu juga banyak peninggalan budaya, salah satunya Situs Menggung di Desa Nglurah, Tawangmangu, Karanganyar.

Memasuki Desa Nglurah kita akan disuguhi beraneka ragam tanaman hias yang berjajar di halaman rumah warga. Maklum saja, Nglurah memang dikenal sebagai desa sentra tanaman hias yang sudah punya nama di Tawangmangu.

Jika kita berjalan ke tengah desa, kita akan menemukan sebuah tempat yang tampak sakral. Tempat itu adalah Situs Menggung, sebuah situs bersejarah yang merupakan petilasan Prabu Airlangga, pendiri kerajaan Kahuripan di Kediri.

Situs Menggung berada di sebuah bukit kecil di Desa Nglurah. Di pintu masuk situs tersebut telah dibangun “gapura” berornamen Bali. Setelah melewati anak tangga, akan tampak sebuah pohon besar dan si bawah pohon itulah terdapat petilasan Airlangga.

Baca Juga :  Elpiji 3 Kg Di Karanganyar Makin Mencurigakan. Harga Tembus Rp 25.000, Isinya Juga Dipertanyakan

“Pohon besar itu sebenarnya ada dua jenis. Pohon kantil yang diselimuti pohon preh. Akar sulur pohon preh sudah mengelilingi kantil,” kata Priyanto, juru pelihara Situs Menggung dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah.

Priyanto mengatakan ada beberapa arca di Situs Menggung, termasuk arca yang menggambarkan Airlangga. “Sejauh ini belum ada penelitian yang lengkap soal Situs Menggung,” katanya.

Dia menjelaskan Situs Menggung diyakini sebagai petilasan Airlangga. Berdasarkan catatan sejarah suatu ketika Airlangga hendak menikahi putri pamannya Dharmawangsa Teguh di Watan, ibu kota Kerajaan Medang (sekarang sekitar Maospati).

Saat pesta pernikahan hendak berlangsung, ada serbuan dari Raja Wurawari yang berasal dari Lwaram (sekarang Cepu/Blora). Mneurut prasasti Pucangan penyerangan tersebut terjadi tahun 928 Saka, atau sekitar 1006/1007 Masehi.

Airlangga dengan ditemani pembantunya Patih Narutama berhasil lolos dari serbuan itu dan mengamankan diri ke hutan pegunungan Wonogiri.

Baca Juga :  Istri Terduga Teroris Karangpandan, Karanganyar Pernah Menolak Ditanya Identitas oleh Kadus

“Setelah kondisi aman Airlangga dan Narutama hendak kembali ke Kediri. Saat perjalanan itulah mereka beristirahat di Nglurah ini.”

Priyanto mengatakan saat hendak melanjutkan perjalanan Airlangga menawarkan Patih Narutama apakah akan tetap ikut ke Kediri atau tinggal di tempat itu.

“Narutama ternyata menghendaki tinggal dan akhirnya menikah dengan perempuan lokal yang bernama Nyi Rasa Putih.” Narutama dan Nyi Rasa juga diyakini sebagai leluhur masyarakat Nglurah. Nama Menggung berasal dari Tumenggung.

Priyanto menuturkan para peziarah yang kerap datang ke Situs Menggung kebanyakan warga Hindu dari Bali. “Dalam sebulan biasanya ada 10 orang berziarah ke sini,” katanya.

Oleh masyarakat lokal, Situs Menggung adalah tempat untuk tradisi bersih desa. “Namanya Dukutan karena diadakan saat wuku Dukut. Dukutan terdekat akan diselenggarakan 10 Januari mendatang,” kata Priyanto.

Heru Ismantoro

BAGIKAN