JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Kesehatan Pernah Dengar Penyakit Biduran? Ini Faktanya

Pernah Dengar Penyakit Biduran? Ini Faktanya

310
BAGIKAN

youtube-com-biduranIlustrasi – Youtube

Kulit merupakan bagian terluar tubuh manusia dan menjadi salah satu perisai tubuh terhadap benda-benda asing. Karena itu, kulit juga sangat rentan terkena gesekan, goresan dan paparan dengan benda lain sangat dimungkinkan meninggalkan bekas.

Kulit bayi paling rentan terhadap benda asing dibandingkan orang dewasa. Oleh karena itulah, orangtua diimbau untuk tidak ceroboh mengoleskan sesuatu di tubuh bayi. Bisa-bisa, kulit si kecil yang cenderung sangat sensitif meresponnya dengan alergi.

Nah, salah satu masalah yang sering timbul di kulit bayi adalah biduran. Dalam bahasa medis, biduran  disebut urtikaria. Penyakit ini memiliki gejala bentol-bentol di kulit dan terkadang membentuk pulau. Dokter Umum Rumah Sakit Islam (RSI) Surakarta, dr Indrasti Paramita menjelaskan biduran juga bisa disertai dengan warna kemerah-merahan.

“Namun, ada juga yang tidak berwarna kemerahan. Dan meskipun banyak ditemukan pada bayi/anak-anak, tapi orang dewasa juga mengalaminya,” katanya kepada Joglosemar, beberapa waktu lalu.

Warna merah tersebut muncul sebagai akibat tingginya kadar histamin yang dilepaskan ke kulit. Perlu diketahui juga, histamin menyebabkan pembuluh darah menjadi rileks dan melebar. Akibatnya, aliran darah pada pasien mengalami peningkatan. Banyaknya darah yang mengalir menjadikan kulit terlihat memerah. Kelebihan cairan ini jugalah yang menyebabkan pembengkakan pada kulit dan berwarna merah.

Terlepas dari itu, orang dewasa yang mengalami biduran bukan berarti kulitnya sangat sensitif seperti bayi. Tetapi lebih pada penyebab biduran. Di mana, biduran tidak disebabkan oleh infeksi jamur atau bakteri tetapi lebih karena alergi. Artinya, biduran disebabkan oleh alergen seperti debu, bulu hewan, makanan, udara dingin, dan lainnya.

“Karena penyebabnya adalah alergen, maka biduran ini bisa sembuh dengan sendirinya. Dengan catatan, alergen itu sudah hilang sehingga kondisi tubuh kembali seperti semula,” tegas dr Mita sapaan akrabnya.

Bagaimana pendapat Anda..?