JOGLOSEMAR.CO Hiburan Rehat Warga Indonesia, Belajarlah dari Perjalanan Timnas di Piala AFF 2016

Warga Indonesia, Belajarlah dari Perjalanan Timnas di Piala AFF 2016

109
BAGIKAN
Antara | Wahyu Putro A MELAJU KE SEMIFINAL--Pesepak bola Indonesia Stefano Lilipaly (tengah) bersama rekan-rekan satu tim meluapkan kegembiraan setelah membobol gawang Singapura pada laga putaran final Grup A AFF Suzuki 2016 di Rizal Memorial Stadium, Manila, Filipina, Jumat (25/11).
Antara | Wahyu Putro A
MELAJU KE SEMIFINAL–Pesepak bola Indonesia Stefano Lilipaly (tengah) bersama rekan-rekan satu tim meluapkan kegembiraan setelah membobol gawang Singapura pada laga putaran final Grup A AFF Suzuki 2016 di Rizal Memorial Stadium, Manila, Filipina, Jumat (25/11).

Catatan Redaktur Joglosemar, Agni Vidya P

Dalam sepekan kedepan, kita akan bisa mengetahui apakah Indonesia akan bisa menjadi juara di ajang turnamen sepakbola Piala AFF 2016.

Tinggal dua pertandingan yang harus dihadapi Timnas Garuda sebelum menentukan apakah Indonesia akan meraih gelar juara AFF pertamanya, atau kembali menjadi runner up untuk kali kelima. Pasti prestasi terbaiklah yang diharapkan Timnas dan juga seluruh bangsa Indonesia.

Tentu banyak yang sudah menyadari, dalam skuad Merah Putih yang berjuang di Piala AFF 2016 kali ini ada keberagaman yang menjadi perwujudan Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.

Evan Dimas yang asal Surabaya, Andik Vermansyah yang asal Jember, Hansamu Yama yang asal Mojokerto, Zulham Zamrun yang asal Maluku, Rizky Pora yang asal Ternate, Ferdinand Sinaga yang asal Bengkulu, Manahati Lestusen yang kelahiran Ambon, hingga Boaz Solossa dan Yanto Basna yang asal Papua. Belum lagi Stefano Lilipaly dan juga Irfan Bachdim, seandainya tidak batal bergabung karena cedera, yang lahir di Belanda.

Pun demikian, dalam Timnas berkekuatan 22 pemain ini juga ada pemain yang beragama Islam, maupun yang nonmuslim.

Sebelum mengawali pertandingan pertama, pelatih Alfred Riedl menyebut timnya saat ini bukanlah tim terbaik. Bahkan Riedl sempat menurunkan target dari semula yakin bisa masuk final, jadi hanya berharap lolos fase grup karena klub yang tak melepas pemain yang dipanggilnya.

Kekhawatiran Riedl tidak terbukti, karena kini mereka sedang menatap putaran final. Itu semua diraih para pemain Timnas karena memiliki tujuan yang sama untuk mempersembahkan prestasi terbaik bagi Indonesia. Untuk memberi kebanggaan pada masyarakat Indonesia yang telah mendukung mereka.

Tidak hanya di Timnas sepakbola, coba lihat juga duet pebulu tangkis Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir. Seorang muslim Jawa dan seorang lagi katolik kelahiran Manado.

Berdua mereka bisa mengharumkan nama Indonesia sebagai salah satu peraih medali emas di ajang olahraga multi event terbesar di dunia, Olimpiade.

Pasangan ganda campuran Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir saat memamerkan medali emas yang diraihnya pada ajang Olimpiade 2016, Kamis (18/8/2016) dini hari WIB. Foto : REUTERS/Mike Blake
Pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir saat memamerkan medali emas yang diraihnya pada ajang Olimpiade 2016, Kamis (18/8/2016) dini hari WIB. Foto : REUTERS/Mike Blake

Bukan perbedaan yang menjadikan mereka meraih prestasi itu. Sebaliknya, justru dengan tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang. Apa jadinya jika Owi tak mau berdampingan dengan Butet hanya karena nonmuslim dan non-Jawa? Apa bisa Butet juara di Olimpiade jika benci pada Owi yang tak seagama dengannya? Berdua mereka bisa juara karena mereka sama-sama sebangsa dan se-Tanah Air. Berdua mereka bisa juara karena mereka membawa nama besar Indonesia.

Begitu juga di Timnas Indonesia. Tentu tak bisa dibayangkan jika Evan Dimas tak mau mengoper bola kepada Eliandry karena berbeda agama. Atau Boaz yang tak mau menerima operan bola dari Andik karena berbeda suku. Sudah tentu Indonesia tak akan lolos bahkan dari kualifikasi Piala AFF.

Tidak cuma di bidang olahraga. Bangsa Indonesia sesungguhnya adalah bangsa yang besar. Dan keberagaman dalam negara kepulauan terbesar di dunia ini adalah hal yang tak bisa dielakkan.

Namun, jika bisa memanfaatkan kebhinekaan bangsa ini ke hal yang positif, bukan tidak mungkin akan membawa Indonesia menjadi negara yang disegani.

Sebaliknya, jika hanya mencari persamaan, sangat mudah untuk memecah belah kesatuan bangsa ini. Sekarang tinggal bagaimana kita, bangsa Indonesia, akan memilih.