JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Kesehatan Fakta Mencengangkan Tentang Efek Facebook Bagi Kesehatan

Fakta Mencengangkan Tentang Efek Facebook Bagi Kesehatan

92
BAGIKAN
ilustrasi facebook.

Facebook telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan seseorang. Mulai dari bangun pagi hingga kembali ke tempat tidur, seseorang dapat secara kontinyu memposting aktifias dirinya dalam Facebook.

Namun bisakah Facebook ini membahayakan penggunanya?

Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan hal tersebut mungkin saja terjadi, meski jawabannya sangat rumit. Para peneliti menemukan bahwa “menyukai” posting seseorang dan mengklik link yang dipost oleh teman dapat memperburuk kesehatan mental, fisik, dan kepuasan hidup seseorang, seperti yang dilansir pada Live Science.

“Aktivitas sosial media dan komunikasi melalui situs jejaring sosial yang menguntungkan penggunanya, namun sebagian besar mungkin dapat memberikan masalah kepada penggunanya,” jawab Thomas Valente, professor preventive medicine di Keck School of Medicine, University of Southern California.

Sweet Spot akun sosial media seseorang mungkin tergantung dari banyak faktor, termasuk di dalamnya data pribadi semisal umur,” ungkap Valente yang tengah mendalami health-promotion programs, namun ia tidak terlibat di dalam penelitian ini.

“Saya benar-benar salut dengan penulis untuk apa yang telah ia kerjakan, (namun) masih banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan (sekarang) untuk memahami efek dari pengunaan situs jejaring social secara khusus dan media sosial secara umum,” terang Valente pada Live Science.

Apa yang tidak orang “suka”?

Dalam studi tersebut, Holy Shakya, asisten professor global health, University of California, San Diego, School of Medicine, dan  rekan kerjanya Dr. Nicholas A. Christakis, direktur Human Nature Lab at Yale University telah menganalisa data dari 5200 orang pada rata-rata umur 48, lebih dari tiga periode lamanya.

Para partisipan tersebut diminta menilai kesehatan fisik dan mentalnya pada skala satu sampai empat, kepuasan hidupnya dengan skala antara satu sampai sepuluh, dan melaporkan indek masa tubuh mereka. Para partisipan juga harus mengijinkan para peneliti untuk mengakses data Facebook mereka.

Selain menemukan bahwa orang yang memberi banyak “like” memiliki kesehatan lebih buruk, peneliti juga menemukan jika mereka yang lebih sering mengupdate status Facebooknya rata-rata dilaporkan mempunyai kesehatan mental lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang kurang sering mengupdate statusnya.

Lebih lanjut, hubungan ini juga menunjukkan pertumbuhan seiring waktu, mengisyaratkan orang yang memiliki kesehatan lebih buruk akan beralih ke Facebook, dan Facebook akan memperburuk keadaan mereka, kata investigator.

Peneliti juga menemukan bahwa orang dengan indek masa tubuh yang lebih tinggi cenderung lebih sering mengunakan facebook, namun hal ini tidak serta merta menunjukkan jika Facebook mengarahkan pengunanya ke indek masa tubuh lebih tinggi, tulis peneliti dalam penelitian ysng dipublikasikan pada Januari di American Journal of Epidemiology.

Pesan-Pesan Yang Tercampur

Pengunaaan situs jejaring sosial merupakan topik yang sangat komplek, dan ada pula beberapa studi  yang tidak setuju jika terlalu banyak mengunakan Facebook dapat membahayakan.

Sebuah studi, yang diterbitkan tahun lalu dalam Journal Psyhology of Popular Media Culture, menemukan jika orang-orang yang menunjukkan hubungan romantis mereka di Facebook dilaporkan terlihat memiliki kualitas hubungan yang lebih tinggi.

Namun kasus ini terjadi jika hubungan mereka otentik, jawab para penelliti. Di dalam studi tersebut, keontetikan atau keaslian sebuah hubungan diukur dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, ”saya berbagi pikiran-pikiran terdalam saya dengan patner saya bahkan jika ada kemungkinan dia tidak memahaminya,” dan “saya lebih suka memikirkan hal yang terbaik dari pasangan saya daripada mengetahui semua kebenaran tentangnya.”

Studi yang lain, yang juga diterbitkan tahun lalu, menunjukkan bahwa menyetujui banyak permintaan pertemanan di Facebok dapat dikaitkan dengan memperoleh hidup yang lebih lama, tapi memulai sebuah hubungan pertemanan tidak memberi keuntungan yang sama.

Semua mengatakan, orang-orang dalam studi tersebut yang menjalin hubungan pada tingkat sedang dalam pertemanan di dunia maya dan tingkat tinggi dalam pertemanan secara langsung dapat berjalan dengan baik, terang peneliti dalam Journal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Valente juga menjamin potensi dari sosial media dan jaringan pertemanan dapat membantu meningkakan kesehatan pengunanya.

Dia menunjukannya bahwa komunitas untuk orang-orang yang terkena penyakit langka sebagai “tempat yang terang”, karena kelompok-kelompok ini bisa menyediakan akses informasi dan dukungan yang banyak orang  tak bisa melakukanya secara langsung.

Di sisi lain, peneliti juga mengkaitkan banyaknya waktu yang dihabiskan dalam sosial media dengan peningkatan resiko mengalami depresi dan gangguan makan, dan dengan tidak mengaksesnya selama semingu mungkin membuat orang-oang lebih bahagia.

Tanpa bukti pasti tentang setuju atau tidaknya peran Facebook dalam meningkatkan kesehatan, hal terbaik yang bisa dilakukan saat ini adalah moderasi dan kesadaran diri, kata Valente.

Dia juga menekankan terhadap pentingnya mengetahui kapan harus beristirahat dan nilai-nilai interaksi sosial secara langsung.

Fajar Ardiansah