Ternyata Sepuluh Tahun Lagi Solo Bisa Ambles, Begini Penjelasannya

    Ternyata Sepuluh Tahun Lagi Solo Bisa Ambles, Begini Penjelasannya

    372
    SARASEHAN SOAL AIR-Purwandi, Pejabat Fungsional Utama Kementerian PU dan PR saat memaparkan persoalan persoalan air dan sanitas di Jawa Tengah, dalam sarasehan tentang air di Hotel Kresna Wonosobo, Selasa (28/3) yang digelar oleh Water.org. Foto : Istimewa

    WONOSOBO – Dalam kurun waktu 10 tahun lagi, Kota Solo terancam ambles jika pengelolaan konsumsi air tanah tidak ditangani dengan benar.

    Konsumsi air bersih untuk masyarakat Kota Solo sebagian besar diambil dari air tanah dengan cara dibor.

    Hal itu diungkapkan Purwandi, Pejabat Fungsional Utama Pengembangan Air Minum dan Sanitasi Wilayah Jawa Tengah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dalam sarasehan tentang akses air bersih dan sanitasi yang aman yang digelar oleh Water.org di Wonosobo, Selasa (28/3/2017).

    “Suplai penyediaan air untuk masyarakat Kota Solo selama ini sebagian besar diambilkan dari air tanah dengan cara ngebor. Separuh lebih konsumsi air untuk Solo itu dengan model injeksi air tanah. Itu tidak bagus, mengancam ekosistem. Jika dibiarkan maka 10 tahun lagi Kota Solo bisa-bisa ambles. Ini bom waktu saja, kalau sudah ambles butuh berapa triliun rupiah untuk mengatasinya,” ungkapnya.

    Baca Juga :  Tragis, Pemburu Ikan Asal Sragen Tewas Kena Alat Setrum Buatannya Sendiri

    Ditambahkan Purwandi, kapasitas produksi air bersih layak minum yang dihasilkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Solo sekitar 840 liter per detik.

    Sebanyak 430 liter per detik disuplai dari 27 sumur bor. Sementara kapasitas air bersih yang berasal dari sumur bor terus menyusut.

    Ditambahkan Purwandi, eksplorasi air tanah dengan cara dibor itu juga dilakukan untuk pemenuhan industri. Apalagi di Solo juga makin banyak tumbuh hotel yang biasanya kebutuhan air bersih disuplai dengan air tanah.

    Belum lagi,  banyaknya industri di sekitar Kota Solo yang juga memenuhi kebutuhan industrinya dengan cara mengebor air tanah.

    Menurutnya, model eksplorasi air tanah yang tidak terkontrol harus dihentikan. “Gak boleh dibiarkan, untuk di perkotaan hentikan ambil air tanah. Saatnya kita ambil air permukaan karena lebih jelas dan mudah daur ulangnya. Ini harus didukung regulasi baik Perda atau PP,” paparnya seraya menambahkan di Australia sudah ada aturan bagi pengambil air dengan cara injeksi akan diminta mengganti air sejumlah yang sudah diambilnya tersebut.

    Baca Juga :  Tabungan di Rekening Dikuras Secara Misterius. PNS di Sragen Laporkan Pimpinan Bank Jateng ke Polisi

    Purwandi mengakui, Kota Solo memang tidak memiliki sumber air permukaan yang cukup. Karena itulah butuh suplai sumber air permukaan dari daerah lain.

    “Kondisi ini nanti yang mengatur provinsi atau pusat. Payung hukumnya ada, tidak perlu khawatir. Tidak boleh satu daerah membatasi suplai air untuk daerah lain. Kita sudah merancang SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) regional untuk Sukosukawonosraten atau eks Karesidenan Surakarta. Kalau ini terwujud akan menjadi SPAM regional terbesar di Indonesia,” ujarnya.

    Anas Syahirul

    BAGIKAN