Tersihir Keindahan dan Keramahan Alor

Tersihir Keindahan dan Keramahan Alor

98

Keindahan pemandangan di Tanah Air memang tiada duanya. Gugusan pulau, laut, pantai dan pegunungan tidak tertandingi. Salah satu yang menyimpan keeksotisan adalah di  Indonesia bagian timur.

Ikuti perjalanan backpacker Wamanda Fruitiva lovendo (24)  di Pulau Alor yang sangat indah pantainya ini.

Pasti banyak yang bertanya-tanya di mana itu Alor. Menurut pengalaman saya setelah bercerita ke orang-orang di sekitar, banyak yang belum tahu di mana sebenarnya Alor.

Alor adalah salah satu dari ribuan pulau cantik di Indonesia, tepatnya di ujung timur Nusa Tenggara Timur (NTT). Alor ada di antara laut Flores dan laut Banda.

Jangan salah, Alor adalah kabupaten! Ada juga kota kabupatennya, namanya Kalabahi. Kalau menurutku, Alor termasuk kecil. Kalian nggak akan nyasar di Alor karena jalan utama cuma ada satu.

Jalan utama di Alor pinggirnya lautan luas yang dibatasi oleh pulau-pulau kecil di sekitarnya. Ada juga penangkaran mutiara di seberang jalan utama Alor.

Teruntuk para diver atau mungkin penggila snorkeling, perlu diketahui, Alor dinobatkan sebagai salah satu pulau dengan kekayaan dan keindahan bawah laut terbaik di dunia. Namun untuk menyelami keindahan laut Alor, diperlukan sertifikat diving.

Untuk pergi ke Alor, saya pilih perjalanan darat lebih dulu ke Surabaya, baru kemudian terbang dengan pesawat ke Kupang. Barulah dari Kupang terbang lagi menuju Bandara Mali Alor.

Perjalanan dari Kupang menuju Alor menyajikan pemandangan yang luar biasa. Ada banyak pulau kecil bertebaran yang membuat penerbangan akan terasa rugi jika hanya dilewatkan dengan tidur. Sesampainya mendarat di Alor, begitu indahnya pemandangan Bandara yang berada di antara lautan biru nan indah.

Untuk bisa berjalan-jalan, para wisatawan tidak bisa dengan mudah mencari tujuan yang diinginkan. Hal itu karena sinyal yang biasa diandalkan untuk akses Google Maps, sangat terbatas.

Hanya ada satu provider yang cukup lancar digunakan di Alor, namun untuk akses internet masih belum terlalu bagus. Saat perjalanan saya ke Alor lalu, saya dibantu beberapa kawan di Alor.

Mereka sedang mengikuti Sarjana Mendidik di daerah Terdepan Terluar dan Tertinggal  (SM3T) di Alor.

Pantai Sika menjadi tujuan pertama saya. Butuh waktu sekitar 15 menit perjalanan dari Bandara. Perlu melewati rawa dan rerumputan berwarna kuning untuk sampai di ujung Pantai Sika.

Pantai ini terlihat sangat jernih meski dalam keadaan pasang. Sebenarnya, Pantai Sika bukanlah kawasan wisata. Jadi, bila ada pendatang atau wisatawan yang singgah ke Alor, hanya sebagian saja yang singgah ke Pantai Sika.

Setelah dari Pantai Sika, saya melanjutkan perjalanan ke sebuah desa adat bernama Takpala. Takpala adalah salah satu desa adat yang ada di Alor.

Wamanda saat mengenakan pakaian adat Alor. Foto : Dok Wamanda

Jadi, desa adat ini dihuni oleh belasan hingga puluhan kepala keluarga. Tak ada kesan modern di Takpala. Orang-orang asli penduduk desa adat Takpala ini masih makan daun sirih.

Dan, yang paling membuat saya takjub adalah, rumah mereka tidak tersedia listrik.

Wamanda Lovendo bersama anak-anak sekitar. Foto : Dok Wamanda

Kota yang Tenang

Lampu yang mereka pakai hanya lampu subsidi dari pemerintah. Lampunya tenaga surya.  Jadi, kalau ada yang belum tahu, lampu ini mengandalkan tenaga surya. Desa adat ini terletak di dataran tinggi Alor. Cukup memakan waktu, untuk perjalanan dari Pantai Sika ke Takpala.

Nah, salah satu yang unik dari Takpala ini para penduduknya. Penduduk desa adat Takpala ini bajunya persis seperti yang kita lihat di televisi.

Awalnya saya mengira mereka adalah orang-orang yang bajunya di-setting oleh crew stasiun televisi kemudian mengenakan baju yang seperti kemben dan jarik saja. Ternyata tidak, mereka baju aslinya ya memang begitu.

Ada banyak cinderamata yang ada di Takpala. Sebuah produk handmade, kalung dari melinjo menjadi pilihan saya untuk dibawa pulang. Harganya cukup murah, mulai dari Rp 25.000.

Tidak lama setelah membeli bermacam-macam asesoris dari warga desa adat Takpala, barulah kami pergi ke Kota Kalabahi. Pusat kota kabupaten Alor.

Waktu itu saya berpikir kota ini adalah kota biasa layaknya kota-kota lainnya yang saya kunjungi, seperti Jogja, Solo dan sekitarnya. Ternyata, setelah melewati jalan dari desa adat Takpala menuju Kota Kalabahi, saya diberi kejutan oleh Alor.

Perjalanan dari desa adat Takpala menuju Kalabahi bukan melewati jalan-jalan padat merayap karena macet dan polusi. Kota ini sejuk sekali dan perjalanan kami diiringi oleh sunset keunguan sepanjang perjalanan selama hampir 45 menit.

Banyak penangkaran mutiara di sela kanan jalan. Pulau-pulau cantik yang berkelompok mengantar pandangan kami sampai Kalabahi.

Beruntunglah kalian yang tinggal di Kalabahi karena kota ini termasuk kota yang sangat nyaman untuk ditinggali. Memang belum lengkap selengkap di Solo paling tidak, tapi daerahnya tidak ramai tapi masih ada kendaraan.

Orang-orang di Kalabahi ini juga sangat friendly terhadap para pendatang. Jadi, jangan ragu untuk melihat keindahan Indonesia! 

*Wamanda Lovendo merupakan penulis di blog http://mandalovendo.blogspot.co.id

BAGIKAN