Tuberculosis Bukan Batuk Biasa, Lihat Gejalanya

Tuberculosis Bukan Batuk Biasa, Lihat Gejalanya

159

 

HIlustrasi

Setiap orang pastinya pernah mengalami batuk. Karena Tuhan sudah menciptakan tubuh dengan perisai diri. Salah satunya adalah dengan batuk yang menjadi respon alami tubuh jika ada gangguan dari luar. Untuk itulah, batuk bagi sebagian orang adalah hal yang biasa meskipun sudah sangat mengganggu aktivitas.

Padahal, tidak semua batuk tidak bersifat biasa/normal. Batuk juga bisa menjadi salah satu sumber penularan penyakit dan menjadi masalah internasional, seperti tuberculosis atau biasa disebut TB atau TBC. Penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis menjadi perhatian dunia karena angka kematiannya yang cukup tinggi. World Health Organozation (WHO) merilis tahun 2014 ada 9,6 juta jiwa terjangkit penyakit TB dan 1,5 juta di antaranya meninggal dunia.

Sementara itu, survei Pravelensi TB oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2013-2014 menunjukkan angka insidence (kasus baru) TB Paru di Indonesia sebesar 403 per 100.000 penduduk, sedangkan angka prevalence (kasus baru dan lama) 660 per 100.000 penduduk.

Indonesia sendiri menjadi negara darurat TB karena menempati peringat kedua dengan kasus TB terbanyak di dunia setelah India. Lantaran itulah, WHO pun meminta negara-negara bisa melakukan pencegahan penyakit mematikan itu. Tidak hanya itu, dunia pun menjadikan tanggal 24 Maret di tiap tahunnya sebagai Hari TBC Sedunia.

Baca Juga :  Masuk Kota Solo, Ini Dia Jalur Alternatif yang Bisa Dipilih Pemudik

Lantas, seperti apakah penyakit TB itu? Wakil Ketua Tim Directly Observed Treatment, Short-Course (DOTS) RS PKU Muhammadiyah Surakarta, dr Anita Muntafi’ah, SpP, MKes mengatakan TB terkadang dianggap sebagai batuk biasa. Di mana, pasien biasa membeli obat bebas di warung/apotek, hanya saja hal itu tidak berdampak pada batuknya.

“Penyakit TB itu sebenarnya punya ciri khas tersendiri dibandingkan dengan batuk biasa. Di antaranya batuk yang dialami pasien lebih dari dua Minggu dan mengeluarkan dahak. Pasien juga mengalami penurunan nafsu makan yang mengakibatkan penderita cenderung kurus. Ciri lainnya yang bisa menjadi salah satu patokan adalah munculnya keringat dingin saat malam hari,” katanya kepada Joglosemar, Rabu (22/3).

Untuk dahaknya sendiri, Anita menjelaskan sedikit berbeda dengan batuk biasa. Jika batuk biasanya dahaknya berwarna bening, namun pada kasus TB akan lebih kental. Terutama saat pagi hari, khususnya bangun tidur. Dahak pasien TB akan lebih kental dibandingkan pada siang atau malam hari.

Untuk itulah, hal yang wajib dilakukan untuk penegakan diagnosis TB adalah pemeriksaan dahak dengan Bakteri Tahan Asam (BTA). Pasien suspek TB harus melakukan pemeriksaan BTA SPS yaitu pada sewaktu (kapan saja bisa dilakukan), pagi hari (setelah bangun tidur), dan sewaktu lagi. “Jika memang salah satu hasil BTA positif TB disertai dengan munculnya gejala-gejalanya, maka bisa disimpulkan sebagai pasien TB,” tegasnya.

Baca Juga :  Lebaran di Solo, Simak Panduan Wisatanya

Jangan Sampai Resisten obat

Sekarang sudah ada metode cepat untuk mengetahui penyakit TB yaitu dengan TCM (Tes Cepat Molekuler). Sayangnya di RS PKU belum ada, jadi sampel dahak harus di kirim ke RSUD Dr Moewardi. Masih ada juga pemeriksaan penunjang yang mendukung Tbc di antaranya rontgen dada pasien. Jika memang positif TB, foto rontgen akan menunjukkan perbedaan gambaran dibandingkan dengan orang normal.

“Penyakit ini mudah tersebar ke orang lain. Terutama bagi mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah. Untuk itulah, jika ada pasien TB maka pemeriksaan tidak hanya diberlakukan kepada pasien yang bersangkutan, tetapi orang di sekelilingnya. Karena TB paling mudah menular melalui udara dan dahak,” tegasnya.

Pengobatan Pasien TB kasus baru (baru pertama kali ) membutuhkan waktu enam bulan. Petugas medis, khususnya Tim DOTS selalu mengedukasi kepada pasien untuk meminum obat TB setiap hari dan kontrol secara rutin. Sehingga sangat dibutuhkan salah seorang anggota keluarga pasien yang ditunjuk sebagai pengawas minum obat. Penekanan ini dilakukan agar pasien tetap mengonsumsi obat secara teratur dan memperkecil resisten terhadap obat TB. #Murniati

BAGIKAN