Ini Hlo Dua Penyakit yang “Dibawa” Satu Jenis Nyamuk

Ini Hlo Dua Penyakit yang “Dibawa” Satu Jenis Nyamuk

49

Ilustrasi Pemberantasan Nyamuk

Cuaca ekstrem membuat musim di Indonesia menjadi tidak dapat di prediksi dengan tepat. Meski berdasarkan kalender musim sudah memasuki kemarau, hujan tetap turun dengan derasnya. Keadaan ini turut mengundang berbagai penyakit menular seperti penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Chikungunya di Negara tropis ini.

Dua penyakit yang sama-sama disebarkan gigitan nyamuk Aedes aegypti ini memiliki gejala dan penanganan yang berbeda. Dokter RS Islam Surakarta, dr Nurul Fithri Ishvari menyebutkan bahwa penyakit chikungunya berasal dari virus chikungunya, sedangkan DBD berasal dari virus dengue. “Serangan virus chikungunya pada umumnya tidak mengancam jiwa penderita, berbeda dengan DBD yang bisa menyebabkan kematian penderitanya,” tutur Nurul, Kamis (6/4).

Lumpuhnya Persendian

Gejala awal dari serangan chikungunya adalah demam yang berlangsung selama 3-5 hari dan setelah itu mereda. Selain demam, kulit penderita tampak kemerahan (ruam) yang muncul pada hari ke-3-5 hari, mata merah, muncul gejala flu, sering disertai kejang, meal, muntah, kadang disertai diare.

Selanjutnya, penderita merasa nyeri pada persendian sehingga merasa tidak dapat bergerak. Sebagian orang menganggap mereka mengalami lumpuh sementara dan hanya bisa berbaring di tempat tidur. “Di sinilah letak perbedaan chikungunya dan DBD. Chikungunya menyerang jaringan ikat sendi sedangkan DBD merusak pembuluh darah,” ungkap Nurul.

Baca Juga :  Inilah Manfaat Meditasi Bagi Tubuh

Dalam penjelasan Nurul, rasa nyeri ini biasanya menyerang sendi lutut, pergelangan, jari kaki, tangan, dan tulang belakang. “Pengobatannya dengan menggunakan obat penurun panas dan pereda rasa nyeri karena belum ada obat atau vaksin untuk virus chikungunya sendiri. Biasanya dalam 5-7 hari penderita akan sembuh, namun ini juga tergantung dengan daya tahan tubuh pasien,” ungkapnya.

Demam Berdarah

Penderita yang terserang DBD akan menunjukkan gejala seperti pusing, sakit pada sendi dan otot, nyeri, batuk, mual, muntah ataupun diare, dan demam. Namun dalam perkembangannya, serangan dapat menyebabkan perdarahan dan syok yang berakibat kematian jika tak ditangani secara benar.

“Serangan virus tersebut membuat penderita DBD mengalami perubahan pada sifat dinding pembuluh darahnya yaitu jadi mudah ditembus cairan (plasma) darah,” ungkap Nurul.

Lebih lanjut Nurul menjelaskan bahwa perembesan ini terjadi sebagai akibat reaksi imunologis antara virus dan sistem pertahanan tubuh. “Plasma masuk ke dalam jaringan berongga/longgar sehingga kekentalan darah pun akan meningkat. Jika tidak segera ditangani dengan asupan cairan -elektrolit, pasien akan mengalami syok,” jelasnya.

Baca Juga :  Inilah Manfaat Meditasi Bagi Tubuh

Akibat lain dari perembesan plasma yang terus-menerus adalah penurunan jumlah trombosit dalam darah. Nurul menyebutkan jika jumlah trombosit terus menurun hingga tak dapat menghentikan rembesan plasma akibat bocornya pembuluh kapiler, akan terjadi perdarahan. “Pada tingkat penurunan tombosit yang drastis akan terjadi perdarahan hebat yang berakibat pada kematian pasien,” ungkapnya.

Namun jika dilakukan perawatan lebih awal, meski jumlah trombosit menurun pasien dapat diselamatkan dengan asupan cairan dalam jumiah cukup. “Cairan infus dapat membantu mengencerkan darah yang memekat sehingga oksigen dapat terus dialirkan ke setiap sel tubuh. Setelah pasien melewati masa kritis dan memasuki masa penyembuhan, jumlah trombosit darah bisa normal kembali dengan cepat,” jelasnya.

Nurul juga menyebutkan bahwa pencegahan DBD paling utama dengan melakukan 3M, yakni mengubur, menguras, membersihkan. “Ketika kebersihan lingkungan terjaga, maka jentik-jentik pembawa penyakit tersebut tidak akan ada,” tandasnya. #Kholishotu Syahidah

BAGIKAN