JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Kesehatan Jangan Salah Ya,,, Sebelum Hamil Juga Butuh Nutrisi Agar Janin Sehat

Jangan Salah Ya,,, Sebelum Hamil Juga Butuh Nutrisi Agar Janin Sehat

79
BAGIKAN

Mencegah Risiko Kehamilan Anensefali, Si Janin Tanpa Batok Kepala

 

ilustrasi

Setiap pasangan apalagi yang baru menikah sudah tentu ingin segera punya seorang momongan. Nha, membahas kehamilan, sebagian besar orang berpendapat kelengkapan nutrisi baru dibutuhkan saat sudah positif hamil. Padahal, sebelum hamil atau pada masa program hamil menjadi salah satu penentu penunjang pertumbuhan janin. Kenapa bisa seperti itu?

Dokter Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan RS PKU Muhammadiyah  Surakarta, dr Soffin Arfian, SpOG mengungkapkan kehamilan adalah sebuah proses yang idealnya direncanakan sejak awal. Perencanaan itu menyangkut kesehatan ibu dan janin yang bakal dikandung nantinya.

“Idealnya, ibu yang pingin hamil harus melakukan serangkaian pemeriksaan. Utamanya Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes (TORCH). Jika memang ada infeksi tentunya harus diatasi dulu sebelum memulai program hamil,” kata dia kepada Joglosemar, beberapa waktu lalu.

Tidak hanya itu, saat mempersiapkan kehamilan ibu juga disarankan untuk menghindari asupan yang mengandung alkohol. Saat program hamil, ibu juga disarankan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung asam folat sebagai penunjang nutrisi sebelum kehamilan. Hal tersebut untuk menghindari risiko gangguan kehamilan terutama cacat pada janin.

Salah satunya kasus anensefali (anencephaly) atau yang kerap disebut dengan bayi tanpa batok kepala. dr Soffin menjelaskan anensefalia merupakan sebuah kondisi janin yang berkembang dengan tidak tertutupnya tabung syaraf bagian atas, sehingga batok kepala tidak terbentuk. Selain itu, sebagian otak si janin pada kasus anensefali juga tidak terbentuk.

“Penyebabnya macam-macam. Mulai dari infeksi toksoplasma atau biasa disebut TORCH, radiasi atau kelainan kromosom, dan juga kekurangan nutrisi dalam hal ini asam folat. Hal-hal itulah yang menyebabkan gangguan apda neural tube,” jelasnya.

Perlu diketahui juga, pembentukan otak pada janin terjadi di trimester awal. Sehingga, di awal-awal kehamilan sangat diperlukan nutrisi yang cukup khususnya asam folat. Bahkan, jauh-jauh hari sebelum kehamilan, ibu sudah disarankan mengonsumsi asam folat. Mengingat, kekurangan asam folat dapat mengakibatkan gangguan dalam pembentukan organ syaraf janin.

Soffin menambahkan, bayi yang sudah mengalami anensefali sudah tidak bisa dikoreksi. Artinya, batok kepala tidak bisa terbentuk lagi karena dari awal memang sudah terjadi masalah saat penutupan neural tube. “Ya sudah tidak bisa dikoreksi karena memang sudah terlanjur. Untuk itulah, kehamilan memang harus dipersiapkan secara matang,” katanya.

Tidak Berumur Panjang

Lantaran tidak bisa berkembang seperti bayi pada umumnya, langkah apa saja yang bisa dilakukan dalam penanganan kasus ini? dr Soffin menjelaskan ada dua langkah yang bisa diambil, yakni pengakhiran kehamilan dan menunggu sampai bayi lahir cukup umur. Hal pertama yang harus dan wajib dilakukan adalah dengan melakukan komunikasi dengan keluarga pasien.

Ini menyangkut keputusan apakah bayi itu akan dilahirkan saat itu juga atau dipertahankan hingga sembilan bulan. “Tentunya ini juga harus didiskusikan dengan tim. Di mana, ada tim RS yang akan menentukan apakah bayi tersebut bisa dipertahankan atau dikeluarkan,” katanya.

Kalau pun nanti dilahirkan cukup umur (sembilan bulan), usia sang bayi diprediksi tidak lama. Banyaknya kasus bayi dengan anensefali yang hanya bertahan beberapa jam atau satu hingga dua hari saja. Hal ini disebabkan si bayi mudah terpapar radiasi karena tidak mempunyai pelindung otak.

Yang juga tidak kalah penting dalam penanganan kasus anensefali adalah kondisi psikis ibu. Dokter harus berhati-hati menjelaskan kondisi janin yang ada di dalam rahim pasien. “Lantaran bayi dimungkinkan tidak bisa hidup lama, maka kami juga harus mempertimbangkan psikososial sang ibu. Mungkin saja sang ibu akan mengalami depresi. Untuk itu, kita harus persiapkan keluarga khususnya sang ibu untuk menerima kondisi ini. Bila perlu, kami akan berkomunikasi dengan psikolog dan memberikan edukasi tentang keagamaan. Dengan harapan tidak depresi,” ujarnya. #Murniati