Bupati Berusia 27 Tahun Ini Kagum dengan Wonogiri

Bupati Berusia 27 Tahun Ini Kagum dengan Wonogiri

960

PANCA PROGRAM-Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan ketika berada di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Jumat (19/5/2017).
Foto: Aris Arianto

WONOGIRI-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dharmasraya Provinsi Sumatra Barat mengaku kesengsem dengan panca program pembangunan di Wonogiri. Daerah yang disebut-sebut sebagai “Saudara Kabupaten Wonogiri” itu bakal menerapkan pola yang sama untuk kemajuan pembangunan wilayah.

Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan, mengungkapkan hak tersebut ketika menghadiri forum silaturahmi eksekutif-legislatif dalam rangka Hari Jadi ke-276 Kabupaten Wonogiri, Jumat (19/5/2017). Bupati Sutan mengungkapkan kondisi sosial masyarakat Dharmasraya hampir sama dengan Wonogiri. Bahkan sebagian masyarakatnya merupakan keturunan Wonogiri.

“Banyak hal yang bisa kami pelajari dari Wonogiri ini. Misalnya pembangunan pertanian, pasar tradisional, yang tercantum dalam panca program pemerintahan Wonogiri. Akan kami aplikasikan nanti,” ungkap bupati yang baru berusia 27 tahun tersebut.

Bupati Sutan mengatakan konsep panca program di Wonogiri bersifat menyeluruh dan langsung berhubungan dengan masyarakat. Bidang-bidang yang ada dalam panca program merupakan bidang yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Sehingga menurut dia, sangat bijak ketika Pemkab Wonogiri merumuskannya sebagai pedoman pembangunan.

Baca Juga :  Bontosan Bambu Ini Bisa Jadi Mbah Jenggot

“Tentunya penerapannya nanti harus disesuaikan dengan kondisi di Dharmasraya. Harapannya nanti saudara kami di Wonogiri ikhlas memberikan bimbingan,” kata Bupati Sutan.

Dia menyebut sudah banyak prestasi yang telah diraih Wonogiri. Baik di tingkat nasional maupun internasional. Ditambah semangat dan keuletan warga Wonogiri, dia yakin di usia yang menginjak 276 tahun, Wonogiri bakal lebih sukses.

Bupati Joko Sutopo berujar memang sengaja mengundang para petinggi di Pemkab Dharmasraya. Selain bupati, hadir pula Ketua DPRD Dharmasraya, Masrul Maas, dan sejumlah anggota dewan serta pimpinan OPD. Sebagian diantaranya memiliki garis keturanan dari warga Wonogiri.

“Sebagaimana diketahui dulu banyak warga Wonogiri yang ikut transmigrasi bedol deso waktu pembangunan waduk (Waduk Gajah Mungkur). Daerah tujuan transmigrasi seperti di Rimbo Bujang, Sitiung, dan daerah Sumatra lainnya. Sehingga daerah- daerah itu termasuk Dharmasraya memiliki kedekatan dengan Wonogiri,” ujar Bupati Joko.

Baca Juga :  Paguyuban Pemilik Sarana Apotek di Wonogiri Gelar Baksos

Ketua DPRD Wonogiri, Setyo Sukarno menuturkan, sebelumnya Pansus II DPRD Dharmasraya berkunjung ke Wonogiri, Rabu (17/5/2017). Mereka melakukan studi banding mengenai Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) penyelenggaraan pendidikan dan perubahan tata tertib DPRD. DPRD Dharmasraya memilih Wonogiri sebagai tujuan studi banding karena Wonogiri telah menetapkan Raperda pendidikan.

Setyo Sukarno mengatakan, kedua kabupaten mempunyai ikatan sejarah yang sangat kuat. Pasalnya, ribuan keluarga dari Kabupaten Wonogiri pernah ditransmigrasikan ke Kabupaten Dharmasraya sekitar tahun 1977-1978 silam. Ribuan keluarga Wonogiri itu bedol desa karena tempat tinggalnya hendak dijadikan lokasi pembangunan waduk.

Transmigran asal Wonogiri telah menetap di Dharmasraya selama beberapa dekade. Alhasil, sekitar 35 persen dari 200.000 penduduk Kabupaten Dharmasraya kini merupakan keturunan Wonogiri. Sebagian dari transmigran kini sukses. Bahkan, beberapa di antaranya duduk sebagai wakil rakyat atau DPRD dan kepala Organisasi Pemerintah Daerah (OPD). # Aris Arianto

 

Advertisements
BAGIKAN