Dijanjikan Kerja di New Zealand, Ternyata Cuma Tipuan

Dijanjikan Kerja di New Zealand, Ternyata Cuma Tipuan

123
Ilustrasi

SRAGEN—Lebih dari 10 warga Sragen dilaporkan menjadi korban penipuan berkedok biro jasa penyalur tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Salatiga. Dengan iming-iming kerja di berbagai negara dengan gaji menggiurkan, mereka justru gigit jari setelah hampir dua tahun tak ada kejelasan.

Padahal, rata-rata sudah membayar biaya keberangkatan sekitar Rp 60 juta. Dari belasan korban yang rata-rata warga Sragen bagian barat itu, penyalur TKI yang diketahui mengatasnamakan Lembaga Pendidikan dan Keterampilan (LPK) itu mampu meraup uang hampir Rp 500 juta.

Dugaan aksi penipuan berkedok penyalur TKI itu terungkap ketika sejumlah korban mengaku resah sudah dua tahun berjalan, mereka tak kunjung diberangkatkan. Salah satu korban, SY (45) asal Dukuh Geneng, Tanon mengatakan, dirinya juga ikut mendaftarkan putrinya sekitar tahun 2015 silam.

Baca Juga :  Dua Kubu Pedagang Pasar Masaran Ngotot, DPRD Sragen Pasrah Disperindag

Kala itu ia didatangi oleh warga Tanon yang mengaku menjadi kepanjangan tangan atau perekrut calon TKI yang ingin bekerja lewat LPK tersebut. Oknum tersebut menawarkan bisa membantu menyalurkan putrinya bekerja di New Zealand atau Selandia Baru dengan biaya awal sebesar Rp 60 juta dan biaya administrasi pengurusan visa dan paspor lainnya.

Setelah membayar, dijanjikan akan segera diberangkatkan. Namun hingga hampir dua tahun berjalan, ternyata janji itu tak terbukti. Bahkan, ketika dikonfirmasi keberangkatan, pihak penyalur maupun kantor LPK tersebut, belakangan sudah tidak bisa dikontak.

Baca Juga :  Indahnya Langit di Sragen Saat Malam Puncak Peringatan Hari Jadi ke-271

“Awalnya dijanjikan kerja di peternakan di wilayah New Zealand. Yang jelas, begitu membayar nanti dijanjikan tidak lama akan diberangkatkan. Karena kadung percaya, kami akhirnya sanggupi membayar,” ungkapnya kepada Joglosemar, Selasa (16/5).

Untuk memenuhi tawaran itu, SY mengaku sudah membayar Rp 14 juta, kemudian disusul Rp 60 juta, yang semuanya diserahkan pada 2015. Semua pembayaran juga disertai dengan bukti kuitansi bermeterai dan berstempel LPK.

1
2
BAGIKAN