JOGLOSEMAR.CO Daerah Karanganyar Enam Tersangka Baru Diksar UII Tak Penuhi Panggilan Polres Karanganyar

Enam Tersangka Baru Diksar UII Tak Penuhi Panggilan Polres Karanganyar

17
Mantan Rektor UII, Harsoyo bersama 16 panitia Diklatsar Mapala UII saat berada di Mapolres Karanganyar, Selasa (31/1/2017). Foto : Rudi Hartono

KARANGANYAR – Enam tersangka baru dalam kasus dugaan penganiayaan dalam kegiatan Diksar Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta tidak memenuhi panggilan Polres Karanganyar untuk menjalani pemeriksaan, Senin (15/5/2017).

Keenam tersangka baru yang dipanggil berinisial DK alias J, NAI alias K, HS alias G, TN alias M, RF alias K dan TAR alias R. NAI alias K seorang perempuan. Tidak diketahui pasti alasan para tersangka tidak memenuhi panggilan.

Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak mengatakan, tim penyidik telah melayangkan surat panggilan pertama kepada masing-masing tersangka pada Rabu (10/5/2017) lalu.

Selain dialamatkan ke alamat asal, surat panggilan juga ditembuskan dengan tembusan rektorat UII dan indekos para tersangka.

“Mereka diminta hadir di Mapolres Senin (15/5/2017) pukul 10.00 WIB. Tapi, hingga pukul 16.00 WIB hari ini (kemarin), keenam tersangka tidak memenuhi panggilan tim penyidik,” terang Kapolres kepada wartawan, Senin (15/5/2017).

Ade Safri melanjutkan, setelah mangkir pada panggilan pertama, bakal dilakukan pemanggilan kedua pada Jumat (19/5/2017) mendatang. Jika tetap tidak hadir, Kapolres menegaskan, bakal dilakukan penjemputan paksa.

“Penahanan paksa didasari pertimbangan subyektif dan obyektif dari tim penyidik. Penjemputan paksa akan dilakukan karena berpotensi kabur, menghilangkan barang bukti dan mengulangi perbuatannya,” lanjut Kapolres.

Seperti telah diberitakan, penetapan enam tersangka baru dalam kasus penganiayaan Diksar Mapala UII usai dilakukan gelar perkara penentuan tersangka baru, Selasa (9/5/2017) lalu.

Mereka merupakan staf operasional panitia kegiatan yang menewaskan tiga peserta serta melukai 34 peserta lainnya.

Penetapan enam tersangka didasari dua alat bukti sah, yakni keterangan para saksi yang menyebutnya melakukan kekerasan saat Diksar di Tlogodringo, Gondosuli, Tawangmangu.

Alat bukti tersebut dikuatkan dengan hasil autopsi tiga korban tewas dari RS Dr Sardjito dan visum et repertum (VER) 34 korban luka serta keterangan ahli pidana forensik dan tim dokter RS JIH (Jogjakarta International Hospital).

Sedangkan alat bukti kedua berupa rekaman tindak kekerasan yang berhasil diunduh dari tiga unit kamera, sebuah CPU dan satu hardisk eksternal.

“Dalam kasus ini, para tersangka dijerat pasal 170 jo 351 dan pasal 55 KUHP karena melakukan kekerasan terhadap korban di muka umum serta dilakukan secara bersama-sama. Ancaman hukuman penjara enam tahun,” terang dia.

Satria Utama