JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Mengunjungi Desa Terbersih Dunia di Bali, Setahun Bisa Dapat Rp 3,5 Miliar...

Mengunjungi Desa Terbersih Dunia di Bali, Setahun Bisa Dapat Rp 3,5 Miliar (Bagian 3)

278
BAGIKAN
Para turis mancanegara saat menikmati keasrian Desa Penglipuran yang berada berada di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali. Foto : Ari Welianto

Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali mampu menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangli cukup besar. Bahkan mampu melampaui target yang sudah dicanangkan Pemkab tiap tahunnya.

Rata-rata tiap tahunnya PAD dari Desa Wisata Penglipuran kurang lebih sekitar Rp 3,5 miliar. Bahkan tahun 2016 lalu pendapatan dari tiket masuk mencapai Rp 2,25 miliar dan tahun 2017 ini ditargetkan meningkat menjadi Rp 3,8 miliar.

Jumlah tersebut tidak lepas dari pembangunan kawasan desa wisata berbasis masyarakat.

“Berdasarkan data yang ada, pemasukan dari sektor pariwisata. Desa wisata Penglipuran itu berada pada posisi kedua setelah Kintamani untuk pemasukan terbesar,” terang Sekretaris Daerah Pemkab Bangli, Bali, Ida Bagus Giri belum lama ini.

PAD yang dihasilkan di Desa Penglipuran dibagi dua, yakni 60 persen untuk Pemkab dan 40 persen untuk masyarakat.  Pemkab terus menyiapkan fasilitas-fasilitas pendukung guna menarik wisatawan.

Tiap pengunjung yang datang dikenakan retribusi, untuk wisatawan lokal Rp 15.000 per orang sedangkan wisatawan asing Rp 30.000 per orang.

DESA WISATA – Suasana media gathering bertema model pengembangan desa wisata di Bali, beberapa waktu lalu. Foto : Ari Welianto

“Namun untuk tamu-tamu dari daerah lain itu kita tidak kenakan retribusi. Ini sebagai rasa bentuk penghormatan kami buat mereka dan tentunya dari tamu-tamu tersebut bisa mensosialisasikan Desa Penglipuran di daerah asalnya untuk bisa dikunjungi,” ungkapnya.

Untuk jumlah pengunjung tiap harinya cukup banyak baik domestik atau asing. “Kalau Sabtu dan Minggu kehabisan lahan parkir dan akhirnya parkir di pinggir-pinggir jalan,” ujar dia.

Fasilitas pendukung sedang di garap, yakni Museum Bambu yang lokasinya tidak jauh dari Desa Penglipuran. Kebun Bamboo yang sudah mendapatkan penghargaan Kapaltaru.

”Ini untuk menggenjot PAD di sektor pariwisata. Apalagi PAD yang disetorkan itu akan dikembalikan lagi dalam bentuk pembangunan guna pengembangan desa ini. Penglipuran ini menjadi salah satu ikon wisata di Kabupaten Bangli ini,” paparnya.

Di Wilayah Bangli tidak hanya Desa Wisata Penglipuran yang mampu menarik wisatawan tapi juga Kintamani dengan Kaldera Gunung Batur dan Danau Batur. Ada juga Kawasan Terunyan dengan adat budaya pemakaman unik bagi penduduknya.

Di mana itu jika ada warga yang meninggal maka tidak di kubur di tanah tapi di atas sebuah batu berukuran besar, sehingga pengunjung yang kesana akan banyak melihat kerangka-kerangka jenazah.

“Masih banyak desa wisata di Bangli itu yang perlu di publikasikan  ke masyarakat luas. Itu sekitar 20-an desa dan yang terkenal itu Desa Penglipuran. Untuk pengembangannya tetap tradisional, berwawasan berbasis masyarakat, lingkungan dan budaya jadi tidak meninggalkan kearifan lokal,” sambungnya.

Sementara itu Kabag Humas dan Protokol Pemkot Surakarta, Heri Purwoko menyatakan jika Desa Penglipuran adalah desa panutan desa adat nomor satu di dunia. Dengan kunjungan ke desa wisata dan adat ini dapat membawa wawasan positif dan menjadi contoh untuk diterapkan di Kota Solo.

“Model pengembangan desa wisata disini khususnya Penglipuran cukup bagus dan baik. Itu nanti akan dikembangkan di Solo dan terlebih dahulu akan dilaporkan ke Walikota dan dinas terkair agar bisa ditindak lanjuti,” tandasnya. Habis

Ari Welianto