JOGLOSEMAR.CO Daerah Sukoharjo Polres Layangkan 20 Surat Peringatan untuk Pengendara Sepur Kelinci di Sukoharjo

Polres Layangkan 20 Surat Peringatan untuk Pengendara Sepur Kelinci di Sukoharjo

144
BAGIKAN
Sepur Kelinci masih jadi primadona warga Sukoharjo. Foto : Arief Setiyanto

SUKOHARJO—Sekitar 20 surat peringatan telah dilayangkan kepada para pembuat, pemilik maupun pengendara kereta (sepur) kelinci.

Surat tersebut berisikan larangan memproduksi sepur kelinci baru untuk wilayah Sukoharjo dan juga untuk tidak dikendarai di jalan raya.

Disampaikan Kasat Lantas Polres Sukoharjo AKP Finan Sukma Radipta, Minggu (14/5/2017), saat ini memang sangat banyak fenomena beredarnya kereta kelinci yang beroperasi di jalan raya.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Sukoharjo untuk mengatasi hal tersebut.

Lantaran kereta kelinci tidak mempunyai standar kelayakan untuk dikendarai di jalan raya, bahkan membahayakan penumpang.

“Kami sudah menerima petunjuk pelaksana (Juklak) dari atasan terkait penggunaan kereta kelinci. Penindakan pun kami lakukan dengan beberapa tahapan. Pertama yakni dengan memberikan surat peringatan terlebih dahulu yang sudah kami kirimkan beberapa hari yang lalu,” tuturnya.

Finan menjelaskan, dari surat peringatan tersebut, bila beberapa minggu kemudian masih ada pembuat, pemilik atau pengemudi yang membandel maka akan segera dilakukan penindakan.

Sementara untuk pembuat, Finan berujar harus dilakukan pemberhentian produksi untuk wilayah Sukoharjo. Namun bila kereta kelinci hendak dikirim untuk daerah lainnya masih diperbolehkan.

“Kami tidak main-main dalam penindakan nanti karena kami sudah berikan surat peringatan. Kami juga mengetahui ternyata banyak kereta kelinci yang dipesan dari wilayah Jawa Timur. Ini masih kami perbolehkan,” imbuhnya.

Menurut Finan keberadaan kereta kelinci masih digemari masyarakat karena tarifnya yang murah. Kebanyakan pengguna kereta kelinci adalah rombongan anak sekolah dan pengajian.

Pasalnya, bila menggunakan angkuta, maka harus mengeluarkan biaya lebih besar dan juga adanya keterbatasan akses.

“Selain kereta kelinci, kami juga melarang tleser (perontok padi) untuk beroperasi di jalan raya,” tegasnya.

Diizinkan

Ditambahkan, Kasubag Humas Polres Sukoharjo, AKP Joko Sugiyanto, bahwa keberadaan kereta kelinci masih diperbolehkan. Namun hanya untuk tempat dan momen tertentu saja. Seperti di tempat rekreasi atau alun-alun.

“Kalau beroperasi di hari biasa dan di jalan raya memang tidak boleh karena berbahaya. Namun bila hanya untuk rekreasi muter-muter di alun-alun, masih diperbolehkan karena itu juga sebagai salah satu wahana hiburan,” ulasnya.

Dynda Wahyu Wardhani