Sepur Kelinci Masih Jadi Pimadona di Sukoharjo, Angkutan Desa Merana

Sepur Kelinci Masih Jadi Pimadona di Sukoharjo, Angkutan Desa Merana

71
Sepur Kelinci masih jadi primadona warga Sukoharjo. Foto : Arief Setiyanto

Pukul 07.00 WIB, Matahari mulai meninggi. Ferry (20) tahun menyiapkan kendaraan roda enam miliknya, sepur kelinci dengan dua gerbong berkapasitas 42 penumpang.

Ditemani Agung (20) kernetnya, ia tancap gas menuju SD Ponowaren 2 Kelurahan Jetis  Kecamatan Tawangsari. Ia mendapat order untuk mengantar outing class menuju kolam renang di Kecamatan Selogiri, Wonogiri.

Telolelet…!”  suara klakson sepur kelinci milik Ferry menyapa saat tiba.

Puluhan siswa pun menyambut dengan penuh suka cita. Ferry mengaku belum lama mengais rezeki berbekal sepur kelinci, baru sekitar dua tahun.  N

amun sepur kelinci yang dibelinya seharga Rp 70 juta itu membawa hasil cukup menjanjikan. Paling tidak dalam satu bulan ia mendapat order carteran lima kali. Mulai dari menjenguk orang sakit, mantenan, hingga mengantar ke objek wisata.

Baca Juga :  Tim Gabungan Sidak Tiga Pasar di Sukoharjo, Ini Hasilnya

Untuk area Tawangsari Sukoharjo berkisar antara Rp 200.000 hingga Rp 300.000, sedang untuk carteran ke objek wisata seperti candi Prambanan paling tidak satu juta rupiah dikantonginya.

Jika hari tidak hujan, ia biasanya menawarkan jasa “jalan-jalan” sore dengan sepur kelinci. Mulai dari Tawangsari hingga kawasan Batu Seribu dengan tarif Rp 5.000 tiap penumpang. Tak heran ia banting setir dari supir truk menjadi supir sepur kelinci.

“Ya, dua tahun ini nyopir sepur kelinci. Lumayanlah, lebih aman, nggak capek dan lebih menghasilkan dari carteran. Dari jalan-jalan sore kalau nggak hujan ya setiap hari bisa dapat Rp 200.000,” katanya.

Ferry mengaku belum pernah kena sanksi ketika mengoperasikan kendaraan roda enam miliknya. Jalan-jalan tikus dihafalnya demi menghindari jalan raya. “Alhamdulillah tidak pernah ketilang, paling masuk jalan raya cuma pas nyebrang,” katanya.

Baca Juga :  Tujuh Tahun Jalan Slamet Riyadi Jadi Arena Solo Car Free Day

Menurut Ferry, sepur kelinci telah menjadi primadona warga desa. Setiap sore pasti sudah ada warga yang menunggu di tepi jalan untuk menikmati sore hari melaju bersama sepur kelinci miliknya.

Tak heran peluang ini juga diambil oleh warga lainnya untuk  turut mengoperasikan sepur kelinci. Bahkan menurut Ferry persaingan harga juga terjadi antar pemilik sepur kelinci.

“Sebenranya sudah ada kesepakatan harga, misalnya kalau carteran sekitar Tawangsari saja Rp 200.000, tapi ada juga yang mau di bawah itu, akhirnya ya jlog-jlogan tarif,” tandasnya.

1
2
3
4
BAGIKAN