JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Nasional Soal Persebaran Berita Hoax, Ternyata Topik Politik Bukan yang Terbanyak

Soal Persebaran Berita Hoax, Ternyata Topik Politik Bukan yang Terbanyak

46
BAGIKAN
Para pengunjung Solo Car Free Day (CFD) turut berpartisipasi dalam gerakan melawan penyebaran berita hoax. Gerakan dengan slogan “Turn Back Hoax” digelar di di bilangan Jalan Slamet Riyadi, Solo, Minggu (8/1/2017). Foto : Insan Dipo Ferias

JAKARTA – Belakangan ini informasi palsu alias hoax banyak betebaran. Utamanya saat Pilkada DKI Jakarta berlangsung dari putaran pertama hingga putaran kedua. Namun ternyata, persebaran berita hoax tentang informasi politik bukan yang tertinggi.

Dari penelitian yang dilakukan Sekretaris Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Wina Armada Sukardi, hoax yang paling banyak tersebar adalah informasi kesehatan.

“Hoax nomor satu terbanyak adalah bidang kesehatan dan berita ini cenderung diteruskan karena masyarakat kurang informasi mengenai hal tersebut,” kata dia saat dijumpai di World Press Freedom Day di Jakarta, Senin (1/5/2017).

Dia mengatakan sebesar 27 persen dari sekitar seribu berita hoax yang dijadikan sampel sejak Februari 2016 hingga Februari 2017 adalah berita kesehatan.

Menurut Wina, para penyebar berita hoax kesehatan ini biasanya melakukannya secara tidak sengaja karena merasa informasi tersebut bermanfaat dan harus segera diberitahukan kepada orang lain.

“Penyebar biasanya merasa berita yang mereka terima itu benar menurut logika mereka, mereka tidak punya berniat buruk untuk menyebar berita tersebut,” kata dia.

Ada beberapa ciri berita yang tersebar merupakan berita palsu antara lainnya menggunakan judul berita sensasional, menggunakan kata-kata provokatif seperti “Lawan” atau “Sebarkan”.

Sumber yang dimuat dalam berita hoax biasanya juga tidak jelas.

“Misalnya dalam berita itu ditulis penelitian dilakukan dokter dari Amerika, tetapi tidak tahu dokter siapa yang meneliti obat tersebut,” kata dia.

Sementara itu di posisi kedua berita hoax terbanyak adalah tentang politik sebanyak 22 persen dan berita hiburan sekitar 15 persen, sisanya berita mengenai persaingan bisnis dan lainnya.

Wina mengatakan pada awalnya berita hiburan menempati posisi kedua hoax terbanyak, namun setelah ada perseteruan Pilkada DKI antara petahana Basuk Tjahaja Purnama dengan calon gubernur Anies Baswedan, maka hoax bermuatan politik menempati posisi kedua.

Penelitian dilakukan dengan metodologi kombinasi kualitatif dan kuantitatif, dengan memeriksa apakah berita yang beredar berita benar atau tidak dan memewancarai penyebar berita hoax.

Antara