Susahnya Parkir di Pasar Klewer

Susahnya Parkir di Pasar Klewer

426
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
PARKIR KLEWER- Petugas Dishub Surakarta memandu mobil yang kesulitan menanjak di ruas tanjakan area parkir Pasar Klewer beberapa waktu lalu.

Arus lalu lintas Pasar Klewer, Solo tampak lengang. Tak satu pun mobil dan motor parkir di depan pasar yang diresmikan 21 April lalu itu.

Penggembokan puluhan motor dan satu kendaraan roda empat pekan lalu seolah memberikan efek jera. Namun demikian, penataan lalu lintas dan perparkiran Pasar Klewer dinilai belumlah memuaskan.

Arini (25), warga Tawangsari, Sukoharjo, mengaku pangling dengan Pasar Klewer yang baru. Saat hendak memarkir motornya di depan pasar, ia mengaku ditegur oleh tukang becak. Ia mendengar motornya bakal digembok jika nekat parkir di depan pasar.

“Saya disuruh parkir di dalam, tapi saya nggak tahu tempatnya. Ya wis parkir di area parkir masjid, padahal di situ sempit banget,” katanya belum lama ini.

Menurut Arini, seharusnya ada petugas yang mengarahkan dan menunjukkan lokasi parkir Pasar Klewer agar tidak menyalahi aturan.

Pasalnya, Pasar Klewer baru saja diresmikan, sehingga masih banyak pengunjung yang belum tahu seperti dirinya. “Kalau sebentar-bentar digembok, apa ya nggak bikin kapok ke Klewer malahan,” imbuhnya.

Lain halnya dengan Nur Yahya (42), pengunjung Pasar Klewer asal Sidoarjo, Jawa Timur. Ia mengaku kesulitan saat menuruni basement dengan mobil yang dikendarainya.

Ruang untuk bermanuver terlalu sempit, bahkan cukup curam. Menurutnya, jika tak berhati-hati mobil bisa menyodok tembok, atau menyenggol kendaraan di belakangnya.

“Dua kali saya parkir di sini, mau parkir susah, mau keluar juga susah. Terlalu curam dan sempit, harus atret (berjalan mundr) dulu, kalau ada kendaraan di belakangannya bisa kesodok,” ujarnya.

Sebenarnya, Yahya mengaku hendak parkir di depan pasar. Namun, ia mendengar dari para pedagang jika nekat parkir akan digembok.

Baca Juga :  17 PKL Minta Balik Selter Sriwedari

Ia pun disarankan untuk parkir di basement. Namun setelah menyusuri basement, ternyata membutuhkan kehati-hatian. “Sepertinya dulu salah desain atau kurang perhitungan,” imbuhnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh pengunjung Pasar Klewer lainnya, Dani. Ia meminta Pemkot Surakarta melakukan sentralisasi parkir. Pasalnya, lokasi parkir motor dan mobil saat ini dinilai terlalu dekat.

Menurutnya, tempat parkir Pasar Klewer yang terpusat di lantai basement mengalami beberapa permasalahan selain dari segi bangunan. Misalnya, pintu masuk menuju basement yang dinilai curam dan membahayakan pengunjung.

“Lahan parkir basement tempat untuk berbeloknya mobil terlalu pendek, minimnya rambu- rambu dan pemandu parkir membuat kita selaku pengemudi bingung,” ujar Dani.

Sementara itu, suara pro dan kontra tentang penataan parkir juga datang dari para pedagang. Herry (40), pedagang asal Sragen, mengaku memilih parkir di Masjid Agung meski dikenai tarif dua kali lipat daripada di basement. Menurunya parkir di basement tidak praktis, terlebih akses keluar masuk basement cukup curam.

“Ya sekarang kalau mau ke masjid, ambil barang nggak praktis kalau naik turun ke basement. Kalau parkir di masjid kan cepet,” katanya.

Berbeda dengan Yatno (46), pedagang asal Klaten. Ia bersyukur arus lalu lintas Pasar Klewer lebih lancar. Tarif parkir juga dinilai lebih murah, yakni Rp 1.000 untuk sepeda motor dan Rp 4.000 untuk mobil.

Hal itu diharapkan berdampak pada kunjungan pembeli ke Pasar Klewer, meskipun diakuinya hingga saat ini kiosnya masih sepi. “Ya lebih bagus sih, parkirnya lumayan murah, mudah-mudahan pembeli semakin tertarik ke Klewer,” katanya.

Pengurus Himpunan Pedagang Pasar Klewer, Tafif mengatakan, rekayasa lalu lintas kawasan Pasar Klewer masih perlu dievaluasi, terutama saat menjelang pasar tutup.

Baca Juga :  Lagi-lagi Indekos “Bebas” Bikin Resah Warga Jebres

Sebab sering kali terjadi kemacetan baik menuju Jalan Hasyim Asy’ari maupun menuju Coyodan. Ironisnya tidak ada petugas Dishub maupun polisi yang mengatur arus lalu lintas.

“Rekayasa lalu lintas masih harus dievaluasi, sebab sering terjadi kemacetan kalau sore hari. Kalau siang lumayan sudah lengang,” katanya.

Lanjutnya, pemanfaatan basement untuk parkir belum optimal. Masih banyak pembeli yang belum membawa kendaraannya hingga ke basement.

Ia menduga sejumlah pembeli kapok parkir di basement, lantaran turunan ataupun tanjakan baik menuju maupun keluar basement terlalu curam.

Di sisi lain, Tafif tidak jarang melihat ada aktivitas bongkar muat di depan Pasar Klewer. Menurutnya, hal itu dapat memancing munculnya parkir sembarangan yang berdampak pada kemacetan.

Ia berharap petugas tidak membiarkan kondisi tersebut. “Sebaiknya di depan itu hanya jalur untuk antrean menuju basement, sehingga tidak menimbulkan kemacetan,” pangkasnya.

Di tempat lain, Kepala Dinas Perdagangan Surakarta Subagiyo mengatakan, untuk sementara waktu parkir Pasar Klewer dikelola oleh Dinas Perhubungan (Dishub).

Selain basement setidaknya ada tiga lahan parkir dalam rangka memenuhi kebutuhan parkir pedagang dan pembeli. “Pembuatan basement itu upaya kita memperbaiki parkir yang dulu tersebar di mana-mana,” katanya.

Pihaknya masih melakukan kajian untuk menyediakan fasilitas parkir yang representatif. Pasalnya, parkir dinilai sangat berdampak pada kepuasan pengunjung yang datang Pasar Klewer.

Subagiyo mengimbau para pedagang untuk sebisa mungkin tidak memarkirkan kendaraannya di basement, agar area tersebut dipakai oleh pembeli.

“Kami harap paguyuban turut mengatur pedagang. Di Klewer sudah ada 2.670 pedagang, kalau semua bawa sepeda motor dan mobil tentu tidak muat,” tandasnya.

Arief Setiyanto | Kukuh Subekti

BAGIKAN