Bulan Ramadan, Memupuk Keimanan, Melatih Rasa Solidaritas

Bulan Ramadan, Memupuk Keimanan, Melatih Rasa Solidaritas

9
PERSIAPAN-Suasana persiapan memasak makanan berbuka (takjil) yang akan dibagikan kepada masyarakat oleh mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Kegiatan ini menjadi salah satu cara menumbuhkan rasa kesetiakawanan. Foto : Dok UIN Sunan Kalijaga

Bulan Ramadhan terasa sangat berbeda dibanding dengan bulan-bulan lainnya. Bulan ini menjadi bulan pengampunan dan penuh rahmat, sehingga banyak dimanfaatkan kaum muslim untuk meningkatkan ibadah dan amal kebaikan.

Dalam perbuatan keseharian pun akan terasa berbeda pada bulan Ramadan ini, salah satunya adalah bertambahnya rasa kesetiakawanan dan solidaritas sesama teman. Baik antar mahasiswa di lingkungan kampus maupun di masyarakat. Seperti mengingatkan untuk beribadah salat, dan berpuasa.

Menurut Dr. Yayan Suryana, M.Ag selaku Dosen Mata Kuliah Tauhid UIN Sunan Kalijaga, dilihat dari aspek normatif keagamaan, puasa atau Ramadan sendiri dapat melahirkan suasana yang berbeda dari bulan-bulan yang lain.

Puasa  bisa melahirkan rasa solidaritas terhadap orang lain. Tidak hanya persoalan makan bersama saja, biasanya mahasiswa atau anak-anak rantau pasti memikirkan bagaimana menjalankan puasa atau Ramadan ini jauh dari keluarga, bagaimana nanti makan sahur dan segala macamnya.

Hal yang mendasari rasa kesetiakawanan mahasiswa adalah komitmen untuk saling mengingatkan antar teman, “Karena komitmen saling mengingatkan itu sangat susah. Tetapi mahasiswa terutama anak-anak rantau memandang saling mengingatkan bukan soal makan, tetapi juga didorong oleh rasa keinginan untuk menjalankan kewajiban agama sebagai seorang muslim. Jadi makan sahur atau makan berbuka bukan hanya melihat hasrat fisiknya saja. Tetapi melihat kereligiusitas dalam melaksanakan ibadah berpuasa, dan untuk saling mengingatkan untuk berpuasa,” ujar Yayan.

Baca Juga :  Meriahnya Ratusan Siswa Ikuti Literasi Bersama Joglosemar di SMPN 1 Masaran Sragen

Dalam penerapannya bisa diamati salah satunya karena umat Islam itu paling perhatian dalam berpuasa dibandingkan dengan ibadah yang lain.

Dalam ibadah salat misalnya, jarang di antara kita mengingatkan teman kita sendiri untuk mendirikan salat atau bahkan hanya sekadar menanyakan “Mengapa kamu tidak salat?”. Namun ketika puasa, jika ada di antara kita tidak berpuasa pasti kita langsung menanyakan “mengapa kamu tidak berpuasa dan lainnya, jika terlihat mereka sedang makan dan minum di siang hari.

Imbuh Yayan, Ramadan ini bukan hanya persoalan makan dan minum saja seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, namun juga persoalan ibadah.

Rasa solidaritas itu meningkat karena dalam bulan Ramadan ini apapun yang kita lakukan dalam konteks kebaikan dan menolong bersama dapat memberikan kita pahala yang berlipat-lipat dan bernilai ibadah untuk kita. Tetapi sangat disayangkan jika rasa solidaritas itu nantinya akan cenderung menghilang ketika sudah memasuki bulan-bulan seperti biasa.

Berkaitan dengan kesetiakawanan, hubungan tersebut akan semakin erat dan solid jika sesama mahasiswa merasa saling membutuhkan, menjalin kerja sama hingga saling tolong menolong. Dari pengalaman tersebut akan membangun timbal balik yang positif antar mahasiswa.

“Karena pada dasarnya, orang berinteraksi karena tujuan yang sama, atau terjadi timbal balik yang positif. Tidak mungkin orang bisa setia kawan kalau tidak memiliki kesamaan, Entah dalam bentuk apapun itu. Tidak mungkin kalau sama sekali tidak punya kesamaan. Misalnya antar mahasiswa rantau, sama-sama di tempat asing,” ujar Tri Widodo Ustaz PP Wahid Hasyim. Setidaknya hal tersebut menjadi perhatian Ustaz Tri Widodo  dari murid-muridnya di pondok pesantren.

Baca Juga :  Pameran Tugas Akhir Wisudawan FSRD ISI Surakarta: Suguhkan Karya Berbasis Budaya Lokal dan Industri Kreatif

Senada, Marlina Catur mahasiswi UIN Sunan Kalijaga mengungkapkan munculnya atau bertambahnya rasa kesetiakawanan tersebut dikarenakan banyaknya intensitas pertemuan di antara mereka.

“Ya kesetiakawan itu muncul karena sering ketemu, mungkin dulu ketemu juga jarang soalnya sibuk sama urusan kuliah masing-masing. Tapi kalau Ramadan banyak kegiatan di masjid, jadi sering ketemunya,” tutur mahasiswi yang akrab dipanggil Lina tersebut.

Meningkatnya solidaritas dan kesetiakawanan termasuk ketika bahu membahu menyiapkan atau membagikan takjil berbuka puasa memang bentuk sikap yang positif. Hal tersebut sangat terlihat di bulan Ramadan daripada bulan lain.

Alangkah baiknya jika hal ini tetap berlanjut walaupun Ramadan sudah berlalu. Tetap saling mengingatkan kebaikan sesama teman, saling menasehati dan tolong menolong.

Tim 2 Akademia UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Pemred : Arif Nur Aziz | Redpel : Fathoni Ashari | Reporter : Venty Erla Erwanda, Fina Rudati | Ilustrator : Faza Aulia

BAGIKAN