Melihat Asyiknya Santri Ponpes Singo Ludiro Mojolaban Mainkan Bola Api

Melihat Asyiknya Santri Ponpes Singo Ludiro Mojolaban Mainkan Bola Api

84
Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
SEPAK BOLA API – Santri Pondok Pesantren Singoludiro, Mojolaban, Sukoharjo, bermain sepak bola api di pondok pesantren setempat, Selasa (13/6) malam. Kegiatan tersebut digelar untuk memeriahkan Ramadhan 1438 Hijriyah.

Sepakbola menjadi salah satu olahraga favorit masyarakat. Namun bagaimana jika sepakbola disajikan dengan bola api? Tentu sangat menakutkan. Namun tidak bagi santri-santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Singo Ludiro, Mojolaban, Sukoharjo.

Tepat di malam ke-18 puasa, Selasa (13/6/2017), santri-santri Ponpes Singo Ludiro mempertontonkan permainan sepakbola api.

Menggunakan bola dari sabut kelapa dilapisi kain dan dibakar, mereka bermain dengan raut muka gembira.

Tanpa rasa takut, tanpa rasa khawatir dan tanpa waswas, mereka menendang bola api, mengoper dan mengegolkannya ke gawang lawan.

Bukan tanpa persiapan, permainan sepakbola api diawali dengan “ritual” penting yang berbau keagamaan.

Baca Juga :  Solo Batik Carnival ke-10, Walikota Pakai Kostum Jatayu Seberat Lima Kilogram

“Yaitu merendam kaki dengan air asma’. Sebagai simbol bahwa ada kekuatan lain yang melindungi mereka. Para santri bermain dengan penuh keberanian,” kata pimpinan Ponpes Singo Ludiro, Agung Syuhada di sela-sela acara permainan bola api.

Bertempat di halaman ponpes setempat, tampak para santri begitu menikmati setiap lemparan bola api dari lawan.

Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
SEPAK BOLA API – Santri Pondok Pesantren Singoludiro, Mojolaban, Sukoharjo, bermain sepak bola api di pondok pesantren setempat, Selasa (13/6) malam. Kegiatan tersebut digelar untuk memeriahkan Ramadhan 1438 Hijriyah.

Tidak ada suasana kompetisi dan permusuhan, mereka terlihat bersenang-senang dan mengasah kekompakan.

“Memang dilatih untuk berani dan kompak. Di era sekarang ini mereka harus tetap menjaga kekompakan dan keberanian. Selain itu, mengutamakan perilaku berdasarkan keagamaan,” imbuh Agung.

Baca Juga :  Banjir Prestasi, Posyandu di Sukoharjo Dibantu Rp 7,3 Miliar

Salah satu peserta sepakbola api, M Abdul Hamid menuturkan, pengalamannya memainkan si kulit bundar berbalut api tersebut sangatlah menyenangkan. Wajahnya tampak ceria dan tidak ada raut muka kesakitan sedikit pun.

“Menyenangkan. Semua sudah biasa. Tidak perlu persiapan khusus, hanya butuh keberanian. Kami memainkannya dengan teknik layaknya seperti memainkan bola biasa. Tapi ini lebih asyik dari sepakbola biasa,” pungkasnya.

Triawati Prihatsari Purwanto

Advertisements
BAGIKAN